Dunia peringati Hari Keanekaragaman Hayati atau yang dikenal dengan nama International Day of Biological Diversity. Tahun ini, Hari Keanekaragaman Hayati, yang jatuh pada tanggal 22 Mei, mengangkat tema Keanekaragaman Hayati di Wilayah Kepulauan atau Island Biodiversity.

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebutkan, sebanyak 600 juta penduduk (sepersepuluh jumlah penduduk dunia) tinggal di wilayah kepulauan termasuk di Indonesia. Sehingga fungsi wilayah kepulauan berperan sangat penting dalam menjamin keanekaragaman hayati dunia.

Menurut Braulio Ferreira de Sauza Diaz, Sekretaris Eksekutif Convention on Biological Diversity (CBD), wilayah kepulauan – walau hanya mencakup 5% dari wilayah daratan di bumi – menyimpan 20% spesies reptil, tanaman dan burung dunia. Di wilayah kepulauan juga tersimpan lebih dari 50% keanekaragaman hayati laut serta 7 dari 10 terumbu karang terpenting dunia.

Namun ancaman kemusnahan spesies di wilayah kepulauan sangat tinggi. Menurut Braulio, 64% kemusnahan yang tercatat di bumi selama satu abad terakhir terjadi di wilayah kepulauan. Bahkan, tingkat kemusnahan spesies mamalia di wilayah kepulauan 177 kali lipat lebih tinggi dibanding wilayah-wilayah lain di dunia.

Polusi, pemutihan terumbu karang (coral bleaching), kenaikan keasaman air laut, pemanasan global dan perubahan iklim terus mengancam Wilayah-wilayah ini. Aksi sinergis untuk menyelamatkan wilayah kepulauan perlu terus dilakukan guna memastikan terjaganya kekayaan keanekaragaman hayati, sekaligus mencapai Target Keanekaragaman Hayati Aichi (Aichi Biodiversity Target) yang sudah ditetapkan oleh PBB.

Indonesia

Di Indonesia, dalam sambutannya memeringati Hari Keanekaragaman Hayati, Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya, menyatakan, tema yang diambil tahun ini sangat relevan dengan Indonesia. “Indonesia adalah negara kepulauan dengan 13.466 pulau dan dengan panjang pesisir 95.181 km, tempat bermukim 60 % penduduk dan menyumbang 6,45 % GDP nasional,” ujarnya.

“Selain itu pesisir mempunyai potensi SDA yang sangat menakjubkan yaitu 14 % terumbu karang dunia, 27 % mangrove dunia serta 25 % ikan dunia, dengan berbagai biota yang hidup didalamnya,” tambahnya lagi.

Indonesia menurut Balthasar, bahkan disebut sebagai Marine Mega-Biodiversity terbesar di dunia, karena memiliki 8.500 species ikan, 555 species rumput laut dan 950 species biota terumbu karang. “Dan salah satu penyebab kerusakan lingkungan yang perlu diantisipasi adalah perubahan iklim,” tuturnya.

Perubahan iklim akibat pemanasan global memberi berbagai dampak terhadap kehidupan di muka bumi, kondisi ini ditandai dengan meningkatnya frekuensi hujan dengan instensitas yang sangat tinggi, ketidakpastian musim hujan maupun kemarau, dan munculnya berbagai bencana seperti kekeringan, badai, banjir dan longsor. Pada wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, dampak yang timbul berupa badai, banjir dan kenaikan permukaan air laut.

“Pada sektor pertanian, akibat kekeringan, banjir dan perubahan pola hujan menyebabkan penurunan 2 % produksi pertanian pada dekade ini. Pada sektor perikanan akibat perubahan keseimbangan unsur kimia di lautan menyebabkan berbagai ikan di daerah tropis mengalami kematian,” ujar Balthasar. Jangan berhenti menjaga bumi.

Redaksi Hijauku.com