Populasi mamalia, burung, amfibi, reptil dan ikan di seluruh dunia terus turun rata-rata 68% dalam waktu kurang dari 50 tahun (1970-2016).

Hal ini terkuak dalam “Living Planet Report 2020,” yang dirilis bersama antara World Wildlife Fund (WWF) dan Zoological Society of London (ZSL), Rabu, 9 September 2020.

Deforestasi, pola pertanian yang tidak ramah lingkungan, perdagangan tumbuhan dan satwa liar ilegal – yang juga memicu pandemi Covid-19 – menjadi penyebabnya.

“Living Planet Report 2020” melacak secara komprehensif kondisi alam dunia menggunakan indikator bernama Living Planet Index (LPI), yang menunjukkan kelimpahan hidupan liar hasil kontribusi lebih dari 125 ahli di seluruh dunia.

LPI melacak 21.000 populasi spesies yang terdiri dari populasi 4000 hewan bertulang belakang (vertebrata) termasuk populasi hidupan liar air tawar yang mengalami penurunan rata-rata tertinggi yaitu 84% atau 4% per tahun sejak 1970.

Dr Andrew Terry, Direktur Konservasi ZSL menyatakan, penurunan rata-rata populasi hidupan liar sebesar 68% dalam 50 tahun terakhir adalah sebuah bencana dan bukti nyata kerusakan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia.

“Jika tidak ada perubahan, penurunan populasi hidupan liar akan terus berlanjut menuju kepunahan, mengancam kelestarian ekosistem (ecosystem integrity),” tutur Andrew.

Solusi tersedia. Tekad yang kuat menjadi kunci untuk membalikkan tren kerusakan lingkungan akibat perilaku manusia ini. Caranya, pertama dengan melakukan upaya konservasi yang lebih ambisius dan mengubah cara manusia menghasilkan pangan secara lebih ramah lingkungan.

Cara kedua, dunia dituntut untuk melakukan perdagangan secara lebih efisien dan berkelanjutan secara ekologis. Perilaku para pedagang dan spekulan menimbun pangan dan mempermainkan harga pangan memberikan tekanan pada produksi pangan yang tidak perlu.

Cara ketiga adalah dengan mengurangi limbah makanan dan beralih ke bahan pangan yang lebih sehat dan tidak merusak lingkungan. Sehingga solusi ini tidak hanya menuntut korporasi namun juga bisa dimulai dari individu untuk melakukan perubahan perilaku, demi bumi yang lebih sehat dan lestari.

Peringatan, himbauan, ajakan yang dilandasi ilmu pengetahuan, riset dan inovasi terus disuarakan. Laporan “Living Planet” mengingatkan, jika dunia hanya melakukan aksi “business as usual” kerusakan dan kepunahan keanekaragaman hayati akan terus terjadi.

Nana Firman, The Climate Leader asal Indonesia yang saat ini bermukim di Amerika Serikat mengatakan, alam adalah makhluk ciptaan Tuhan dan menjadi tanda-tanda (arti ayat dalam bahasa Arab) kekuasaan-Nya di muka bumi.

“Bagi seorang muslim, merusak alam, hingga memicu kepunahan berarti merusak ciptaan-Nya dan mengingkari ayat-ayat Tuhan,” tuturnya dalam penutupan Climate Reality Leadership Corps Global Training 2020, 3 September 2020. Jika kerusakan terus terjadi, maka, nikmat Tuhan manakah yang kau ingkari?

Redaksi Hijauku.com