Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bantu ciptakan kota dan konsumen yang ramah lingkungan.

Saat ini, separuh dari penduduk dunia tinggal di wilayah perkotaan. Permasalahan kota terus bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Buruknya layanan transportasi, sanitasi, gedung yang tidak layak pakai, hingga masalah keamanan lingkungan tidak asing lagi bagi penduduk kota-kota besar dunia termasuk di Jakarta.

Namun teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bisa membantu pemerintah menciptakan kota yang bersih, aman dan ramah lingkungan. Hal ini terungkap dalam laporan Worldwatch Institute berjudul “State of the World 2012: Moving Toward Sustainable Prosperity” yang diterbitkan baru-baru ini.

Di Singapura misalnya, penduduk bisa menggunakan telepon genggam untuk mencek lalu lintas dan layanan transportasi. Mereka bisa menggunakan program yang menampilkan rute-rute alternatif yang bebas macet. Mereka juga bisa memeroleh informasi mengenai penundaan dan perubahan layanan transportasi publik.

“Pemerintah kota bisa memanfaatkan TIK untuk menciptakan kota yang lebih ramah lingkungan,” ujar Michael Renner, peneliti senior dari Worldwatch Institute. Kota-kota dunia bisa semakin pintar dengan bantuan infrastruktur digital. Kota bisa menggunakan lampu jalan yang dilengkapi sensor gerak untuk menghemat energi atau kartu pintar untuk membayar kereta atau bus dengan sekali gesek sehingga bisa mengurangi sampah dan memerbaiki layanan publik.

Dalam beberapa kasus, kota-kota dunia bekerja sama dengan perusahaan swasta untuk menciptakan kota yang ramah lingkungan. Kota Rotterdam di Belanda misalnya, bekerja sama dengan General Electric (GE) guna mencapai target pengurangan emisi CO2 hingga 50% dibanding tingkat emisi pada tahun 1990-an.

GE menggunakan berbagai teknologi untuk menghemat energi dan mengurangi pemborosan air. Penggunaan alat-alat TIK ini akan memangkas gas rumah kaca dalam jumlah besar di Rotterdam, yang – walau luasnya hanya sepersepuluhnya – memiliki tingkat emisi CO2 setara dengan Kota New York.

“TIK bisa menjadi alat yang sempurna walau tidak bisa menjawab semua tantangan untuk menghijaukan perkotaan,” ujar Lind, Direktur Eksekutif dan Pemimpin Redaksi “Next American City”, lembaga nirlaba yang berfokus menciptakan kota yang ramah lingkungan.

Kuncinya, menurut Lind, adalah keterbukaan data. Dengan berbagi informasi, para pembuat kebijakan akan semakin mudah menciptakan kota yang ramah lingkungan.

Contoh, Spatial Information Design Lab, lembaga milik Columbia University di New York menggunakan data tingkat kriminalitas dan buruknya fasilitas perumahan, pendidikan dan layanan kesehatan untuk mengidentifikasi lingkungan-lingkungan yang bermasalah di kota-kota besar di AS. Strategi ini berhasil mengurangi angka kejahatan sekaligus menciptakan infratruktur dan fasilitas kota yang sehat dan ramah lingkungan.

Redaksi Hijauku.com