Tanah yang telah membeku selama bertahun-tahun di belahan bumi bagian utara berpotensi meningkatkan emisi gas rumah kaca.

Hal ini terungkap dalam laporan yang dirilis Program Lingkungan PBB (UNEP) Selasa (27/11). Tanah beku atau permafrost luasnya mencapai 24% dari permukaan tanah di belahan bumi bagian utara.

Selama ini, tanah beku belum dimasukkan dalam perhitungan risiko pemanasan global dan prediksi perubahan iklim. Menurut UNEP, para pembuat kebijakan dan ilmuwan harus terus memonitor potensi peningkatan emisi gas rumah kaca dari tanah beku ini.

Laporan UNEP menyatakan, tanah beku menyimpan 1.700 gigaton (Gt) karbon atau dua kali lipat konsentrasi karbon yang saat ini ada di atmosfer. Tanah beku juga berpotensi meningkatkan konsentrasi emisi gas rumah kaca ketika mencair akibat peningkatan suhu bumi.

Semakin menghangatnya tanah beku ini juga bisa mengubah ekosistem dan memicu kerusakan infrastruktur akibat tanah yang tidak stabil. Perubahan iklim diperkirakan menimbulkan kerugian hingga US$6.1 miliar di negara bagian Alaska mulai tahun ini hingga 2030

Ilmuwan baru tertarik meneliti dampak tanah beku terhadap pemanasan global dalam beberapa tahun terakhir. Hingga saat ini tanah beku belum dimasukkan menjadi salah satu faktor dalam model perubahan iklim.

“Tanah beku menjadi salah satu kunci masa depan bumi. Di sana tersimpan bahan-bahan organik yang membeku yang jika mencair dan terlepas ke atmosfer akan meningkatkan risiko pemanasan global,” ujar Achim Steiner, Direktur Eksekutif UNEP.

Mayoritas tahan beku yang ada saat ini terbentuk pada jaman es terakhir dan memiliki kedalaman hingga lebih dari 700 meter di sebagian wilayah Siberia bagian utara dan Kanada.

Tanah beku biasanya memiliki lapisan aktif dengan ketebalan hingga dua meter, yang mencair saat musim panas dan kembali membeku pada musim dingin serta tanah yang membeku secara permanen di bawahnya.

Saat lapisan aktif semakin tipis akibat pemanasan global, simpanan bahan-bahan organik di tanah dalam jumlah besar akan mulai mencair dan membusuk, melepas metana dan CO2 dalam jumlah besar ke atmosfer.

Sekali proses ini terjadi, proses tersebut akan berulang meningkatkan suhu permukaan yang tidak bisa diputar kembali.

Suhu di pegunungan dan benua Arktika diperkirakan akan naik hingga dua kali lipat dan proyeksi perubahan iklim mengindikasikan akan terjadi kerusakan substansial di tanah beku pada 2100.

Kenaikan suhu bumi antara 3-6°C akan berdampak pada 30-85% wilayah tanah beku yang terletak dekat dengan permukaan bumi. Mencairnya tanah beku bisa melepas 43-135 gigaton (Gt) CO2 pada 2100 dan 246-415 gigaton (Gt) pada 2200.

Pelepasan emisi ini akan dimulai pada beberapa dekade mendatang dan akan terus berlangsung dalam beberapa abad. Emisi dari tanah beku berpotensi menyumbang 39% dari seluruh emisi global. Kevin Schaefer, dari National Snow and Ice Data Center di University of Colorado merekomendasikan agar tanah beku dimasukkan dalam unsur kesepakatan global pengganti Protokol Kyoto.

Redaksi Hijauku.com