Gaya hidup komuter pelan tapi pasti mulai ditinggalkan. Bekerja dari rumah atau “telecommuting” menjadi solusi tepat bagi mereka yang ingin bekerja cerdas sekaligus membantu melestarikan lingkungan.

Analisis American Progress menyebutkan jika pekerja melakukan “telecommuting” setidaknya dua hari dalam seminggu, mereka bisa mengurangi konsumsi dan biaya BBM hingga 40%. Tren ini juga mampu mengurangi polusi karbon dioksida hingga 10 miliar kg per tahun.

Dengan bekerja dari rumah, pekerja bisa secara fleksibel mengatur tempat dan waktu bekerja. Pekerja juga memiliki lebih banyak waktu produktif yang hilang saat mereka berkomuter serta waktu berkualitas bersama keluarga.

Teknologi memiliki peran penting dalam mendukung gaya hidup baru ini. Pekerja bisa memanfaatkan jaringan pribadi (private network) dan fasilitas konferensi via video (videoconferencing) yang bisa memperpendek jarak dan waktu antara rumah dan tempat mereka bekerja.

Banyak pekerja di Amerika Serikat dan di dunia yang terpaksa harus tinggal di luar kota karena tingginya biaya hidup di dalam kota. Lebih dari separuh pekerja komuter menempuh jarak lebih dari 35 km dari dan ke tempat kerja setiap hari. Dengan harga BBM yang terus naik, biaya yang dibutuhkan untuk transportasi juga semakin membengkak.

Gaya hidup komuter juga meningkatkan polusi udara di hampir seluruh kota di Amerika Serikat dan di dunia. Khusus di AS, 4,2 miliar jam kerja terbuang per tahun karena gaya hidup komuter ini, dengan jumlah pemborosan BBM mencapai 15 miliar liter per tahun atau setara dengan 58 supertankers penuh BBM.

Penelitian di Massachusetts pada 1996 menunjukkan, mereka yang bekerja dari rumah tidak kalah produktif dengan mereka yang bekerja di kantor.

Pekerja yang bekerja di rumah juga lebih bahagia dan berdedikasi karena mereka bisa menyeimbangkan kehidupan profesional dan rumah tangga. Mereka juga membantu mengurangi pemakaian energi dan polusi kendaraan bermotor.

Saat ini lebih dari 45 juga rakyat Amerika yang bekerja dari rumah setidaknya sehari dalam seminggu. Di seluruh dunia tren ini terus mengalami peningkatan.

Dalam dua tahun terakhir jumlah mereka yang bekerja dari rumah setidaknya sekali dalam sebulan di AS naik sebanyak 10% dan sebanyak 20% pekerja pernah mempraktikkannya.

Di negara bagian Connecticut, misalnya, jumlah telecommuters paruh waktu melonjak 86% sejak 2001. Di Maricopa County, Arizona, lebih dari 20% pekerja di negara bagian ini memratikkan program kerja jarak jauh. Hasilnya, mereka bisa menghindari perjalanan sejauh 8,3 juta km, mengurangi 70.000 kg polusi udara dan menghemat waktu perjalanan berkendara sebanyak 181.000 jam.

Menurut Asosiasi Elektronik Amerika (American Electronics Association), sebanyak 5 miliar liter bensin bisa dihemat per tahun jika setiap pekerja melakukan kerja jarak jauh (telecommuting) setidaknya 1,6 hari setiap minggu, dan menurut Lembaga Perlindungan Lingkungan AS (Environmental Protection Agency) praktik itu bisa mencegah polusi karbon dioksida sebanyak 10 milliar kg/tahun.

Pada 2010, jumlah mereka yang bekerja dari rumah diperkirakan meningkat menjadi 100 juta orang. Hal ini dipermudah oleh akses internet yang semakin cepat dan mudah serta keinginan untuk menyeimbangkan pola hidup.

Kemewahan bekerja dari rumah kini tidak hanya dinikmati oleh para seniman, penulis dan wirausahawan. Tren menunjukkan semakin banyak warga dunia yang bisa melakukannya. Apalagi di tengah ancaman penyebaran virus Corona atau COVID-19 yang terus memakan korban. Bekerja dari rumah akan mampu mengurangi risiko penularan virus Corona secara signifikan. Tren bekerja dari rumah ini akan terus berlanjut dan pada masa datang, kantor akan hilang dan menjadi situs purbakala abad ke-20.

Redaksi Hijauku.com