Kandungan gas rumah kaca di bumi terus naik dan mencapai rekor tertinggi sejak masa pra-industri tahun lalu.

Fakta ini terungkap dari laporan terbaru Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization, WMO) yang dirilis Senin (21 November).

Laporan yang dipublikasikan dalam “Gas Bulletin” yang dikelola WMO ini memberikan perhatian khusus pada peningkatan konsentrasi gas nitrogen oksida (N2O). Pada saat yang sama, laporan ini juga mencatat tren peningkatan gas rumah kaca yang terjadi baru-baru ini.

Michel Jarraud, Sekretaris Jenderal WMO dalam siaran persnya menyatakan, “Bahkan jika kita berhasil menghentikan pencemaran gas rumah kaca sekarang – sesuatu hal yang mustahil dilakukan – gas-gas ini akan terus bersirkulasi di atmosfer selama puluhan tahun dan terus memengaruhi keseimbangan alam dan iklim bumi.”

Menurut laporan ini, terjadi peningkatan “kekuatan radiasi” (radiative forcing) – efek pemanasan global akibat gas rumah kaca – dalam 20 tahun terakhir hingga tahun 2010. Peningkatan terbanyak (80%) disumbang oleh karbon dioksida.

“Kita harus lebih memahami interaksi yang kompleks – yang terkadang tidak bisa ditebak – antara gas rumah kaca di atmosfer, samudera dan lingkungan hidup di Bumi,” ujar Jarraud.

Manusia dengan berbagai aktifitasnya – seperti pertanian dan pemakaian bahan bakar fosil – menyumbang polusi gas rumah kaca terbesar. Gas-gas ini mencegah radiasi keluar dari atmosfer bumi sehingga bumi makin panas.

Karbon dioksida (CO2), metana (CH4) dan gas nitrogen oksida (N2O) adalah tiga kontributor utama gas rumah kaca.

CO2 adalah gas rumah kaca yang diproduksi oleh manusia dan memiliki kontribusi terbesar (64%) terhadap total peningkatan efek pemanasan global. Kandungan CO2 di atmosfer naik 39% dari masa pra industri yang terjadi sekitar tahun 1750.

Metana (CH4) menyumbang 18% total peningkatan efek pemanasan global sejak 1750 dan menjadi gas rumah kaca terpenting kedua setelah karbon dioksida.

Sementara has Nitrogen Oksida (N2O) “hanya” menyumbang 6% total peningkatan efek pemanasan global sejak tahun 1750, namun gas ini juga merusak lapisan ozon yang melindungi bumi dari efek berbahaya sinar ultraviolet.

Gas rumah kaca lain yang menyumbang efek pemanasan global adalah halokarbon (12%). Salah satu jenis halokarbon yang dipakai di alat pendingin, gas penyemprot dan bahan pelarut adalah CFC.

Penggunaan CFC saat ini sudah jauh berkurang seiring dengan keberhasilan kampanye global melindungi lapisan ozon. Namun konsentrasi gas-gas pengganti CFC seperti HCFC dan HFC kini terus meningkat.

Kedua gas pengganti ini – walau aman bagi ozon – berbahaya bagi alam karena bersirkulasi lebih lama sebagai gas rumah kaca di atmosfer dibanding karbon dioksida. Laporan Hijauku.com tentang bahaya HCFC dan HFC bisa dibaca di tautan berikut.

Redaksi Hijauku.com