Degradasi hutan dan lahan menjadi salah satu masalah lingkungan terbesar di dunia. Manusia terus merusak hutan dan lahan, menghilangkan aset keanekaragaman hayati, menurunkan produktivitas hampir seperempat luas daratan dunia.

Sebanyak 3,2 miliar penduduk dunia menjadi korban kerusakan lingkungan ini. Nilai kerugian yang diderita negara-negara dunia – akibat menurunnya produktivitas dan bencana akibat kerusakan lingkungan – mencapai 10% dari produk domestik bruto global yang saat ini diperkirakan mencapai US$80,27 triliun.

Temuan ini disampaikan dalam laporan teknis terbaru UNCCD (United Nations Convention to Combat Desertification) berjudul Land Degradation Neutrality for Biodiversity Conservation: How healthy land safeguards nature yang diterbitkan baru-baru ini.

Pemicu kerusakan lingkungan menurut UNCCD adalah alih guna lahan, kerusakan habitat dan faktor-faktor lain. Semua faktor ini memicu reaksi berantai. Kerusakan dan alih guna hutan dan lahan turut merusak habitat tumbuhan dan satwa liar, memicu kepunahan tumbuhan dan satwa liar serta konflik manusia dan satwa liar. Konflik antara manusia dan harimau di Riau dan berbagai wilayah Sumatra yang terus berulang adalah contohnya.

Rata-rata kelimpahan spesies asli di sebagian besar habitat daratan utama dunia telah turun setidaknya 20% dan sebanyak 1 juta spesies terancam punah dan sebagian besar target keanekaragaman hayati 2020 tidak akan tercapai jika laju perusakan hutan dan lahan tidak dikurangi dan dihentikan. Setidaknya 680 spesies vertebrata (hewan bertulang belakang) telah punah sejak ada ke-16.

Dampak lain yang tidak kalah penting, kerusakan hutan dan lahan menyumbang 23% total emisi gas rumah kaca (GRK) hasil aktivitas manusia (total anthropogenic greenhouse gas emissions). Peningkatan emisi GRK memicu perubahan iklim dan pemanasan global, mendorong kerusakan lingkungan yang lebih masif dalam skala global.

Menurut laporan ini, solusinya tidak lain adalah kembali memperkuat komitmen untuk merestorasi hutan dan lahan yang terdegradasi pada saat yang sama juga meningkatkan perlindungan (konservasi) atas hutan dan lahan yang tersisa. “Sepertiga solusi dari krisis iklim bisa dihasilkan melalui restorasi, konservasi dan aksi tata guna lahan yang lain,” tegas laporan ini.

Redaksi Hijauku.com