Polusi udara tingkatkan risiko kematian pada mereka yang menderita penyakit koroner akut (acute coronary syndrome/ACS). Hal ini terungkap dari hasil penelitian terbesar terkait polusi udara dan hubungannya dengan tingkat kematian pasien penderita penyakit koroner akut yang diterbitkan Selasa (19/2).

Tim ilmuwan dari London School of Hygiene & Tropical Medicine meneliti hubungan antara tingkat polusi udara PM2,5 dengan kualitas kesehatan masyarakat. PM2,5 adalah benda-benda partikulat yang bersirkulasi di udara yang berdiameter hingga 2,5 mikrometer atau 30 kali lebih kecil dari ukuran rambut manusia. Ukuran PM2,5 diukur dalam satuan mikrogram per meter kubik.

Tim peneliti menemukan, saat paparan terhadap polusi PM2,5 naik, risiko kematian pada pasien penderita penyakit koroner akut akan meningkat. Hasil penelitian ini menambah jumlah gangguan kesehatan akibat polusi udara yang sudah teridentifikasi seperti infeksi pernafasan, penyakit jantung, kesulitan bernafas, batuk, bersin-bersin hingga kanker paru-paru.

Semua efek ini akan meningkatkan jumlah penderita penyakit akibat polusi udara, baik yang dirawat maupun tidak dan meningkatkan jumlah kematian prematur.

Dr Cathryn Tonne, anggota tim peneliti menyatakan, “Setiap kenaikan 10µg/m3 polusi PM2,5, risiko kematian akan naik sebesar 20%.” Kesimpulan ini diperoleh dengan meneliti data-data pasien yang telah dirawat di rumah sakit akibat penyakit koroner akut (ACS). “Jika polusi PM2,5 naik dari 10µg/m3 menjadi 20 µg/m3, risiko kematian akan meningkat 20%,” tambahnya lagi.

Dr Tonne dan rekannya Paul Wilkinson, profesor di London School of Hygiene & Tropical Medicine memerkirakan, tingkat kematian di antara pasien ACS akan bisa dikurangi hingga 12% jika mereka tidak terpapar polusi PM2,5 dalam konsentrasi yang tinggi. Hal ini berarti mencegah 4.783 kematian prematur akibat polusi yang merupakan hasil gaya hidup dan prilaku manusia ini.

Kedua peneliti meneliti data 154.204 pasien yang sembuh dari ACS di Inggris dan Wales antara tahun 2004-2007. Mereka lalu membandingkan data-data pasien tersebut dengan data polusi udara rata-rata dari tahun 2004-2010. Kondisi pasien ini terus diikuti hingga mereka meninggal atau hingga masa penelitian ini berakhir yaitu pada April 2010 – tergantung mana yang lebih cepat.

Setelah mengikuti perkembangan pasien selama 3,7 tahun, kedua peneliti menemukan 39.863 kematian. Mereka lalu menganalisis data-data pasien mulai dari jenis kelamin, umur, catatan medis, catatan perawatan kesehatan, konsumsi obat-obatan, risiko merokok, termasuk faktor sosial dan ekonomi yaitu pendidikan, pekerjaan dan lokasi tinggal mereka.

Menurut tim, risiko tertinggi polusi PM2.5 dan polutan-polutan udara lain terdapat di London (rata-rata 14,1 µg/m3). Sementara risiko terendah ada di Timur Laut Inggris dengan tingkat polusi PM2,5 rata-rata 8,4 µg/m3.

Sudah banyak penelitian yang menghubungkan polusi udara dengan penyakit koroner. Namun, penelitian ini adalah salah satu penelitian langka yang berhasil mengungkap dampak polusi udara terhadap risiko kematian pasien.

Hasil penelitian ini terbukti konsisten. Masyarakat yang tinggal di lokasi kumuh dengan konsentrasi polusi udara yang tinggi akan lebih berisiko terkena gangguan koroner dibanding pasien yang tinggal di lokasi yang lebih bersih. Faktor risiko ini semakin tinggi jika pasien memiliki kebiasaan merokok dan menderita diabetes.

Redaksi Hijauku.com