Dalam dua dekade terakhir perdagangan dunia terus berkembang, memicu pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan. Namun peningkatan volume perdagangan telah menekan sumber daya alam, memicu emisi gas rumah kaca dan kesenjangan sosial.

Menghijaukan industri perdagangan menurut laporan terbaru Program Lingkungan PBB (UNEP) bisa menjadi solusinya. Laporan berjudul “Green Economy and Trade – Trends, Challenges and Opportunities” menggarisbawahi manfaat upaya ini menuju pola pembangunan yang berkelanjutan.

“Perdagangan barang dan jasa dunia saat ini nilainya mencapai triliunan dolar per tahun. Menghijaukan industri perdagangan memiliki tantangan sekaligus peluang yang sangat besar,” ujar Achim Steiner, Direktur Eksekutif UNEP.

“Upaya ini harus dilakukan untuk memerbaiki kerusakan keanekaragaman hayati, mengurangi pelepasan emisi gas rumah kaca, menghentikan kerusakan lahan dan melindungi lautan. Semua aset tersebut adalah modal alami bagi pertumbuhan ekonomi,” tambahnya lagi.

Menurut laporan UNEP, negara berkembang dengan sumber daya alam terbarukan yang masih berlimpah berpeluang besar untuk meningkatkan pangsa pasar produk dan jasa ramah lingkungan ini.

Ada enam sektor ekonomi yang berpotensi tumbuh dalam industri perdagangan yang berkelanjutan. Yaitu pertanian, perikanan, kehutanan, manufaktur, energi terbarukan dan pariwisata. Diperlukan edukasi, reformasi kebijakan dan sertifikasi sehingga negara berkembang bisa mengambil keuntungan dari pertumbuhan pasar ramah lingkungan ini.

Di industri pertanian, pangsa pasar makanan dan minuman organik diperkirakan tumbuh menjadi $105 miliar pada 2015, naik dari $62,9 miliar pada 2011. Produksi teh yang sesuai dengan prinsip ramah lingkungan dan berkelanjutan telah tumbuh 2000% dari tahun 2005 ke 2009.

Di sektor perikanan dan akuakultur, volume makanan laut tangkapan yang sudah terdata dan tersertifikasi telah mencapai 18 juta ton per tahun. Jumlah ini baru 17% dari hasil tangkapan global per tahun. Permintaan terhadap makanan laut yang ramah lingkungan jauh melampaui pasokan yang ada. Nilai makanan laut yang telah dikembangbiakkan dalam sistem yang ramah lingkungan akan bertumbuh menjadi $1,25 miliar pada 2015, naik dari $300 juta pada 2008.

Di sektor kehutanan, hingga awal tahun ini, total luas wilayah hutan yang telah tersertifikasi mencapai 400 juta hektar atau sekitar 10% dari luas wilayah hutan dunia. Nilai penjualan produk kayu yang sudah tersertifikasi mencapai $20 miliar per tahun.

Di sektor manufaktur, banyak pemasok yang sudah memeroleh sertifikasi ramah lingkungan agar bisa meningkatkan pangsa pasar mereka. Aplikasi untuk sertifikasi tata kelola lingkungan yang berkelanjutan atau ISO 14001 meningkat 1500% antara tahun 1999 hingga 2009.

Di sektor pariwisata, pangsa pasar industri pariwisata di negara berkembang naik dari 30% pada 1980 menjadi 47% pada 2011 dan diperkirakan akan mencapai 57% pada 2030. Pada 2012, untuk pertama kalinya kedatangan turis internasional mencapai 1 miliar per tahun.

Ekowisata menjadi sektor yang tumbuh paling cepat terutama wisata alam. Banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, yang memiliki potensi di ekowisata karena keindahan lingkungan dan kekayaan warisan budayanya. Potensi ini menciptakan petualangan yang menarik bagi turis lokal maupun manca negara. Potensi di energi terbarukan dan industri teknologi yang ramah lingkungan bisa Anda baca di Hijauku.com.

Redaksi Hijauku.com