Risiko banjir di kota-kota dunia terus meningkat. Wilayah yang dihuni 200 juta penduduk dunia akan terendam banjir secara permanen pada tahun 2100 akibat perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut. Sebanyak 300 juta penduduk dunia akan terdampak bencana banjir yang semakin sering di 2050.

Hal ini terungkap dari analisis terbaru Climate Central menggunakan metode CoastalDEM yang memanfaatkan lebih dari 51 juta sampel data. Analisis CoastalDEM dianggap lebih akurat dari Shuttle Radar Topography Mission atau SRTM milik NASA.

Data SRTM memiliki kecenderungan pengukuran permukaan bumi yang lebih tinggi, rata-rata 2 meter, di seluruh dunia. SRTM cenderung menghitung ujung pepohonan sebagai daratan. Sehingga, di wilayah pesisir, perkiraan permukaan daratan yang terlalu tinggi mengurangi potensi luas wilayah yang berisiko terendam banjir. Hal ini yang kemudian dikoreksi oleh CoastalDEM.

Analisis CoastalDEM memperkirakan, daratan China, Bangladesh, India, Vietnam, Indonesia, dan Thailand menjadi wilayah yang paling parah terendam banjir. Keenam negara ini menyumbang 75% dari 300 juta jumlah penduduk yang akan terendam banjir di 2050. Kondisi ini akan berdampak tidak hanya pada ekonomi namun juga kondisi politik negara.

Dalam perkiraan sebelumnya – menggunakan SRTM – akan ada 5 juta penduduk di Indonesia yang akan terendam banjir di 2050.  Hasil analisis CoastalDEM menemukan angka yang jauh lebih tinggi: jumlah penduduk yang akan terendam banjir di Indonesia naik hampir 5 kali lipat menjadi 23 juta di 2050.

Penyebabnya tidak lain adalah terus meningkatnya polusi gas rumah kaca yang memicu peningkatan suhu bumi, pemanasan global, yang mencairkan lapisan es dan gletser, meningkatkan volume air di samudra, memicu kenaikan permukaan air laut.

Risiko terbesar akan terjadi di wilayah-wilayah pesisir di Indonesia yang memiliki garis pantai 108.000 km, terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Dengan jumlah pulau yang mencapai 17.504 pulau, termasuk pulau-pulau kecil, seharusnya Indonesia lebih waspada terhadap ancaman kenaikan air laut.

Indonesia diharapkan juga beraksi – tidak hanya menyiapkan infrastruktur – namun juga melakukan aksi perubahan iklim: memangkas polusi gas rumah kaca penyebab krisis perubahan iklim dan pemanasan global.

Redaksi Hijauku.com