Manusia telah merusak bumi melalui penggunaan nutrisi secara berlebihan. Penggunaan nutrisi seperti nitrogen, fosfor dan nutrisi lain secara berlebih ini mencemari udara, air, merusak kesehatan manusia, membunuh ikan, merusak ekosistem yang sensitif serta memicu perubahan iklim.

Hal ini terungkap dalam hasil penelitian terbaru berjudul “Our Nutrient World” yang dirilis baru-baru ini. Penelitian yang melibatkan 50 ahli dari 14 negara ini menyatakan, jika penduduk dunia bisa meningkatkan efisiensi penggunaan nutrisi sebesar 20% pada 2020, mereka akan mampu menghemat penggunaan pupuk nitrogen sebesar 20 juta ton per tahun dengan penghematan biaya mencapai $165,2 miliar per tahun.

Penghematan ini diperoleh dari penghematan biaya penggunaan nutrisi secara langsung dan dari manfaat pengurangan penggunaan nitrogen bagi kesehatan dan lingkungan.

Selain bermanfaat bagi lingkungan dan kesehatan, menurut Profesor Mark Sutton dari Centre for Ecology & Hydrology yang memimpin penelitian ini, penggunaan nutrisi secara tepat juga akan meningkatkan ketahanan dan keamanan pangan serta energi.

Sumber polusi yang dihitung dalam penelitian ini meliputi emisi dari industri pertanian dan pembakaran bahan bakar fosil. Menurut tim peneliti 80% nutrisi dunia – dalam bentuk nitrogen dan fosfor – dikonsumsi oleh ternak. Sesuai dengan prinsip rantai makanan, tren ini menunjukkan “kurang sehatnya” pola makan manusia yang lebih banyak mengonsumsi pangan hewani.

Untuk itu, laporan ini mengusulkan sejumlah aksi penting untuk mengurangi ancaman polusi akibat penggunaan nutrisi secara berlebihan ini. Aksi-aksi tersebut meliputi:

1. Memerbaiki tata kelola nutrisi di industri pertanian dan peternakan. Salah satu aksi nyata yang sudah diterapkan di negara maju maupun negara berkembang adalah metode pemupukan presisi dengan menggunakan pelet seperti yang sudah diterapkan di Bangladesh untuk mengurangi polusi amonia di udara.

2. Aksi mengurangi nutrisi yang hilang di industri pertanian dan sistem pengolahan limbah dengan mendaur ulang sumber daya yang ada, termasuk – dalam jangka panjang – mengembangkan metode untuk menangkap kembali nitrogen oksida yang hilang dalam sistem pembakaran yang bernilai $37,5 miliar per tahun.

3. Mengoptimalisasi proses daur ulang nutrisi dengan menghubungkan lokasi industri pertanian dan peternakan.

4. Mengurangi konsumsi protein hewani secara suka rela terutama di negara-negara yang memiliki tingkat konsumsi daging yang tinggi.

Dr Bruna Grizzetti, salah seorang peneliti menyatakan, melokalisasi industri pertanian dan peternakan menjadi isu penting karena lahan pertanian dan peternakan seringkali masih terpisah ratusan kilometer jauhnya.

Lokalisasi industri pertanian dan peternakan akan membantu proses daur ulang nutrisi, mengurangi nutrisi yang hilang termasuk mengoptimalkan produksi dan mengurangi polusi. Upaya mengurangi emisi dari industri pertanian ini, menurut hasil penelitian ini. harus terus dilakukan dengan melibatkan petani maupun konsumen.

Redaksi Hijauku.com