Polusi udara dan lingkungan yang tidak bersih menjadi pemandangan sehari-hari di perkotaan, tak terkecuali di Indonesia. Penelitian terbaru dari Mailman School of Public Health mengungkapkan, udara yang tidak bersih dan lingkungan yang kotor, meningkatkan risiko asma dan alergi pada anak-anak.

Menurut tim peneliti, polusi udara meningkatkan risiko alergi pada anak usia 7 tahun dan pada mereka gennya mengalami mutasi. Lebih spesifik lagi, kasus alergi ini terkait dengan alergi terhadap binatang yang sering dikaitkan dengan lingkungan yang tidak bersih yaitu kecoa.

Hal ini terungkap dalam berita yang dirilis oleh Columbia University, Rabu (6/2). Alergi terhadap kecoa menurut tim peneliti hanyalah satu bagian dari jaringan cerita yang lebih kompleks.

Menurut penelitian yang telah diterbitkan dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology ini, anak-anak yang terekspos oleh polusi udara sejak dalam kandungan, akan memiliki risiko yang lebih besar terkena alergi kecoa yang pada akhirnya akan memicu penyakit asma. Jika Anda tinggal di lokasi polusi dan banyak dikelilingi oleh serangga ini, Anda harus lebih berhati-hati.

Kuncinya ada pada mutasi gen bernama GSTM yang hanya bisa diketahui melalui tes darah. Gen GSTM bermutasi akibat bereaksi dengan PAH (polycyclic aromatic hydrocarbons), komponen berbahaya di polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil.

Sebanyak 80% dari rumah yang diteliti tim peneliti positif mengandung alergen kecoa. Peneliti kemudian melakukan analisis pada anak-anak yang berusia 7 tahun dan menemukan – dari 264 anak-anak yang diteliti – sebanyak 31%-nya menderita alergi kecoa. Namun anak-anak yang menderita alergi kecoa ini hanya terjadi pada anak-anak yang selama dalam kandungan terekspos PAH dalam konsentrasi yang tinggi.

Para peneliti menyimpulkan, PAH meningkatkan reaksi imunitas pada alergen kecoa. Pada anak-anak yang gen GSTM-nya telah mengalami mutasi, risiko alergi kecoa ditemukan 27% lebih tinggi dibanding anak-anak yang lain. Mutasi ini memengaruhi kemampuan tubuh untuk melakukan detoksifikasi PAH.

Pada akhirnya, tim peneliti menyarankan ibu-ibu agar meminimalisir paparan polusi selama kehamilan guna mengurangi risiko alergi dan asma terutama pada anak-anak di perkotaan.

Redaksi Hijauku.com