Revolusi Hijau yang mampu meningkatkan produksi pangan ternyata tidak berhasil mengatasi masalah kelaparan dunia. 

Bayangkan apa yang ada di benak Anda ketika mendengar sistem pertanian yang banyak menggunakan bahan kimia dan tergantung pada peralatan mekanis berbahan bakar fosil.

Apa yang terlintas dalam fikiran Anda ketika mengetahui bahwa ada sistem pertanian yang merevolusi cara lahan berproduksi dengan merombak penggunaan lahan serta irigasi dan memodifikasi unsur-unsur genetis.

Bersyukurlah saat ini semakin banyak masyarakat yang sadar atas bahaya praktik-praktik yang dimulai sejak 1960-an ini. Hal ini juga yang memotivasi HijauKu.com, mengangkat kembali tema Revolusi Hijau.

Revolusi Hijau dimulai dengan sebuah mitos yaitu menciptakan benih ajaib untuk mengatasi masalah pangan dunia. Anda bisa membaca sejarah Revolusi Hijau di seri pertama tulisan ini.

Mitos ini berlanjut dengan asumsi: jika produksi pertanian mampu ditingkatkan secara signifikan, maka kesejahteraan petani juga akan semakin meningkat. Bencana kelaparan pun akan bisa diatasi.

Peter Rosset, Direktur Eksekutif Food First/The Institute for Food and Development Policy dalam artikelnya yang berjudul “Lessons from the Green Revolution” menyatakan, Revolusi Hijau memang telah merevolusi sistem pertanian tradisional pada 1970-an melalui penggunaan pupuk kimia, pestisida dan perombakan sistem irigasi.

Dengan tujuan untuk menggenjot produktifitas, praktik ini diterapkan oleh petani (baik secara sukarela maupun tidak) di negara-negara berkembang. Pada tahun 1990-an, sebanyak 75% lahan di Asia telah menggunakan padi varietas baru hasil Revolusi Hijau ini.

Separuh lahan di Afrika dan lebih dari separuh lahan di Amerika Latin telah menggunakan benih-benih gandum baru hasil Revolusi Hijau. Dan sekitar 70% lahan jagung dunia juga telah diganti dengan benih-benih hasil pengembangan Revolusi Hijau.

Secara keseluruhan menurut Peter Rosset, sekitar 40% petani di dunia ketiga kini telah menggunakan benih hasil teknologi Revolusi Hijau dengan penggunaan terbesar ada di wilayah Asia diikuti oleh wilayah Amerika Latin.

Lantas, apakah peningkatan produksi pertanian yang telah diraih selama ini berbanding lurus dengan pengurangan jumlah masyarakat miskin dan kelaparan?

Menarik untuk dibahas. Walaupun telah terjadi peningkatan pasokan pangan dalam dua dekade terakhir (sebesar 11% dari 1960), jumlah penduduk dunia yang kelaparan dan kekurangan gizi pada tahun 1990-an diperkirakan masih mencapai 786 juta orang.

Bahkan saat ini, berdasarkan data Program Pangan Dunia (World Food Program), jumlah penduduk yang kelaparan dan kekurangan gizi jumlahnya terus meningkat, mencapai 925 juta penduduk – mendekati jumlah penduduk yang kelaparan pada 1970-an yang mencapai 942 juta penduduk.

Di sejumlah negara seperti India dan Indonesia, yang sempat mengklaim sukses melaksanakan program Revolusi Hijau, masih banyak penduduk yang kekurangan gizi, kelaparan dan didera kemiskinan akut. Petani juga semakin tergantung pada pupuk kimia dan pestisida. Mereka kini sangat rentan terkena dampak kenaikan harga bahan bakar fosil. (Bersambung)

Redaksi Hijauku.com