Perdagangan menjadi kunci peralihan menuju ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan.

Hal ini terungkap dalam buku baru yang disusun oleh Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) bersama dengan  International Institute for Sustainable Development (IISD). Buku ini diluncurkan Selasa, 28 April 2015.

Dalam buku yang berjudul “Trade and Green Economy Handbook” ini dinyatakan, nilai perdagangan dunia telah mencapai angka US$23,5 triliun pada 2013 atau sepertiga dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia.

Namun, indikator lingkungan global menunjukkan bahwa perdagangan dunia telah memberikan tekanan lebih pada lingkungan. Sejak 1971, emisi karbon dioksida – yang menjadi penyebab utama pemanasan global dan perubahan iklim – terus meningkat dengan skala mencapai 2% per tahun atau telah naik 117% secara keseluruhan hingga saat ini.

Batas aman konsentrasi CO2 di atmosfer yaitu 350 PPM (parts per million) telah terlampaui, bahkan saat ini tercatat telah melebihi 400 PPM. Keanekaragaman hayati dunia terus berkurang – telah berkurang 30% sejak 1970 – dengan tingkat kemusnahan spesies mencapai 1.000 hingga 10.000 kali lipat lebih cepat dibanding angka kemusnahan alamiah.

Mobil-mobil pribadi maupun angkutan umum serta penggunaan pestisida di sektor pertanian, telah menambah polusi nitrogen yang menciptakan zona-zona mati di danau maupun di laut. Sebanyak 57% sumber daya perikanan global telah dieksploitasi secara maksimal dan sebanyak 30% telah dieksploitasi di atas batas normal.

Jika tren ini berlanjut, maka, pada 2050, sebanyak 3,9 miliar penduduk bumi atau 40% dari total populasi dunia akan kekurangan pasokan air dengan ketersediaan kurang dari 1.000 liter air per orang per tahun. Sebanyak 3,4 juta penduduk dunia, terutama anak-anak, meninggal setiap tahun akibat buruknya sanitasi dan kurangnya akses ke air bersih.

Perdagangan mencerminkan dinamika dunia. Saat jumlah populasi global terus bertambah, upaya untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa juga terus meningkat. Dampaknya, emisi gas rumah kaca dari proses produksi yang tidak berkelanjutan dan eksploitasi lingkungan juga terus meningkat.

Populasi dunia telah naik tiga kali lipat dari tahun 1950 ke tahun 2013 menjadi 7,2 miliar. Pada 2050, jumlah penduduk bumi diperkirakan akan bertambah 2,4 miliar atau tumbuh sebanyak 25%. Permintaan pangan dunia juga akan berlipat ganda terutama permintaan atas daging dan susu. Produk Domestik Bruto dunia akan naik empat kali lipat pada 2050.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah kerusakan lingkungan yang lebih parah lagi. Diantaranya adalah dengan ditandatanganinya 13 perjanjian global – untuk menekan kerusakan lapisan ozon, perubahan iklim, menjaga keanekaragaman hayati, mengatur transportasi limbah berbahaya, migrasi spesies, dsb – oleh 70% negara-negara dunia.

Dalam skala nasional, regional dan internasional sekitar 3.000 kesepakatan telah diciptakan melibatkan berbagai aspek perdagangan global. Kesepakatan-kesepakatan tersebut termasuk insentif seperti denda polusi, pajak, sistem perdagangan emisi termasuk pendekatan yang spesifik antar sektor seperti FIT (feed-in tariff) atau skema penghitungan harga terbaik untuk energi terbarukan.

Namun pekerjaan rumah masih menumpuk. Negara-negara dunia – terutama negara berkembang seperti Indonesia – masih menghadapi berbagai masalah lingkungan seperti polusi udara dan air serta degradasi lahan.

Sungai-sungai kita masih terus tercemari oleh limbah industri dan rumah tangga. Sampah terus diproduksi dan masih belum tertangani. Pengunaan bahan bakar fosil masih mendominasi sistem energi dunia. Hutan alam masih terus ditebang. Alih guna lahan tak tertahankan.

Konsep ekonomi hijau memberikan kesempatan bagi semua negara untuk membalikkan tren polusi dan degradasi lingkungan ini melalui berbagai kebijakan dan insentif yang mendukung terciptanya keadilan sosial, pertumbungan ekonomi dan pola pembangunan yang berkelanjutan.

Hal ini bisa dicapai melalui pengendalian polusi, pelestarian dan penggunaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Buku “Perdagangan dan Ekonomi Hijau” bisa diunduh dalam tautan berikut ini: “Trade and Green Economy Handbook“.

Redaksi Hijauku.com