Pendudukan Amerika Serikat atas Irak secara resmi berakhir Kamis lalu. Presiden AS, Barack Obama menyebut invasi ini berakhir sukses dan akan segera menjadi bagian dari sejarah.

Obama boleh menghibur diri, namun berbagai analisis menyebutkan, Irak adalah salah satu negara di muka bumi yang mengalami kerusakan terparah akibat peperangan dalam 40 tahun terakhir.

Saat AS “meninggalkan” Irak, kerusakan infrastruktur, lingkungan dan kemanusiaan hasil pendudukan AS selama sembilan tahun akan terus dirasakan oleh penduduk Negeri Seribu Satu Malam ini.

Jumlah total korban perang di Irak mencapai ratusan ribu jiwa. Puluhan ribu nyawa rakyat sipil termasuk perempuan dan anak-anak melayang. Banyak keluarga yang kehilangan orang-orang yang mereka cintai.

Rasa kehilangan ini akan terus memicu ingatan pahit akan sebuah perang yang tidak memiliki legitimasi, memicu konflik sektarian yang hingga kini masih terjadi.

Kerusakan lingkungan dari perang yang menghabiskan dana hingga US$1 trilliun (Rp.9000 trilliun) ini menurut para ahli akan bertahan selama berpuluh tahun.

Air di Irak terkontaminasi bahan radioaktif yang berasal dari amunisi tentara AS yang mengandung uranium. Air di Irak juga tercemar minyak yang digunakan oleh kendaraan militer.

Udara di Irak kini penuh sesak oleh polusi karbon dan partikel-partikel mikro berbahaya lain. Konsentrasi gas rumah kaca di Irak juga meningkat akibat perang yang dimulai oleh George W. Bush pada Maret 2003.

Situs Costsofwar.org menyebutkan, pada 2008, kebutuhan bahan bakar minyak bagi kendaraan militer AS di Irak mencapai 1,2 juta barrel per bulan. Sehingga konsumsi bahan bakar tentara AS dalam satu tahun pada 2008 setara dengan kebutuhan bahan bakar 1.210.000 juta mobil (1,2 triliun mobil) pada periode yang sama.

Polusi udara dari emisi kendaraan militer ini semakin diperparah dengan terbakarnya (dibakarnya) kilang-kilang minyak baik oleh tentara Irak maupun oleh tentara AS dan sekutunya.

Perang juga menghancurkan hutan dan rawa-rawa, kali ini tidak hanya di Irak namun juga di Afghanistan dan Pakistan. Penggundulan hutan di Afghanistan adalah yang terparah. Sebanyak 38% wilayah hutan di Afghanistan musnah dari tahun 1990 hingga 2007.

Hal ini terjadi akibat praktik penebangan liar yang dilakukan oleh para panglima perang lokal dan pengikutnya yang menikmati dukungan militer AS. Penggundulan hutan juga terjadi karena masyarakat menggunakan kayu sebagai ganti bahan bakar dan bahan bangunan yang semakin langka.

Menurut laporan Costofwar, semua kerusakaan lingkungan ini memicu kekeringan dan mengancam kehidupan alam liar. Perdagangan kulit binatang langka seperti macan tutul salju (snow leopard) bahkan terjadi di dekat markas tentara AS di Afghanistan. Rakyat Afghanistan yang lapar melakukan apa saja untuk terbebas dari kemiskinan, termasuk memburu binatang yang seharusnya dilindungi.

Debu di wilayah konflik juga menimbulkan masalah kesehatan. Lembaga Survey Geologis AS (US Geologic Survey) menemukan peningkatan kandungan logam berat seperti arsenik, timbel, kobalt, barium dan aluminum yang di atas rata-rata di Irak, Kuwait dan Afghanistan.

Peningkatan ini sejalan dengan peningkatan gangguan kesehatan yang dialami personel militer AS di wilayah-wilayah tersebut sejak tahun 2001. Jumlah personel militer AS yang menderita gangguan syaraf naik sebesar 251%, mereka yang menderita gangguan pernafasan naik sebesar 47% dan gangguan cardio-vascular meningkat sebesar 34% akibat terpapar debu-debu beracun.

Survei yang dilakukan di kota Falujah, Irak, pada awal tahun lalu (2010) melengkapi bukti terjadinya bencana kesehatan ini. Hasil survey menemukan, jumlah penderita kanker di Falujah meningkat tajam antara tahun 2005 hingga 2009. Jauh lebih besar dibandingkan jumlah penderita kanker di negara-negara tetangga seperti Mesir dan Yordania.

Tingkat kematian bayi di kota Fallujah juga jauh lebih tinggi – mencapai 80 kematian per 1000 kelahiran hidup – dibanding tingkat kematian bayi di Mesir (20 kematian per seribu kelahiran hidup), Yordania (17) dan Kuwait (10).

Pencemaran bahan radioaktif yaitu uranium yang berasal dari amunisi tentara Amerika Serikat menjadi salah satu penyebab utama bencana kesehatan di Falujah ini . Uranium yang telah mencemari air dan tanah di Falujah adalah bahan penyebab kanker. Diperlukan waktu hingga 4,5 miliar tahun untuk mengurangi dan mengurai separuh dari tingkat pencemaran uranium ini di alam.

Masalah-masalah lingkungan ini, bersama dengan konflik politik dan perebutan kekuasaan, akan terus menghantui kehidupan masyarakat, tidak hanya di Irak namun juga di negara-negara lain yang menjadi korban peperangan.

Jadi Mr Obama, jika Anda menyebut invasi militer negara Anda di Irak berakhir sukses, think again. Pastikan kali ini Anda memikirkannya dengan lebih seksama.

Redaksi Hijauku.com