Praktik retensi hutan berhasil melestarikan pepohonan dan menjaga keanekaragaman hayati di sejumlah wilayah dunia.

Praktik retensi hutan adalah praktik menyisakan sejumlah pohon saat hutan produksi ditebang. Praktik ini terbukti mampu mengurangi potensi konflik antara upaya konservasi dan produksi di wilayah kehutanan.

Hal ini terungkap dari penelitian yang dilakukan oleh American Institute of Biological Sciences yang diterbitkan kemarin (12/6) dalam Jurnal BioScience edisi Juli 2012.

Penelitian ini dipimpin oleh Lena Gustafsson dari University of Agricultural Sciences di Uppsala, Swedia dan melibatkan sejumlah ilmuwan dari berbagai negara. Hasil penelitian ini menyimpulkan, praktik retensi hutan bisa melengkapi upaya konservasi hutan alami dan akan membawa manfaat lebih besar dibanding tata kelola hutan tradisional.

Praktik retensi hutan dimulai 25 tahun yang lalu di wilayah Amerika Utara bagian barat laut dengan nama “new forestry” dan “green-tree retention.” Pohon yang hidup maupun yang mati tetap bisa dipertahankan (tidak ditebang), dengan memertimbangkan jenis dan kelangkaannya.

Praktik ini membawa banyak manfaat diantaranya meningkatkan layanan ekosistem (seperti pasokan air dan nutrisi), mengurangi tentangan publik atas praktik penebangan kayu produksi dan memastikan kelestarian habitat yang terhubung dengan pohon tersebut seperti habitat serangga dan jamur (fungi).

Praktik retensi hutan, walau ada, belum banyak diterapkan di hutan-hutan tropis. Di negara lain, perusahaan pengelola hutan seringkali yang berinisiatif mengembangkan praktik ini terutama di wilayah Amerika Serikat, Australia, Kanada, dan beberapa negara di Eropa.

Praktik sertifikasi oleh organisasi seperti Forest Stewardship Council (FSC) dan diciptakannya sejumlah instrumen hukum juga membantu pelaksanaan praktik retensi hutan ini.

Menurut para peneliti, program ini harus memertahankan setidaknya 5-10% pohon dari total jumlah pohon yang ada, namun masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui perbedaan dan efektifitas dari program ini di wilayah lain. Penelitian juga diperlukan untuk mengungkap efek dari praktik ini terhadap layanan ekosistem seperti pasokan air dan nutrisi.

Redaksi Hijauku.com