Polusi udara mencabut jutaan nyawa per tahun, risiko yang seharusnya bisa dicegah. Pernyataan tegas ini tercantum dalam resolusi Sidang Kesehatan Dunia (World Health Assembly) ke-68 yang berlangsung di Paris, Rabu, 27 Mei.

Resolusi ini menyatakan polusi udara dalam ruang (indoor) bertanggung jawab atas 4,3 juta kematian per tahun dan polusi udara luar ruang mencabut 3,7 nyawa per tahun.

Resolusi ini juga memberikan sejumlah solusi guna mengurangi dampak mematikan
dari polusi udara. Berita Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menyebutkan, solusi pertama adalah meminta lembaga-lembaga kesehatan meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya polusi udara.

Solusi kedua adalah membuat panduan batas polusi udara. Solusi ketiga menggalang
kerja sama dengan lembaga swasta maupun publik guna menciptakan solusi yang
berkelanjutan. Solusi keempat melakukan pengawasan polusi udara termasuk
memonitor dampak polusi udara terhadap kematian (mortality) atau kesehatan
(morbidity) penduduk.

Solusi terakhir memerkuat kerja sama internasional guna mengatasi dampak polusi
udara melalui transfer pengetahuan, teknologi, praktik-praktik terbaik dan
data-data ilmiah terkait polusi udara.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diminta untuk meningkatkan keahliannya di
bidang polusi udara serta memberi panduan dan dukungan kepada negara-negara
anggota guna menerapkan standar kualitas udara dari WHO.

Resolusi ini juga memerkuat komitmen WHO dalam mengatasi masalah-masalah
kesehatan yang terkait dengan perubahan iklim. Polusi udara, kesehatan dan
perubahan iklim adalah tiga isu yang saling terkait.

Menurut Tine Sundtoft, Menteri Lingkungan Hidup dan Iklim Norwegia, yang memimpin sidang tingkat tinggi Climate and Clean Air Coalition (CCAC), jika dunia mampu mengurangi polusi iklim jangka pendek, tidak hanya jutaan nyawa yang bisa diselamatkan, kenaikan suhu bumi juga bisa dikurangi hingga 0,6 derajat Celcius pada 2050 – kontribusi penting bagi upaya pencegahan kenaikan suhu bumi hingga 2 derajat Celcius pada 2050.

Polusi jangka pendek didominasi oleh unsur karbon hitam, HFC dan metana. Karbon hitam merupakan partikel-partikel halus yang masuk dalam kategori PM2,5 atau
benda-benda partikulat dengan ukuran hingga 2,5 mikron. Paparan polutan PM2,5
berdampak besar pada kesehatan memicu kematian prematur yang angkanya sudah
disebutkan di atas.

Polutan karbon hitam adalah hasil dari pembakaran bahan bakar disel/solar, batu
bara, kayu dan biomassa yang memicu penyakit kardiovaskular, stroke, pneumonia,
kanker paru-paru dan gangguan pernafasan yang lain.

Karbon hitam menyerap cahaya dan memancarkannya kembali sebagai panas di
atmosfer sehingga lebih berbahaya dibanding CO2 dalam memicu pemanasan global
dan perubahan iklim. Data terbaru dari UNEP menyebutkan bahwa karbon hitam
menyumbang 20% efek pemanasan global menjadikannya sumber terbesar kedua setelah
CO2.

Menurut data CCAC, jika suatu negara mampu mengurangi polusi udara antara 20-30%
per tahun, negara tersebut akan bisa mengurangi 25.000 kasus kunjungan ke rumah
sakit dan mencegah 270 kematian prematur.

Redaksi Hijauku.com