Transformasi ke ekonomi hijau akan membuka 15 hingga 60 juta lapangan kerja baru di seluruh dunia dalam dua dekade mendatang.

Aksi ini juga akan mengentaskan puluhan juta pekerja dari kemiskinan. Hal ini terungkap dalam laporan terbaru Green Jobs Initiative yang diluncurkan Selasa (29/5) di Jenewa, Swiss.

Laporan yang berjudul “Working towards sustainable development: Opportunities for decent work and social inclusion in a green economy” ini menyatakan, keberhasilan untuk menciptakan lapangan kerja baru ini tergantung pada penerapan kebijakan yang tepat untuk beralih ke ekonomi hijau.

“Model pembangunan yang ada saat ini terbukti tidak efisien dan tidak berkelanjutan, tidak hanya bagi lingkungan, namun juga bagi ekonomi dan masyarakat,” ujar Juan Somavia, Direktur Jenderal ILO. “Kita perlu beralih ke pola pembangunan yang berkelanjutan disertai sejumlah kebijakan yang mengedepankan kepentingan masyarakat dan bumi.

“Konferensi Rio+20 akan menjadi momen penting guna memastikan diterapkannya strategi kebijakan yang tepat yang melibatkan masyarakat pada masa datang,” tambahnya lagi.

Menurut Achim Steiner, Direktur Eksekutif, Program Lingkungan PBB (UNEP), laporan ini diluncurkan menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia tanggal 5 Juni nanti dengan tema “Green Economy: Does it Include You?”

Laporan ini diterbitkan empat tahun setelah laporan pertama Green Jobs Initiative. Penelitian ini mengulas dampak upaya menghijaukan ekonomi terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan dan pembangunan berkelanjutan.

Setidaknya separuh lapangan kerja global – mencakup 1,5 miliar pekerja – akan terkena dampak positif peralihan ke ekonomi yang lebih hijau ini. Ada delapan sektor kunci dalam ekonomi hijau yaitu: pertanian, kehutanan, perikanan, energi, manufaktur, daur ulang, properti dan transportasi.

Menurut ILO, puluhan juta lapangan kerja baru sudah tercipta seiring dengan transformasi ke ekonomi hijau. Contoh, industri energi terbarukan saat ini telah memekerjakan 5 juta orang, naik dua kali lipat dari periode 2006 hingga 2010.

Sektor efisiensi energi menjadi sumber lapangan kerja hijau (green jobs) penting lain, terutama di industri konstruksi, yang terkena dampak krisis paling parah.

Di Amerika Serikat, saat ini 3 juta penduduk bekerja di bidang produk dan jasa lingkungan. Di Spanyol, jumlah tenaga kerja hijau mencapai lebih dari 500.000 pekerja. Dengan melindungi hutan dan keanekaragaman hayati, Uni Eropa mampu menciptakan 14,6 juta lapangan kerja langsung dan tidak langsung di sektor ramah lingkungan.

Investasi internasional untuk mengurangi deforestasi (penebangan) dan kerusakan hutan sebesar US$ 30 miliar/tahun mampu menciptakan 8 juta tenaga kerja penuh waktu baru di negara berkembang.

Dengan membentuk organisasi profesi, sebanyak 15-20 juta pemulung di Kolombia, Brasil dan negara-negara lain mampu meningkatkan kesejahteraan sosial, ekonomi mereka sekaligus meningkatkan peran mereka dalam melestarikan lingkungan. Sementara Jerman mampu menciptakan 300.000 lapangan kerja baru setiap tahun dengan aksi penghematan energi dan pemangkasan polusi.

Di Asia, eksploitasi sumber daya alam telah menimbulkan kerusakan lingkungan dan hilangnya satu juta lapangan kerja akibat praktik tata kelola hutan yang tidak berkelanjutan. Hal yang sama terjadi di sektor perikanan dimana kehidupan nelayan semakin sulit akibat praktik ekspolitasi sumber-sumber perikanan.

Dengan beralih ke praktik ekonomi hijau, potensi penciptaan lapangan kerja baru di Asia dan negara-negara berkembang lain akan bisa jauh lebih tinggi dibanding negara maju.

Brasil misalnya telah berhasil menciptakan 3 juta lapangan kerja ramah alam baru, menyumbang 7% dari seluruh lapangan kerja di Negeri Samba tersebut.

Upaya menciptakan lapangan kerja yang ramah alam tersebut hanya bisa dicapai dengan kebijakan yang tepat. Yaitu kebijakan yang bisa mengatasi tantangan sosial, ekonomi dan lingkungan. Berikut empat kebijakan yang harus diterapkan seiring dengan peralihan negara ke ekonomi hijau.

Pertama, memromosikan dan menerapkan pola produksi yang berkelanjutan terutama di sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di delapan sektor yang telah disebutkan.

Kedua, memerbaiki jaminan sosial, meningkatkan pendapatan dan keahlian pekerja agar mereka bisa mengambil peluang dan manfaat dari peralihan ke ekonomi hijau.

Ketiga, menerapkan standar kerja internasional dan menghargai hak-hak pekerja.

Yang terakhir, menjalin dialog dengan pekerja dan serikat pekerja yang menjadi kunci tata kelola pembangunan yang berkelanjutan.

“Jika dikelola dengan baik, peralihan ke ekonomi hijau bisa menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak dan lebih baik, mampu mengurangi kemiskinan dan meningkatkan partisipasi masyarakat,” ujar Juan Somavia.

Redaksi Hijauku.com