Perokok yang terpapar polusi asbes serta yang telah menderita gangguan pernafasan akibat polusi asbes terbukti memiliki risiko yang jauh lebih besar terkena penyakit kanker paru-paru. Berhenti merokok akan mengurangi risiko kanker paru-paru ini secara signifikan walau pasien telah lama terpapar polusi ini.

Kesimpulan ini terungkap dari hasil penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine dari American Thoracic Society bulan ini. Penelitian ini melibatkan 2.377 pekerja bangunan di Amerika Utara dan 54.243 pekerja kantoran laki-laki yang tidak memiliki sejarah terpapar polusi asbes.

Dengan menganalisis data penyebab kematian dari Indeks Kematian Nasional (National Death Index), tim peneliti menemukan, bagi responden yang tidak merokok, paparan polusi asbes meningkatkan risiko kematian akibat kanker paru-paru hingga 5,2 kali lipat. Kombinasi antara aktivitas merokok dan polusi asbes meningkatkan risiko kematian akibat kanker paru-paru lebih tinggi lagi – hingga 28 kali lipat.

Sementara perokok yang telah menderita gangguan pernafasan akibat polusi asbes memiliki risiko kematian akibat kanker paru-paru 36,8 kali lebih tinggi dibanding responden yang tidak merokok.

Di antara pekerja bangunan yang berhenti merokok, tingkat kematian akibat penyakit kanker turun dari 177 kematian per 10.000 orang perokok menjadi 90 per 10.000 responden yang berhenti merokok setelah 10 tahun.

Risiko penyakit kanker pada pekerja bangunan yang telah berhenti merokok selama lebih dari 30 tahun sama dengan pekerja bangunan yang tidak pernah merokok sama sekali.

“Penelitian kami menunjukkan bukti yang kuat bahwa paparan asbes memicu kanker paru-paru melalui berbagai cara,” ujar Steven B. Markowitz, MD DrPH, profesor dari School of Earth & Environmental Sciences di Queens College, New York yang memimpin penelitian ini. “Yang lebih penting, penelitian kami menunjukkan, berhenti merokok terbukti bisa mengurangi risiko kanker paru-paru di kalangan responden.”

Redaksi Hijauku.com