Biaya kuliah di Amerika akan terus naik hingga 15% pada 2015. Lembaga pendidikan tinggi banyak yang menghadapi krisis fasilitas. 

Tidak terkecuali fasilitas parkir di kampus. Namun Ripon College, sebagaimana dilaporkan oleh situs American Progress, memiliki solusi inovatif untuk masalah ini. 

Akademi yang berlokasi di Wisconsin ini menolak menyemen halaman atau ruang terbuka mereka untuk dijadikan lahan parkir.

Alih-alih mereka memulai tahun ajaran dengan membagikan sepeda gunung gratis ke setiap mahasiswa baru yang berjanji tidak akan membawa mobil ke kampus selama setahun.

Para peserta di program bernama Velorution ini juga mendapatkan helm dan kunci sepeda. Dengan mengikuti program ini, para mahasiswa memilih untuk menjalani gaya hidup sehat, menciptakan lingkungan yang bersih, bebas polusi dan bebas macet.

Program ini membutuhkan dana sebesar US$50,000, lebih murah dibandingkan biaya membangun lahan parkir baru di kampus.

Sekolah memperoleh dana dari alumni, dewan pengawas sekolah dan lembaga donor. “Kami menolak membangun parkiran baru karena ingin mahasiswa kami sehat dan aktif. Kami juga ingin menghemat energi,” ujar David Joyce, Dekan di Ripon. “Bagi mahasiswa program ini memberikan pilihan gaya hidup. Bagi sekolah, kami ingin turut melestarikan lingkungan.”

Sejauh ini program di Ripon berlangsung sukses. Sebanyak 60% mahasiswa baru di sekolah yang memiliki lebih dari 1000 siswa ini mendukung program bersepeda di kampus. Angka partisipasi ini lebih tinggi dari perkiraan sekolah sebesar 40%.

Dan Ripon bukan satu-satunya sekolah yang memiliki program kreatif yang berhasil menarik mahasiswa meninggalkan mobil mereka. Asosiasi Pengembangan Pelestarian Lingkungan di Sekolah Tinggi Amerika (Association for the Advancement of Sustainability in Higher Education) mencatat, lebih dari 60 lembaga pendidikan tinggi di AS telah memiliki program berbagi-sepeda (bike-sharing) dan penyewaan sepeda (bike-renting).

Mahasiswa di Universitas California Berkeley memiliki program berjuluk Green Bike Share. Program ini memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk memakai satu dari 20 sepeda di kampus kapan saja sepanjang hari dengan biaya US$15 per semester.

Tidak seperti program bike-sharing lain yang berskala besar – seperti program Velib di Paris atau program SmartBike di Washington D.C., pihak universitas melengkapi sepeda dengan berbagai asesoris seperti kunci pengaman, lampu depan dan belakang, keranjang di belakang sepeda, peralatan keselamatan bahkan peta kampus.

Program Bike Emory dari Universitas Emory juga mendorong mahasiswa dan staff untuk meninggalkan kendaraan mereka di rumah dan beralih ke sepeda. Program senilai US$250,000 ini bahkan menawarkan potongan harga bagi mereka yang ingin membeli sepeda dan program “bike-sharing” bagi mereka yang masih menggunakan mobil namun ingin bersepeda jarak dekat di kampus.

Program berbagi-sepeda komersial mengenakan biaya keanggotaan hingga US$40 per tahun dan biasanya mengandalkan pemasukan dari pemasang iklan untuk menutup biaya pengadaan sepeda baru, perawatan sepeda dan bengkel sepeda. Clear Channel misalnya membayar US$153 juta ke Washington, D.C. dengan imbalan hak pemasangan iklan di kios-kios dalam program SmartBike.

Biaya dalam program-program kampus memang lebih rendah dengan kendala yang juga lebih sedikit. Program kampus biasanya bahkan memberikan layanan gratis bagi pegawai dan mahasiswa mereka.

Namun, semakin sukses sebuah program sepeda, semakin besar biaya dan tenaga yang dibutuhkan mengelolanya. Program bersepeda membutuhkan sarana seperti parkiran sepeda (bike rack), perawatan dan peralatan sepeda.

Untuk menghemat dana, program berbagi-sepeda gratis bernama “Reggie Ride” milik Illinois State University, bahkan berinisiatif untuk memperbaiki sepeda-sepeda tua di kampus.

Sementara program sepeda di Universitas Berkeley adalah pemenang kompetisi “Big Ideas” yang diselenggarakan oleh kampus. Kompetisi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan di kampus itu memberikan dana sebesar US$10,000 bagi sang pemenang untuk mewujudkan ide mereka.

Di Universitas Washington, pihak universitas memanfaatkan dana hibah sebesar US$200,000 dari Departemen Transportasi untuk pengadaan 40 sepeda listrik bagi pesepeda yang malas menaklukkan jalan-jalan di Seattle yang berbukit-bukit.

Dengan semakin tingginya aktifitas bersepeda, pihak universitas di AS terus menambah berbagai fasilitas untuk pesepeda seperti rak sepeda beserta fasilitas-fasilitas lain.

Para petinggi di Universitas Western Kentucky bahkan mempertimbangkan untuk membangun tempat penyimpanan dan paviliun sepeda khusus (special bike lockers and pavilions), sedangkan staff di Ripon bergelut dengan salju saat musim dingin untuk memastikan jalur sepeda aman.

Mahasiswa di Universitas Missouri di Negara Bagian Columbia bisa memetik manfaat dari program kota yang didanai oleh pemerintah federal yang akan membangun jalur khusus bersepeda tambahan sepanjang 100 km (66 miles) dan jalan dengan tanda untuk pesepeda sejauh 36 km (23 miles) dalam beberapa tahun mendatang.

Mengurangi lahan parkir di kampus hanyalah salah satu manfaat dari program berbagi sepeda. Pada 2007, dekan-dekan dari 284 akademi dan universitas di AS telah menandatangani kesepakatan untuk menciptakan lingkungan yang bebas polusi secepat mungkin.

Mendorong mahasiswa untuk meninggalkan mobil di rumah, seperti yang dilakukan di Ripon, atau memarkir mobil lebih sering membantu mengurangi emisi udara dan menciptakan kampus yang bebas polusi.

Biaya bersepeda yang murah juga menarik mahasiswa yang ingin berhemat. Belum lagi manfaat lain seperti manfaat kesehatan, kualitas udara yang lebih baik dan polusi yang terus berkurang. Semua manfaat itu akan membuat program bersepeda di kampus terus menjadi tren dalam berabad ke depan.

Redaksi Hijauku.com