Jakarta slumlife - Jonathan McIntoshKualitas hidup masyarakat perkotaan terus menurun. Jumlah penduduk yang tinggal di wilayah kumuh terus meningkat.

Pernahkah Anda berjalan kaki di sekitaran Bundaran Hotel Indonesia? Di balik hotel-hotel bintang lima dan pusat perbelanjaan mewah, terpapar kondisi kemiskinan yang nyata. Susuri gang di belakang hotel atau pusat perbelanjaan, Anda akan menjumpai lokasi pemukiman kumuh. Orang-orang tua berjualan membuka warung nasi atau kelontong. Anak-anak bermain di lingkungan yang kotor, selokan mampat, dengan fasilitas sanitasi yang tidak layak. Perhatikan anak-anak tersebut, gangguan kesehatan seperti penyakit kulit bisa diamati dengan nyata. Sampah berserakan…

Kondisi yang sama juga bisa dijumpai di sepanjang rel kereta menuju Jakarta Kota atau Tanah Abang. Sempatkan mata Anda untuk mengamati lingkungan sekitar. Rumah-rumah kumuh, bahkan bedeng-bedeng berdesakan. Dulu, waktu kereta ekonomi masih beroperasi, tidak jarang penumpang kereta merasakan guyuran air dari kamar mandi, karena sedemikian dekatnya rumah-rumah ini dengan jalur kereta.

Hari Senin lalu (6/10), dunia kembali memeringati World Habitat Day 2014. Dari data Perserikatan Bangsa-Bangsa terungkap, tidak hanya kualitas lingkungan dunia yang terus menurun, kualitas tempat tinggal kita, manusia juga terus memburuk. Seiring dengan laju pertumbuhan penduduk dan ekonomi, ada kelompok masyarakat yang terpinggirkan, bahkan ditinggalkan.

Berdasarkan data tahun 2012, sebanyak 863 juta penduduk dunia tinggal di wilayah kumuh (slums). Jumlah ini terus meningkat, dari angka 760 juta pada tahun 2000 dan 650 juta pada tahun 1990. PBB menyeru negara-negara dunia agar kembali fokus pada penataan perkotaan untuk menciptakan tempat tinggal yang aman dan terjangkau bagi masyarakat.

“Mari kita dengarkan lagi suara mereka yang tinggal di pemukiman kumuh di perkotaan, apa yang sudah berhasil dan belum, apa yang sudah kita lakukan,” ujar Ban Ki-moon, Sekretaris Jenderal PBB. Tema peringatan World Habitat Day tahun ini adalah “Voices from the Slums” atau jika diterjemahkan secara bebas menjadi suara orang-orang pinggiran atau mereka yang terpinggirkan.

Tema ini bertujuan agar negara kembali memberikan perhatian akan beratnya hidup di lingkungan kumuh. Caranya adalah dengan mendengarkan aspirasi masyarakat yang mendiami wilayah ini untuk berbagi pengalaman dan ide dalam memerbaiki kondisi kehidupan mereka.

“Teknologi dan pengetahuan tersedia untuk menciptakan kota yang ramah lingkungan, ramah secara sosial dan ekonomi dengan berbagai solusi lokal yang tersedia,” ujar Ban Ki-moon. “Ini harus menjadi agenda urban baru, tidak boleh ada (anggota masyarakat) yang tertinggal.”

Menurut data Departemen Pekerjaan Umum (2008), luas pemukiman kumuh di Jakarta Pusat mencapai 169 hektar dengan jumlah populasi 23.162 kepala keluarga (KK). Jakarta Pusat menempati posisi terakhir dari lima wilayah di Jakarta.

Jakarta Barat menempati peringkat pertama dengan luas pemukiman kumuh mencapai 449 hektar dengan populasi mencapai 36.519. Jakarta Utara berada pada posisi kedua dengan luas pemukiman kumuh mencapai 407 hektar dan populasi 42.084 KK. Sementara, Jakarta Timur pada posisi ketiga dengan luas pemukiman kumuh mencapai 282 hektar (populasi 25.161 KK) dan Jakarta Selatan pada posisi keempat dengan luas mencapai 277 hektar (18.658 KK).

Selain di Jakarta, di antara kota-kota besar lain di Indonesia, Kota Makassar menempati posisi pertama dengan luas wilayah pemukiman kumuh mencapai 323 hektar (17.278 KK) diikuti oleh Kota Bandung dengan luas wilayah kumuh 202 hektar (30.281 KK). Kota Surabaya berada pada posisi ketiga dengan luas wilayah sebesar 59 hektar (6.958 KK), Semarang posisi keempat (40 hektar/8.239 KK), Medan posisi kelima (31 hektar/15.927 KK), Denpasar pada posisi keenam (24 hektar/1.258 KK) dan Pelembang pada posisi ketujuh dengan luas wilayah 15 hektar (20.928 KK).

Menurut Ban Ki-moon, memastikan kota bertumbuh menjadi kota yang ramah lingkungan, sosial dan ekonomi bisa membantu dunia memerangi perubahan iklim, melindungi lingkungan dan mewujudkan pola pembangunan yang berkelanjutan. Kuncinya satu: Jangan ada yang ditinggalkan, leave no one behind!

Redaksi Hijauku.com