Praktik konsumsi yang berlebihan menimbulkan kerusakan lingkungan dan krisis kemanusiaan. Solusinya adalah “ekonomi negatif”.

Wacana “ekonomi negatif” (degrowth) ini muncul dalam berita yang dirilis oleh Worldwatch Institute (WI) minggu lalu (17/10).

Laporan WI – mengutip data dari Global Footprint Network – menyatakan, jika semua orang memiliki gaya hidup layaknya rata-rata penduduk Amerika, bumi ini hanya akan bisa menanggung 1,7 miliar penduduk – seperempat dari jumlah penduduk dunia saat ini – tanpa merusak lingkungan dan ekosistemnya.

Praktik konsumsi berlebihan masyarakat di negara-negara maju, juga orang kaya baru (OKB) di negara-negara berkembang, menurut peneliti senior dari WI, Erik Assadourian, menimbulkan krisis lingkungan dan kemanusiaan dalam jangka panjang.

Dalam tulisannya berjudul “The Path to Degrowth in Overdeveloped Countries,” Erik mengungkapkan peluang dan manfaat dari “ekonomi negatif” ini (economic degrowth). “Ekonomi negatif” diartikan sebagai upaya mengarahkan ekonomi guna mencapai target di luar target pertumbuhan ekonomi.

Menurut Erik, target pertumbuhan ekonomi dan peningkatan konsumsi, hanya akan menambah beban hutang, beban kerja, masalah kesehatan, obesitas, ketergantungan terhadap obat-obatan, isolasi sosial dan banyak penyakit sosial lain.

Pada saat yang sama, peluang untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim juga akan semakin sulit dicapai tanpa adanya pengurangan konsumsi dan pengunaan bahan bakar fosil secara dramatis.

Peningkatan suhu bumi akan memicu perpindahan penduduk akibat bencana alam, banjir, kekeringan dan wabah penyakit. Mengejar target pertumbuhan ekonomi semata menurut Erik hanya akan menimbulkan dampak yang malah menurunkan perekonomian dan kualitas kehidupan masyarakat.

Sehingga, saat kebijakan yang hanya mengejar pertumbuhan ekonomi terbukti membawa banyak kerusakan, strategi “ekonomi negatif” (degrowth) mulai mendapatkan tempat di masyarakat.

Di sejumlah negara seperti Italia dan Prancis, upaya “degrowth” ini dilakukan dengan cara alokasi pajak dari yang lebih memberikan manfaat ke pribadi menuju ke sektor-sektor yang membawa manfaat bersama.

Misalnya, upaya membangun Kota-Kota Transisi (Transition Towns) yang mengajak masyarakat untuk hidup lebih sehat dan mengurangi konsumsi, mulai dari konsumsi makanan hingga energi.

Upaya lain adalah dengan memromosikan program-program yang ramah lingkungan seperti “Meatless Mondays” atau menghentikan konsumsi daging setiap hari Senin yang mampu mengurangi konsumsi daging. Program Car Free Day di berbagai negara, termasuk di Indonesia juga bisa masuk dalam kategori ini.

Dengan beralih ke strategi “ekonomi negatif” (degrowth), menurut Erik, masyarakat akan kembali berdiskusi mengenai apa yang sebenarnya dimaksud dengan kesejahteraan. Topiknya beragam, mulai dari kualitas kesehatan, guyub sosial (social connectedness), termasuk peluang untuk bekerja lebih “santai” namun tetap mendapatkan upah yang sesuai.

“Strategi ‘ekonomi negatif’ (degrowth) menawarkan visi baru pencapaian kesejahteraan tanpa harus memaksimalkan konsumsi dan pertumbuhan ekonomi, pada saat yang sama mampu menyelamatkan bumi,” tutur Erik.

Redaksi Hijauku.com