Oxfam America baru-baru ini menerbitkan rapor aksi sosial dan lingkungan 10 perusahaan makanan dan minuman terbesar di dunia.

Menurut Oxfam, kesepuluh perusahaan telah gagal memenuhi kewajiban terhadap masyarakat di negara-negara berkembang yang telah mendukung operasi mereka dengan menyediakan bahan baku dan sumber daya. Hal ini terungkap dalam berita yang dirilis Oxfam, Senin (25/2). Laporan berjudul “Behind the Brands” ini menilai kebijakan 10 perusahaan yaitu Associated British Foods (ABF), Coca Cola, Danone, General Mills, Kellogg, Mars, Mondelez, Nestlé, Pepsico dan Unilever.

Menurut laporan ini, 10 perusahaan yang beromzet $ 1 miliar per hari ini telah melakukan aksi-aksi penting yang patut mendapat pujian, namun belum ada yang bergerak cukup cepat untuk membantu mengatasi kelaparan, kesenjangan sosial dan kemiskinan di rantai pasokan mereka. “Walau kinerja sejumlah perusahaan melampaui kinerja perusahaan-perusahaan yang lain namun tidak ada perusahaan yang berhasil memenuhi kriteria yang kita tentukan,” ujar Raymond C. Offenheiser, Presiden Oxfam.

Peringkat terendah dari 10 perusahaan diduduki oleh ABF (19%), Kellogg’s (23%) dan General Mills (23%). Posisi mereka lebih rendah dibanding Coca-Cola (41%), Unilever (49%) dan Nestle (54%).

Dalam laporan “Behind the Brands” juga terungkap, sejumlah perusahaan sudah berkomitmen menegakkan hak-hak kaum perempuan, namun belum ada yang berkomitmen menghilangkan diskriminasi terhadap perempuan dalam rantai pasokan mereka.

Tidak ada perusahaan yang memiliki kebijakan yang layak untuk melindungi komunitas lokal dari perampasan tanah dan sumber air. Semua perusahaan ini, menurut Oxfam, menggunakan komoditas yang diproduksi oleh perusahaan minyak sawit, kacang kedelai dan gula yang banyak melakukan pelanggaran hak atas tanah masyarakat lokal. Dan tak ada satu perusahaan pun yang secara resmi menyatakan bahwa mereka tidak akan menoleransi terjadinya perampasan lahan dalam rantai pasokan mereka.

Perusahaan sangat merahasiakan rantai pasokan mereka dengan tidak memberikan informasi yang cukup mengenai perusahaan-perusahaan pemasoknya. Sehingga klaim perusahaan yang ramah lingkungan dan bertanggung jawab secara sosial menjadi sulit untuk diverifikasi. Di antara kesepuluh perusahaan tersebut, Nestle dan Unilever menjadi perusahaan yang paling terbuka menyebutkan dari negara mana sumber bahan baku mereka.

Walau semua perusahaan telah meningkatkan efisiensi penggunaan air, namun sebagian besar dari mereka gagal menciptakan kebijakan yang mampu melindungi sumber air lokal. Hanya Pepsi yang secara terbuka mengakui hak atas air dan Nestle telah mengembangkan panduan bagi para pemasoknya agar mengelola air secara bijaksana. Hal ini menjadikan Nestle menempati peringkat tertinggi dalam tata kelola air di antara 10 perusahaan.

Semua perusahaan juga sudah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi emisi langsung, namun hanya lima perusahaan yaitu Mondelez, Danone, Unilever, Coca-Cola dan Mars yang mengeluarkan laporan produksi emisi dalam rantai pasokan mereka.

Unilever telah berkomitmen untuk memangkas emisi gas rumah kaca hingga separuhnya pada 2020. Namun tidak ada perusahaan yang memiliki kebijakan membantu petani yang berada dalam rantai pasokan mereka untuk meningkatkan daya tahan mereka terhadap perubahan iklim.

Oxfam juga mencatat, belum ada perusahaan yang secara terbuka menyatakan berkomitmen membeli produk pertanian dengan harga yang adil (fair price) dari tangan petani atau melakukan kesepakatan bisnis yang adil dengan petani dalam operasional pertanian mereka.

Hanya Unilever – yang menempati peringkat teratas dalam kategori hubungan dengan petani kecil – yang memiliki panduan pemasok spesifik guna membantu mengatasi isu-isu penting yang dihadapi oleh para petani. “Sudah waktunya perusahan-perusahaan ini lebih bertanggung jawab terhadap dampak operasional mereka pada rakyat miskin,” ujar Offenheiser.

Menurut Oxfam, delapan puluh persen (80%) masyarakat yang menderita kelaparan bekerja di industri pangan dan perusahaan-perusahaan ini memekerjakan jutaan penduduk di negara-negara berkembang untuk memroduksi bahan baku yang mereka perlukan.

Perusahaan-perusahaan ini mengelola ratusan merek populer yang memiliki pengaruh ekonomi, sosial dan politik untuk menciptakan perubahan dalam jangka panjang, terutama di kalangan penduduk yang miskin di negara berkembang.

Kampanye “Behind the Brands” yang menjadi bagian dari kampanye GROW milik Oxfam ini akan dilluncurkan di lebih dari 12 negara termasuk Amerika Serikat, Meksiko, China, Brasil dan negara-negara di Eropa.

Redaksi Hijauku.com