Polusi suara dan polusi udara berbentuk partikel-partikel halus dari jalan raya meningkatkan risiko penyakit jantung. Kesimpulan ini terungkap dari hasil penelitian yang dipresentasikan pada EuroPRevent 2013, Kamis (18/4).

Polusi udara dan suara dari jalan raya berpengaruh secara biologis meningkatkan risiko penyakit jantung, dengan cara memicu ketidakseimbangan sistem syaraf yang memengaruhi mekanisme kompleks yang mengatur tekanan darah, lemak dalam darah, level glukosa, pembekuan dan kekentalan darah.

Keterkaitan antara polusi lalu lintas dengan risiko serangan dan penyakit jantung sudah diketahui sejak lama. Tahun lalu, tim peneliti dari Denmark menyimpulkan, polusi suara dari arus lalu lintas meningkatkan risiko serangan jantung. Saat polusi suara naik 10 desibel – baik pada saat serangan jantung terjadi maupun dalam jangka panjang (5 tahun) – risiko serangan jantung akan naik 12%.

Penelitian terbaru dari West-German Heart Center yang dipresentasikan dalam kongres EuroPRevent 2013 di Roma, Italia, menunjukkan, polusi partikel-partikel halus dari arus lalu lintas memiliki efek yang sama dengan polusi suara.

Menurut Dr Hagen Kälsch dari West-German Heart Center di Essen, Jerman, faktor yang memengaruhi risiko serangan dan penyakit jantung ini adalah konsentrasi paparan polusi udara PM2,5 dan jarak (kedekatan) responden dengan jalan raya.

Saat volume polusi partikel-partikel halus (PM2,5) naik 2,4 mikrometer, tingkat kalsifikasi (penumpukan kalsium dalam darah) akan naik 20,7%. Demikian pula saat jarak antara responden dengan arus lalu lintas yang padat semakin dekat. Setiap 100 meter, kalsifikasi akan naik 10%.

Penelitian ini juga menemukan, saat polusi suara pada malam hari naik 5 desibel, tingkat kalsifikasi juga akan meningkat 3,2%, meningkatkan risiko serangan dan penyakit jantung. Menurut tim peneliti masing-masing faktor yang memengaruhi risiko ini berdiri sendiri dan tidak tergantung dari risiko lain.

Redaksi Hijauku.com