Pemanasan global mengubah pola cuaca normal, menambah frekuensi cuaca ekstrem. Seperti yang terjadi saat ini, banjir melanda banyak wilayah dunia, termasuk sejumlah wilayah di Tanah Air.

Negara adidaya seperti Amerika Serikat juga tidak lepas dari dampak cuaca ekstrem ini. Tahun lalu, Negeri Paman Sam ini dilanda kekeringan dan badai yang menimbulkan tidak hanya kerugian materiil namun juga spiritual. Hal ini terungkap dari berita University of Illinois at Urbana-Champaign yang dirilis Jum’at (15/2).

Penelitian University of Illinois juga mengungkapkan, pada tahun-tahun mendatang, cuaca AS akan semakin ramai oleh cuaca ekstrem, tren yang terkait langsung dengan kondisi perubahan iklim yang disebabkan oleh prilaku manusia.

Dalam beberapa dekade terakhir, gelombang panas dan hujan ekstrem semakin sering terjadi. Pada tahun 1950, jumlah hari dengan suhu tertinggi di Amerika Serikat, sama dengan jumlah hari dengan suhu terendah pada 2000.

“Perubahan iklim akibat prilaku manusia memicu cuaca ekstrem yang menimbulkan kerugian dari banyak sisi, tidak hanya pada manusia namun juga pada alam liar,” ujar Donald Wuebbles, profesor ilmu atmosfer di University of Illinois di Urbana-Champaign.

“Saat perubahan iklim global terjadi, cuaca normal tak lagi bisa diharapkan. Karena saat atmosfer menghangat, atmosfer akan menyimpan lebih banyak uap air yang akan memicu terjadinya badai,” ujar Wuebbles.

Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration, 11 cuaca ekstrem yang terjadi di AS tahun lalu telah menimbulkan kerugian masing-masing mencapai lebih dari $1 miliar.

“Kita telah menyaksikan semakin seringnya perubahan cuaca yang memicu kerugian miliaran dolar dalam tiga dekade terakhir, tidak hanya badai namun juga iklim ekstrem akan semakin sering terjadi, itu yang mengkhawatirkan,” tuturnya.

Redaksi Hijauku.com