Beach toys - Danielle ElderTimbel beracun yang terkandung dalam zat pewarna/cat yang tidak aman, terus mengancam kesehatan anak-anak dan ibu hamil di negara berkembang. Hal ini masih terjadi walau Liga Bangsa-Bangsa telah menyeru pelarangan penggunaan timbel pada cat sejak 90 tahun yang lalu.

Hal ini terungkap dari penelitian Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) terbaru “Lead in Enamel Decorative Paints” yang menganalisis kandungan timbel dalam cat di sembilan negara: Argentina, Azerbaijan, Chile, Cote d’Ivoire, Ethiopia, Ghana, Kyrgyzstan, Tunisia dan Uruguay.

Laporan yang dirilis Selasa (22/10) ini menemukan timbel dalam konsentrasi yang sangat tinggi dalam produk cat – di atas 600 PPM (parts per million) bahkan di beberapa negara mencapai 90.000 PPM. Batas kandungan timbel dalam cat yang diterapkan di negara-negara maju adalah 90 PPM (parts per million).

Cat ini bisa dipakai pada semua jenis produk dari mulai dari cat rumah, cat pada mainan anak-anak hingga cat untuk tas belanja plastik dan peralatan rumah tangga. Cat juga termasuk salah satu jenis limbah berbahaya yang tidak bisa dibuang sembarangan.

Menurut Nick Nuttall, Direktur Komunikasi UNEP, berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia, polusi timbel menyebabkan 600.000 kasus keterbelakangan kecerdasan pada anak setiap tahun. Dan 99% penderita berasal dari negara berpendapatan menengah dan miskin. Jumlah kematian akibat keracunan timbel menurut WHO mencapai 143.000 jiwa per tahun dan cat bertimbel menjadi salah satu penyebab utama. Penelitian sebelumnya juga menyimpulkan polusi timbel menyebabkan gangguan jiwa.

Solusi dari masalah ini tersedia. Dr. Maria Neira, Direktur Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan WHO menyatakan, diperlukan regulasi yang mengawasi produksi dan penggunaan timbel pada cairan pewarna/cat.

Saat ini sebanyak 30 negara telah melarang penggunaan timbel dalam cat. Global Alliance to Eliminate Lead Paint, bersama WHO dan UNEP, menargetkan angka ini bertambah menjadi 70 negara pada 2015.

Timbel mengganggu kecerdasan anak-anak, mengurangi kemampuan mereka belajar dan – akhirnya – kemampuan mereka bekerja. Kerugian ekonomi dari paparan timbel pada anak-anak ini mencapai $977 miliar per tahun di negara berpendapatan rendah dan menengah. Kerugian ekonomi yang dialami Afrika mencapai $134,7 miliar atau 4,03% dari Produk Domestik Bruto Afrika.

Redaksi Hijauku.com