Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menemukan cara baru guna mengurangi kerusakan tambang.

Hal ini terungkap dari laporan Ann Perry dari USDA yang dirilis minggu lalu (26/10).

Dengan menutup lahan yang rusak akibat pertambangan dengan kompos yang berasal dari kotoran hewan, keseimbangan unsur dan nutrisi pada lahan bisa dipulihkan.

Menurut penelitian USDA, jutaan hektar lahan ditelantarkan setelah proses pertambangan selesai dalam kondisi yang tandus dan rusak. Hal ini terutama terjadi di lokasi-lokasi pertambangan mineral yaitu timbel (lead) dan seng (zinc) di negara bagian Missouri, Kansas, dan Oklahoma, Amerika Serikat. Lahan-lahan bekas tambang ini juga tercemar asam, “tailing” (pasir sisa tambang yang disebut “chat”) dan bahan-bahan beracun lain.

Para ilmuwan kemudian bereksperimen dengan menambahkan kompos untuk mengganti karbon yang hilang yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.

Mereka juga ingin mengetahui apakah kompos ini bisa mengurangi kandungan racun timbal dan seng dalam tanah yang bisa mencemari saluran air saat terjadi hujan deras.

Tim peneliti kemudian menumpuk kompos dengan komposisi hingga 0,5 ton per km2 di sejumlah lokasi bekas tambang yang kemudian ditanami dengan rerumputan. Mereka lalu mengambil sampel tanah lima kali dalam dua tahun penelitian untuk mengetahui kandungan nutrisinya.

Setelah dua tahun, tanaman di wilayah dengan kandungan kompos yang tinggi mengalami kenaikan kandungan pH, fosfor, nitrogen, karbon dan air.

Kandungan biomassa mikroba dalam tanah yang mengandung banyak kompos juga meningkat, demikian pula dengan aktivitas enzim dan potensi oksidasi amonia. Semuanya prasyarat tersebut menciptakan kondisi yang ideal dan mendukung pertumbuhan tanaman.

Kompos dalam konsentrasi yang tinggi juga menurunkan kandungan timbel dan seng hingga 90% sehingga mengurangi risiko pencemaran saluran air jika terjadi hujan deras.

Kandungan seng yang tinggi akan mengganggu pertumbuhan tanaman. Kompos juga bisa memerkuat tanaman dan meminimalisir longsor.

Redaksi Hijauku.com