Strip coal mining - Wikimedia Commons (500x333)Penerapan teknologi serta kebijakan yang tepat bisa mengurangi eksploitasi sumber daya alam, mencapai target pembangunan. Hal ini terungkap dari hasil penelitian International Resource Panel (IRP) yang dirilis baru-baru ini.

Harga bahan baku metal telah naik hingga 176% diikuti kenaikan harga energi sebesar 260%. Sementara ketersediaan sumber daya alam dunia terus menurun. Harga karet juga telah meningkat 350%. Biaya produksi semakin tinggi sementara pola konsumsi dunia saat ini terus menguras sumber daya alam. Harga pangan juga telah meningkat sebesar 22,4% dalam periode 2000 hingga 2012, jauh lebih tinggi dibanding periode 1990-1999 yang hanya 7,7%.

Menurut laporan IRP, menggunakan teknologi yang ada saat ini dan kebijakan yang tepat, dunia akan mampu menghemat biaya sebesar US$3,7 triliun per tahun dan tetap menjaga pertumbuhan ekonomi.

Saat ini, teknologi yang mampu menghemat energi hingga 50-80% di fasilitas produksi dan pembangkit listrik telah tersedia. Demikian juga teknologi yang mampu menghemat air hingga 60-80% di sektor konstruksi, pertanian, layanan (hospitality), industri dan transportasi. Teknologi peleburan yang lebih efisien bisa menghemat bahan baku seng (zinc), timah, tembaga dan timbel hingga 40%.

Laporan ini juga menggarisbawahi pentingnya reformasi di sektor kebijakan dengan menghilangkan subsidi energi dan air yang bisa mencegah konsumsi sumber daya alam secara berlebihan dan menjamin pertumbuhan ekonomi yang stabil pada masa datang.

“Penggunaan sumber daya alam terus meningkat, melonjak hingga 8 kali lipat per tahun selama abad 20, membawa kerusakan lingkungan dan menipisnya sumber daya alam,” ujar Direktur Eksekutif UNEP, Achim Steiner. “Lonjakan permintaan terus berlanjut seiring peningkatan populasi dan pendapatan.”

Peningkatan produktivitas dibutuhkan untuk mengangkat satu miliar penduduk dunia dari jurang kemiskinan. Namun upaya untuk mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan diperlukan untuk menjamin kehidupan 9 miliar penduduk dunia pada 2050. “Untuk itu diperlukan investasi di bidang sosial, teknologi, dan keuangan serta memikirkan secara mendalam praktik-praktik yang ada saat ini,” ujar Achim Steiner.

Laporan ini disusun berdasarkan laporan sebelumnya yang memeringatkan bahwa pola konsumsi negara-negara maju akan menyedot 140 miliar ton bahan mineral, bijih, biomasa dan bahan bakar fosil per tahun, naik tiga kali lipat dari pola konsumsi pada tahun 2000.

Tanpa upaya penerapan teknologi dan efisiensi, menurut laporan IRP, kelangkaan sumber daya alam akan dirasakan dalam 50 tahun, berdampak pada banyak industri. Sebanyak 60% jasa layanan ekosistem, yang menunjang kehidupan di bumi, telah sangat terdegradasi. Permintaan air dunia misalnya, akan naik 40% sehingga dalam 20 tahun, pasokan air yang tersedia hanya akan bisa memenuhi 60% permintaan air global.

Solusi tersedia. Di sektor energi, menurut laporan IRP, negara-negara berkembang akan bisa memangkas pertumbuhan permintaan energi tahunan mereka dari 3,4% menjadi 1,4% dalam waktu 12 tahun sekaligus mencapai target-target pembangunan dengan menerapkan teknologi dan kebijakan yang tepat.

Redaksi Hijauku.com