DSD Logo - I Trounce - WikipediaPastikan Anda mengetahui ciri-ciri generasi milenial sebelum menciptakan produk baru untuk mereka. “Jangan lihat bungkusnya, lihat saja isinya”. Ungkapan tersebut tak lagi berlaku bagi generasi masa kini yang dijuluki dengan generasi milenial.

Saat berbelanja, konsumen milenial tidak hanya menilai isi, namun juga semakin memertimbangkan bungkusnya. Jika dulu bungkus yang mewah jadi pertimbangan, saat ini generasi milenial lebih melihat pada bungkus yang simpel dan ramah lingkungan. Namun itu hanya salah satu kriteria bagi generasi ini dalam berbelanja.

Generasi milenial, siapa mereka? Menurut Stora Enso, perusahaan kemasan yang bermarkas di Helsinki dan Stockholm, generasi ini akan jadi kunci pertumbuhan laba dan penjualan produk-produk masa kini maupun masa mendatang.

Generasi milenial adalah kelompok konsumen yang memiliki karakteristik berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka adalah konsumen yang lahir antara tahun 1980 hingga 2000.

Konsumen milenial terbiasa berbelanja online. Dalam berbelanja mereka lebih mengedepankan nilai-nilai yang mereka yakini. Generasi ini juga terhubung dengan sosial media.

Generasi milenial, terutama yang berasal dari negara-negara maju di Eropa, memiliki gaya konsumsi yang “smart”, berusaha mengurangi sampah/limbah dan memilih produk yang bisa didaur ulang. Tidak hanya melihat kualitas produk, mereka juga melihat dampak keseluruhan dari produk tersebut terhadap lingkungan.

Kemasan menjadi salah satu bagian penting dari produk dan membawa dampak jangka panjang di rantai produksi barang, mulai dari desain, manufaktur, pengiriman hingga saat produk tersebut diterima di tangan konsumen. Pengalaman konsumen menilai suatu produk bisa dimulai dari sini.

Penelitian Stora Enso menunjukkan, generasi milenial lebih memilih kemasan produk berbasis serat (fibers) sehingga para produsen yang mampu “menangkap” nilai-nilai ini sedini mungkin akan mendapatkan loyalitas yang tinggi dari mereka.

Setelah generasi milineal berbelanja, sebanyak 70% akan merekomendasikan merek yang mereka beli melalui sosial media. Sebanyak 47% akan berbagi rekomendasi positif dan 39% akan berbagi pengalaman negatif. Produsen selayaknya mulai memerhatikan aspirasi mereka.

Redaksi Hijauku.com