Penelitian terbaru dari Temple University mengungkap manfaat ruang hijau bagi lingkungan dan masyarakat. Adalah Mary Wolfe, mahasiswi jurusan Studi Lingkungan minor Geografi dan Studi Perkotaan di Temple University yang pertama memiliki pertanyaan sederhana namun rumit ini: Apakah ruang hijau mendorong atau mencegah terjadinya kriminalitas?

Rasa penasaran Mary ini dimulai saat ia pindah ke Philadelphia, Amerika Serikat. Masyarakat di Philadelphia memiliki persepsi buruk terhadap lingkungan perkotaan, terutama wilayah yang terletak di pusat kota.

Dengan bantuan dana dari Program Temple CARAS (Creative Arts, Research And Scholarship), Mary lalu bekerja sama dengan Associate Professor Jeremy Mennis dari Department of Geography and Urban Studies, meneliti wilayah perkotaaan dan pengaruh lingkungan alami di sekitarnya – khususnya ruang hijau – terhadap tingkat kriminalitas di Philadelphia.

Setelah memerhitungkan faktor ekonomi dan sosial – termasuk faktor kemiskinan, tingkat pendidikan dan kepadatan penduduk, tim peneliti menyimpulkan, wilayah yang memiliki ruang hijau yang terpelihara, mampu menurunkan angka kriminalitas, seperti serangan dengan kekerasan, perampasan dan perampokan.

“Selama ini sering ada anggapan dalam perencanaan perkotaan bahwa jika ruang hijau terlalu banyak, kriminalitas akan meningkat. Ruang hijau dianggap bisa menyembunyikan aktivitas kejahatan dan memermudah penjahat untuk melarikan diri,” ujar Professor Mennis. “Namun penelitian ini membuktikan sebaliknya. Ruang hijau mampu menekan kriminalitas.”

Menurut tim peneliti, suasana alami mampu menenangkan emosi dan mencegah prilaku kekerasan. “Pada awalnya kami skeptis,” ujar Mennis, “namun banyak penelitian yang memaparkan manfaat positif suasana alami terhadap perilaku masyarakat.”

Studi yang dilakukan Mennis dan Wolfe juga berhasil mengungkap manfaat ruang terbuka hijau – yang juga merupakan ruang publik – dalam memicu interaksi aktif dalam komunitas. “Hasilnya adalah kontrol sosial dan kewaspadaan yang lebih tinggi di antara para penghuninya,” tuturnya. Ide ini mereka ambil dari jalanan. Semakin aktif sebuah komunitas, semakin rendah angka kriminalitas di komunitas tersebut. “Masyarakat semakin ‘guyub’ atau rukun,” tuturnya.

Eva Monheim, instruktur arsitektur lanskap dan hortikultura di Temple University menggunakan “window box theory” atau teori taman kotak yang biasanya diletakkan di bawah jendela, untuk menerangkan manfaat ruang hijau ini. “Taman, halaman dan ruang hijau yang terawat rapi mencerminkan komunitas yang stabil dan sehat — sementara taman yang tidak terawat dengan rumput yang tinggi dan jendela yang rusak mencerminkan sebaliknya yaitu lingkungan yang tengah dilanda masalah,” tutur Eva.

Selain menurunkan angka kriminalitas, ruang hijau yang terpelihara menurut Mennis juga menambah keindahan atau estetika lingkungan sekitar. “Ruang terbuka hijau juga bisa membantu penyerapan air dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” tuturnya.

Redaksi Hijauku.com