Parent's day at Eirfan's Kindergarten - Emran KassimDiperlukan proses edukasi yang terintegrasi untuk membalikkan dampak perubahan iklim. Edukasi juga diperlukan untuk mengatasi krisis lingkungan baik dalam skala lokal maupun global. Kesimpulan tersebut terungkap dalam laporan terbaru Global Education Monitoring (GEM) yang disusun oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Menurut laporan UNESCO, ada tiga pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran lingkungan dan perubahan iklim. Pendekatan pertama adalah pembelajaran formal di sekolah; kedua adalah pembelajaran informal di komunitas dan yang ketiga adalah integrasi berbagai tipe edukasi yang memungkinkan kolaborasi dari berbagai sektor.

Harapannya, ketiga tipe edukasi yang dilaksanakan bisa memicu aksi untuk mengatasi perubahan iklim, melakukan aksi mitigasi dan persiapan jika terjadi bencana.

Banyak temuan menarik mengenai edukasi lingkungan dalam laporan ini. Menurut laporan GEM, edukasi lingkungan mampu meningkatkan pengetahuan hijau. Dari kajian kurikulum ditemukan, sebanyak 73% dari 78 negara menyebut terminologi “pembangunan berkelanjutan” dalam kurikulumnya. Namun baru 55% menyebut terminologi “ekologi” dan 47% menyebut terminologi “pendidikan lingkungan”.

Peran edukasi juga penting dalam memersiapkan masyarakat menghadapi bencana. Tanpa ada upaya edukasi, kematian yang dipicu oleh bencana, menurut laporan GEM, bisa meningkat sebanyak 20% setiap dekade.

Pembelajaran gaya hidup ramah lingkungan juga bisa mengambil pelajaran dari masyarakat adat dan kearifan lokal mereka dalam mengelola lingkungan. Sehingga edukasi lingkungan harus menghormati budaya lokal dan bermacam sistem pengetahuan yang ada. Pola pembelajaran harus dilakukan dalam bahasa lokal.

Dampaknya luar biasa. Menurut laporan GEM, edukasi bisa meningkatkan produktivitas pertanian. Produksi pertanian harus naik setidaknya 70% pada 2050 guna memenuhi kebutuhan pangan dunia. Sekolah lapang dan pendidikan/pelatihan tambahan akan mampu meningkatkan produktivitas petani hingga 12% dan pendapatan bersih petani hingga 19%.

Edukasi juga mampu meningkatkan keahlian dalam melakukan inovasi hijau, membuka wawasan baru yang memungkinkan seseorang menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Edukasi adalah jalan bagi mereka yang tidak memiliki aset untuk memeroleh pendapatan, menggurangi kemiskinan. Pendidikan pasca sekolah menengah (tertiary education) di 10 anggota Uni Eropa menurut laporan GEM bisa mengurangi risiko kemiskinan sebanyak 3,7 juta jiwa.

Redaksi Hijauku.com