Perburuan gajah berlipat ganda sementara perdagangan gading ilegal terus meningkat.

Hal ini terungkap dari laporan PBB terbaru yang dirilis Rabu (6/3).

Laporan berjudul “Elephants in the Dust ? The African Elephant Crisis” ini menyebutkan, populasi gajah di Afrika terus terancam kelestariannya. Jumlah gajah yang dibunuh naik dua kali lipat dan jumlah gading yang disita naik 300% dalam sepuluh tahun terakhir.

Pengamatan Program Lingkungan PBB (UNEP), Convention on International Trade in Endangered Species (CITES), International Union for Conservation of Nature (IUCN), dan Wildlife Trade Monitoring Network (TRAFFIC) menemukan keterlibatan jaringan organisasi kriminal dalam perdagangan gading ilegal dari Afrika ke Asia.

Dari data CITES terungkap, 17.000 gajah atau 40% dari total populasi gajah di Afrika dibunuh secara ilegal pada 2011. Data awal yang dikumpulkan untuk tahun 2012 menunjukkan tren ini terus memburuk.

Pertumbuhan populasi dan wilayah pertanian, telah merusak 29% habitat gajah Afrika. Angka ini diperkirakan terus meningkat hingga 63% pada 2050 sehingga populasi gajah Afrika semakin terancam pada masa datang.

Jumlah penyitaan gading Afrika dalam skala besar (di atas 800 kg) yang ditujukan untuk pasar Asia berlipat ganda sejak 2009 dan mencapai angka tertinggi pada 2011.

Pengiriman gading dalam skala besar – ratusan gading – menunjukkan keterlibatan organisasi kriminal yang semakin aktif dalam rantai perdagangan gading Afrika ilegal. Hingga saat ini, jaringan ini terus beroperasi secara bebas, terlihat dari sedikitnya penangkapan, tuntutan hukum dan vonis hukum atas kasus ini.

Lemahnya peraturan dan penegakan hukum termasuk bertambahnya pendatang dari Asia di Afrika memfasilitasi peningkatan perdagangan ilegal ini. Konflik dan perdagangan senjata semakin memerburuk kondisi ini.

Laporan ini merekomendasikan langkah-langkah penting mulai dari pelatihan, teknik forensik inovatif hingga penegakan hukum di seluruh rantai perdagangan gading guna mengatasi praktik perburuan dan perdagangan gading ilegal ini. Laporan ini diluncurkan bersamaan dengan pertemuan CITES ke-16 di Bangkok, Thailand.

Redaksi Hijauku.com