Sebaran geografis lebih dari separuh jenis tanaman dan sepertiga jenis hewan akan berkurang akibat pemanasan global dan perubahan iklim. Hal ini terungkap dari hasil penelitian terbaru University of East Anglia yang diterbitkan dalam jurnal Nature Climate Change, Minggu (12/5).

Penelitian ini meneliti 50.000 spesies yang tersebar dan umum ditemui di seluruh dunia. Tim peneliti menyimpulkan, lebih dari separuh jenis tanaman dan sepertiga jenis hewan akan berkurang sebaran geografisnya hingga lebih dari separuh pada 2080 jika dunia gagal memerlambat pemanasan global dan perubahan iklim. Kondisi ini memicu terus berkurangnya keanekaragaman hayati di seluruh penjuru bumi.

Tanaman, reptil dan hewan-hewan ampibi menjadi spesies yang paling berisiko. Wilayah Afrika Utara, Asia Tengah dan Eropa Tenggara akan menjadi wilayah yang paling banyak kehilangan spesies tanaman. Sementara wilayah Afrika Sub-Sahara, Amerika Tengah, Amazonia dan Australia akan menjadi wilayah yang paling banyak kehilangan spesies hewan serta tanaman.

Upaya mitigasi perubahan iklim bisa mengurangi hilangnya spesies hingga 60% dan memberikan waktu tambahan bagi spesies untuk beradaptasi hingga 40 tahun. Menurut tim peneliti upaya mitigasi bisa memerlambat dan menghentikan kenaikan suhu bumi lebih dari dua derajat Celcius dibanding masa pra-industri (1765). Tanpa upaya mitigasi, suhu bumi akan naik hingga 4 derajat Celsius pada 2100.

Dr Rachel Warren dari Tyndall Centre for Climate Change Research di UEA yang memimpin penelitian ini menyatakan, “Aksi cepat untuk mengurangi emisi gas rumah kaca akan bisa mengurangi hilangnya keanekaragaman hayati hingga 60% jika jumlah emisi memucak pada 2016 atau hingga 40% jika emisi memuncak pada 2030. Sehingga lebih cepat aksi mitigasi yang kita lakukan akan lebih baik. Upaya pengurangan emisi ini akan memerlambat pemanasan global sehingga memermudah bagi spesies dan manusia untuk beradaptasi.”

Informasi distribusi spesies yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari pusat data yang dikumpulkan oleh ratusan relawan dan ilmuwan di seluruh dunia dalam situs Global Biodiversity Information Facility (GBIF).

Redaksi Hijauku.com