E waste - Wikimedia Commons - LaburpenaSebanyak 60-90% dari sampah elektronik terus dibuang dan diperdagangkan secara ilegal. International Criminal Police Organization (INTERPOL) memerkirakan, harga sampah elektronik per ton-nya mencapai US$500. Berpatokan pada angka tersebut, nilai sampah elektronik yang diperdagangkan, dibuang dan dikelola secara informal mencapai US$12,5- US$18.8 miliar per tahun.

Hal ini terungkap dalam laporan UNEP berjudul “Waste Crimes, Waste Risks: Gaps and Challenges In the Waste Sector”, yang diluncurkan Selasa, 12 Mei di Jenewa.

Saat ini kota-kota di Eropa dan Amerika adalah produsen terbesar sampah elektronik, walau kota-kota di Asia terus mengejar. Ekspor limbah berbahaya dari Uni Eropa dan negara-negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) ke luar wilayah tersebut dilarang.

Namun modus baru untuk mengekspor sampah elektronik, menurut laporan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) telah teridentifikasi. Yaitu dengan memberikan label palsu sebagai produk elektronik bekas, baterai dan monitor-monitor bekas sebagai plastik atau metal.

Penyelundupan ini dilakukan dalam berbagai skala menggunakan truk dan kontainer melintasi benua Eropa dan wilayah Amerika Utara menuju lokasi-lokasi penyelundupan di Asia Selatan.

Afrika dan Asia menjadi dua tujuan utama terutama bagi penyelundupan dan pembuangan sampah elektronik skala besar. Ghana, Nigeria, Pantai Gading dan Kongo menjadi empat negara di Afrika Barat yang paling sering menjadi tujuan pembuangan sampah elektronik ilegal ini.

Sementara di Asia sampah elektronik banyak masuk melalui China, Hong Kong, Pakistan, India, Bangladesh, dan Vietnam. Kebijakan yang tidak konsisten antara negara eksportir dan importir – termasuk kerancuan klasifikasi limbah berbahaya atau beracun – menjadi masalah terbesar dalam memerangi perdagangan limbah ini.

Padahal jika ditangani secara benar, pasar limbah elektronik, limbah makanan dan limbah
perkotaan dunia bernilai US$410 miliar per tahun yang bisa menciptakan peluang dan lapangan kerja baru. Kesadaran dalam mengelola limbah dan regulasi limbah yang ketat bisa membantu mewujudkan perekonomian yang lebih bersih dan sehat.

Redaksi Hijauku.com