Pertumbuhan ekonomi jika tidak diimbangi dengan strategi yang tepat akan menciptakan pemukiman kumuh dan masalah lingkungan. Hal ini terungkap dari laporan UN Habitat berjudul “Sustainable Housing for Sustainable Cities” yang diterbitkan awal Oktober lalu.

Perpindahan penduduk dari desa ke kota – yang dipicu oleh pertumbuhan ekonomi dan peningkatan jumlah penduduk – menuntut tersedianya perumahan yang terjangkau.

Banyak kota yang tidak berhasil memenuhi tuntutan ini sehingga muncul pemukiman kumuh dan hunian-hunian liar lain. Fenomena ini tampak di hampir seluruh negara berkembang di Asia, Afrika dan Amerika Latin.

Rumah-rumah di lingkungan kumuh biasanya hanya dibangun sebagai tempat berteduh tanpa fasilitas dan kebersihan yang memadai. Banyak dari pemukiman ini yang tidak mengikuti aturan dan tata kota yang ditetapkan, sehingga memicu banyak masalah dan bencana seperti kebakaran dan masalah kesehatan.

Pemukiman kumuh juga menyebabkan masalah lingkungan, seperti masalah sanitasi dan polusi termasuk polusi air dan udara yang berasal dari sampah dan saluran pembuangan limbah. Pemukiman kumuh yang terletak di daerah perbukitan, bisa memicu bencana longsor yang terjadi tiba-tiba dan menimbulkan banyak korban jiwa seperti yang terjadi di kota Rio de Jeneiro, Brasil pada tahun 2010.

Di negara lain seperti India dan banyak kota di Afrika seperti Accra, Kampala, Lagos, Maputo, dan Nairobi, daerah kumuh identik dengan wilayah banjir. Kondisi ini akan diperparah dengan memburuknya perubahan iklim dan pemanasan global.

Selain masalah lingkungan, masyarakat yang tinggal di daerah kumuh juga mengalami keterbatasan akses atas energi bersih. Saat ini menurut Program Lingkungan PBB (UNEP) sebanyak 1,3 miliar penduduk belum menikmati listrik. Lebih dari separuh populasi negara berkembang masih menggunakan biomasa atau batu bara untuk memasak. Hal ini menyebabkan polusi dalam ruang yang memakan korban hampir 2 juta jiwa setiap tahun dan penyakit-penyakit kronis lain.

Beberapa negara telah berupaya keras – dan berhasil – mengatasi masalah pemukiman kumuh ini seperti China. Namun walau semua masalah di atas berhasil diatasi, masih ada aspek lain yang harus diperhatikan yaitu pentingnya membangun perumahan baru dengan selalu memertimbangkan prinsip efisiensi dan keberlanjutan.

Jika tidak dibangun sesuai dengan dua prinsip di atas maka peluang untuk mengurangi jejak karbon akan hilang selama bertahun-tahun. Karena, sekali sebuah gedung selesai dibangun, gedung tersebut akan digunakan sesuai dengan masa pakainya, sebelum kemudian rusak dan diganti gedung baru.

Semua upaya ini penting untuk memerbaiki kehidupan penduduk perkotaan yang hidup di pemukiman kumuh yang menurut laporan UN Habitat jumlahnya mencapai 850 juta orang di seluruh dunia – atau 25% dari penduduk kota-kota dunia.

Pemerintah di berbagai negara, melalui program MDGs (Millenium Development Goals), dalam 10 tahun terakhir, telah berhasil meningkatkan kualitas hidup 100 juta penduduk di wilayah kumuh, lebih cepat dari tenggat waktu yang ditetapkan yaitu pada 2020.

Namun masih ada 750 juta penduduk lain yang belum menikmati kemajuan ini. Jumlah ini akan terus bertambah seiring upaya menciptakan pemukiman kota yang berkelanjutan. Jalan masih panjang, namun pintu sudah terbuka untuk menciptakan pemukiman kota yang lebih hijau dan lestari.

Redaksi Hijauku.com