Samudra Arktika dan samudra lain di seluruh dunia terus mengalami peningkatan keasaman – yang ditandai oleh menurunnya nilai pH air laut – akibat akumulasi emisi CO2.

Fenomena ini berdampak pada ekosistem yang selama ini terus tertekan oleh kenaikan suhu dan mencairnya es di laut.

Kesimpulan ini terungkap dari hasil penelitian terbaru Arctic Monitoring and Assessment Programme (AMAP) yang dirilis Senin (6/5). Penelitian ini adalah penelitian paling komprehensif yang dilakukan selama 3 tahun tentang Keasaman Samudra Arktika (Arctic Ocean Acidification/AOA).

Menurut AMAP, samudra di seluruh dunia juga tengah mengalami fenomena yang sama. Keasaman samudra terus naik akibat penyerapan emisi CO2 yang dihasilkan oleh aktivitas manusia. Tingkat keasaman air laut rata-rata telah meningkat sebesar 30% dalam 200 tahun terakhir.

“Selama 200 tahun terakhir samudra telah banyak berperan mencegah perubahan iklim dengan menyerap CO2 dalam jumlah yang sangat besar. Samudra telah menyerap emisi CO2 yang telah dihasilkan oleh manusia hingga 50% dan saat ini masih menyerap hingga 25% emisi CO2 yang kita produksi ,” ujar Richard Bellerby, Ilmuwan Riset dari Norwegian Institute for Water – NIVA.

Samudra Arktika adalah wilayah yang paling sensitif terhadap peningkatan keasaman air laut. Jumlah emisi CO2 yang diserap dalam air dingin di Samudra Arktika terus bertambah.

Samudra Arktika juga terus mengalami invasi air tawar dari sungai-sungai di sekitarnya sehingga mencairkan es dan mengurangi kemampuan menetralisir keasaman.

Peningkatan keasaman juga terjadi di Samudra Arktika bagian tengah dan wilayah di sekitarnya. Keasaman samudra ini diukur dengan cara memonitor permukaan air laut.

Peningkatan keasaman air laut ini mengganggu ekosistem kelautan di Samudra Arktika. Jejaring makanan yang sangat sederhana menyebabkan ekosistem di wilayah ini mudah dipengaruhi oleh faktor eksternal. Ikan di Samudra Arktika sangat bergantung pada plankton sebagai sumber makanan dan plankton sangat sensitif terhadap keasaman air laut.

Dan saat ekosistem plankton terganggu, kemampuan samudra menyerap emisi CO2 juga akan berkurang. Tidak ada jalan lain untuk mencegah kerusakan ekosistem kelautan akibat peningkatan emisi selain dengan mengurangi dan menghilangkan emisi CO2. Ilmu telah membuka wawasan baru. Apalagi yang kita tunggu?

Redaksi Hijauku.com