World Cup - Stux - Pixabay

Piala Dunia 2014 berakhir dengan mewariskan berbagai aksi ramah lingkungan yang berkelanjutan.

Piala Dunia telah berakhir. Jerman menjadi juara mengalahkan Argentina 1-0 dalam pertandingan ketat yang diwarnai oleh perpanjangan waktu. Tak ada lagi laga tersisa. Namun warisan aksi ramah lingkungan akan terus ada di Brasil. Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menggandeng pemerintah Brasil menggelar berbagai aksi hijau selama Piala Dunia berlangsung.

Berbagai aksi ramah lingkungan ini meliputi sertifikasi stadion guna mengurangi emisi gas rumah kaca, upaya mendaur ulang sampah, mengurangi polusi hingga aksi pertanian organik. Pemerintah juga mengembangkan industri pariwisata yang berkelanjutan (sustainable tourism) dan pertanian keluarga (family farming).

Satu lagi program yang unik adalah upaya meningkatkan kesejahteraan para pemungut sampah (waste pickers) dengan melibatkan masyarakay di enam kota yang menyelenggarakan pertandingan Piala Dunia. Para pemungut sampah adalah mereka yang memungut, memilah dan mendaur ulang sampah selama Piala Dunia berlangsung.

Pemerintah pusat memberikan dana $1,36 juta guna membantu 1400 pemungut sampah di Belo Horizonte, Curitiba, Fortaleza, Manaus, Natal dan São Paulo. Program ini juga berlangsung di kota-kota yang lain dengan bantuan dana dari pemerintah lokal.

Sampah yang dikumpulkan dikirim ke pusat daur ulang seperti di kota Fortaleza misalnya, yang berhasil mengumpulkan 37 ton bahan daur ulang hingga 4 Juli, 2014. Untuk menjamin keberlangsungan program ini Bank Pembangunan Sosial Nasional Brasil memberikan pembiayaan untuk mendanai upaya pengumpulan sampah kolektif ini. Berbagai proyek di Brasilia, Curitiba, Porto Alegre dan Rio de Janeiro telah mendapat persetujuan dengan jumlah pembiayaan mencapai $35,5 juta.

Semua stadion yang digunakan dalam Piala Dunia 2014 dibangun dengan konsep ramah lingkungan dan mendapat sertifikasi internasional. Dari 12 arena, enam stadion mendapatkan sertifikat LEED (Leadership in Energy and Environmental Design) yaitu Castelão (Fortaleza), Fonte Nova (Salvador), Arena Pernambuco (Recife), Arena Amazonia (Manaus), Maracanã (Rio de Janeiro) dan Mineirão (Belo Horizonte).

Stadion Belo Horizonte menjadi stadion pertama yang mendapatkan sertifikat platinum, yang merupakan standar ramah lingkungan tertinggi dari LEED. Tiga arena lain sudah mengirimkan permohonan yang sama dan sisanya tengah dalam tahap penyelesaian.

Guna menghemat energi, pembangkit listrik dipasang di tiga stadion dan akan dibangun di Stadion Utama Brasilia pada akhir tahun ini. Arena das Dunas di Natal juga tengah dalam proses mendapatkan Sertifikasi Efisiensi Energi INMETRO, yang menilai penghematan energi dan efisiensi.

Pertanian organik dan ramah lingkungan juga menjadi salah satu aksi hijau Piala Dunia 2014. Pemerintah memromosikan pola konsumsi sadar lingkungan dimana 18,000 relawan Piala Dunia hanya mengonsumsi makanan dan minuman organik yang dibeli dari koperasi dan asosiasi petani organik lokal.

Sebanyak 60 koperasi dan asosiasi petani organik – yang beranggotakan 25.000 keluarga – juga bekerja sama memasok kios-kios organik dan ramah lingkungan. Kios ini didirikan di daerah wisata dengan tujuan membangun pola pasokan pangan organik yang berkelanjutan.

Inisiatif lain adalah karbon kredit yang diikuti oleh 16 perusahaan dan kampanye Green Passport yang bertujuan memromosikan perilaku ramah lingkungan bagi wisatawan yang berkunjung ke Brasil. Dengan bantuan informasi online, wisatawan bisa mendapatkan berbagai tips wisata yang ramah lingkungan yang menyediakan lebih dari 60 pilihan wisata yang berkelanjutan.

Redaksi Hijauku.com