Andreas Kambanis - Classic Cyclist and Pedestrian Sign in London - FlickrPBB menyeru negara mengalokasikan 20% anggaran transportasi untuk infrastruktur transportasi aktif.

Infrastruktur transportasi aktif menyelamatkan nyawa, mengurangi risiko perubahan iklim. Transportasi aktif adalah transportasi yang mengandalkan pada kekuatan sendiri, seperti berjalan kaki, bersepeda, naik sepatu roda atau papan luncur, dan alat-alat tak bermesin lainnya.

Banyak kota dunia yang belum memiliki infrastruktur transportasi aktif ini. Jikalau tersedia, banyak yang masih hanya untuk ajang pencitraan saja. Trotoar rusak, sempit, dihuni oleh pedagang kaki lima. Fenomena mobil, motor yang parkir sembarangan di trotoar masih banyak dijumpai di Jakarta, Depok, Bekasi, Tangerang, Bogor dan sekitarnya. Jalur sepeda minim atau tidak ada sama sekali. Jikalau ada, pengguna jalur sepeda harus berjibaku dengan pengendara motor dan mobil yang mencuri jalur ini untuk kendaraan mereka. Penegakan hukum lemah, bahkan tidak ada.

Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa, 1,3 juta orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di dunia per tahun. Dari jumlah tersebut, 49% adalah pejalan kaki, pengendara sepeda dan motor. Malawi, Kenya, dan Afrika Selatan adalah negara yang paling berbahaya bagi pejalan kaki dan pesepeda.

Dari sisi lingkungan, polusi kendaraan bermotor menyumbang 23% polusi CO2 dunia. Transportasi adalah sektor dengan pertumbuhan polusi tercepat dan akan menyumbang sepertiga polusi CO2 pada 2050 dengan tingkat pertumbuhan saat ini. Buruknya kualitas udara yang dipicu salah satunya adalah polusi kendaraan bermotor memicu 7 juta kematian prematur setiap tahun menyebabkan berbagai macam penyakit seperti bronkhitis, asma, penyakit jantung dan kerusakan otak.

Dalam laporan yang berjudul “Global Outlook on Walking and Cycling”, program lingkungan PBB, UN Environment, menyeru pada semua negara untuk berinvestasi minimal 20% dari anggaran transportasi mereka untuk infrastruktur pejalan kaki dan pesepeda. Tujuannya tidak lain untuk menyelamatkan nyawa, membalik serta mengurangi emisi karbon penyebab perubahan iklim dan pemanasan global.

“Setiap hari masyarakat menyabung nyawa saat meninggalkan rumah mereka,” ujar Erik Solheim, yang memimpin UN Environment, sebagaimana dikutip dalam siaran pers PBB. Investasi di sistem transportasi aktif, menurut Erik, menempatkan manusia – bukan mobil – sebagai pertimbangan utama. Investasi transportasi yang hanya memikirkan mobil, hanya akan menambah jumlah mobil di jalanan.

Laporan ini meneliti infrastruktur transportasi aktif di 20 negara menenggah dan miskin di Afrika, Asia dan Amerika Latin yang – jika dibandingkan dengan negara-negara maju – jumlah kematian akibat kecelakaan lalu lintas dua kali lipat lebih banyak.

Di Malawi misalnya 66% korban kecelakaan lalu lintas adalah pejalan kaki dan pesepeda. Di Kenya jumlahnya mencapai 61%; Afrika Selatan 53%; Zambia 49%; dan di Nepal 49%. Bagaimana dengan Indonesia? Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) terbaru, Global Status Report on Road Safety, dari 38.279 korban kecelakaan lalu lintas yang meninggal (dari hasil perkiraan WHO), sebanyak 59% adalah pengendara motor, pejalan kaki dan pesepeda.

Dalam sepuluh tahun ke depan, PBB memrediksi jumlah korban kecelakaan lalu lintas akan bertambah 13 juta – setara dengan jumlah penduduk Belgia – jika dunia tidak mulai berinvestasi dalam sistem transportasi aktif.

Untuk itu, PBB menyeru negara-negara dunia untuk: pertama, merancang kebijakan dalam skala lokal dan nasional terkait sistem transportasi aktif dan jika sudah ada menerapkannya dengan sungguh-sungguh; kedua, meningkatkan anggaran untuk infrastruktur bagi pesepeda dan pejalan kaki, minimal 20% dari anggaran transportasi publik; ketiga, melakukan kampanye transportasi aktif dan berfokus memberikan fasilitas transportasi aktif kepada anak-anak, warga lanjut usia dan penyandang disabilitas.

Redaksi Hijauku.com