Membaca pesan-pesan Giulio Boccaletti dalam The Environmental Republic.
Oleh: Jalal
Buku The Environmental Republic: Why Citizens Will Save the World dibuka dengan sebuah fabel dari Sardinia. Dongeng yang ditulis oleh Antonio Gramsci dari penjara untuk kedua putranya ini mengisahkan seekor tikus yang mencuri semangkuk susu seorang bayi. Bayi yang kehilangan susunya itu pun menangis keras. Merasa bersalah, tikus lalu meminta susu kepada kambing. Namun kambing tidak memiliki susu karena tidak ada rumput untuk di makan dan air untuk diminum. Tikus lalu meminta rumput kepada padang ilalang dan air kepada gunung. Namun padang ilalang dan gunung juga tidak memiliki rumput dan air. Hutannya telah mengering dan lahannya telah gundul akibat deforestasi. Di akhir kisah, sang bayi sendiri yang kelak menanam kembali hutan tersebut untuk mendapatkan susu, rumput dan air.
Penulis buku ini, Giulio Boccaletti adalah ilmuwan atmosfer yang kini memimpin Pusat Riset Iklim Euro-Mediterania dan pernah menjadi kepala strategi di The Nature Conservancy. Boccaletti memungut kisah ini bukan untuk mencaci rencana sang tikus, melainkan demi sebuah pertanyaan yang lebih mendalam: “Mengapa semua manusia kini justru bermain dalam lakon yang mirip dengan kisah tikus itu?”
Pertanyaan ini lahir dari tiga dekade kekecewaan Boccaletti. Diawali oleh pengakuan Boccaletti bahwa sebagai seorang ilmuwan, ia tak menyangkal adanya krisis (lingkungan, perubahan iklim dan kerusakan habitat). Sebagai ilmuwan, Boccaletti percaya, persoalan tersebut tidak bisa diatasi hanya dengan teknologi. Sehingga dengan berani Boccaletti menyatakan, ada yang keliru dengan cara kita mengatasi krisis-krisis tersebut.
Boccaletti menulis disertasinya ketika Protokol Kyoto ditandatangani. Ia adalah salah satu penulis bab dalam laporan IPCC. Ia juga menyaksikan COP 15 di Kopenhagen pada 2009 bubar tanpa kesepakatan. Konsentrasi CO2 akhirnya terus merangkak naik dari 364 ppm pada 1997 menjadi lebih dari 422 ppm di 2024. Bukti-bukti dan diagnosis ilmiah semakin presisi. Pertanyaannya, mengapa kenyataan itu tak menggerakkan siapa pun untuk bertindak mengatasi krisis?
Boccaletti lalu teringat pernyataan seorang insinyur Three Gorges Dam, bendungan hidroelektrik dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) terbesar di dunia yang terletak di Sungai Yangtze, Sandouping, Yichang, Provinsi Hubei, Tiongkok. Saat ditanya apakah ia menyesali hilangnya lanskap dan berbagai spesies sungai akibat dibangunnya bendungan tersebut, ilmuwan itu justru menjawab, bahwa Sungai Yangtze toh sudah berubah selama puluhan juta tahun. Sang insinyur ini malah mengalihkan tanggung jawab menjadi cerita sejarah alam. Saat itulah Boccaletti berkesimpulan: “Kita semua, manusia, sudah tergelincir dan salah arah.”
Tiga Tiang Penyangga
Tesis buku Boccaletti ini sangat lugas: krisis lingkungan adalah sintesis politik, bukan sintesis ilmiah. Sains menerangkan apa yang terjadi, tetapi agaknya sains tak dapat menjawab apa yang semestinya kita perbuat, atau setidaknya sains tidak didengarkan ketika berusaha menjawabnya. Anggapan bahwa persoalan usai bila fakta disepakati adalah kenaifan; yang perlu dirundingkan adalah permasalahan terkait apa yang kita yakini benar bagi kehidupan bersama. Jawabannya, ia sebut sebagai The Environmental Republic atau Republik Lingkungan, sebuah tatanan yang membebaskan warga dari dominasi, yang disangga oleh tiga tiang: suara (aspirasi), institusi, dan tujuan.
Bagian Pertama buku ini menguji setiap tiang melalui satu persoalan di Planet Bumi.
Di Bab Pertama Boccaletti berlabuh di negeri bernama Barbados, negeri asal Diva Pop, Rihanna, yang pada tengah malam 30 November 2021 menjadi sebuah republik. Pulau itu selama 400 tahun pernah menjadi lokasi perbudakan Inggris paling sukses. Bagi masyarakat Barbados, kemerdekaan sejati bukan sekadar status politik, melainkan perjuangan yang mengakar pada geografi mereka yaitu:
- Tanah: Perjuangan atas kepemilikan lahan yang dulunya dikuasai penuh oleh para pemilik perkebunan kolonial.
- Laut: Ketergantungan ekonomi pada lautan, mulai dari industri perikanan hingga pariwisata modern.
- Badai: Sebagai negara kepulauan di Karibia, Barbados berada di garis depan krisis iklim dan ancaman badai tropis, yang menuntut mereka untuk terus berjuang demi ketahanan dan kedaulatan lingkungan mereka di panggung global.
Di bab ini, Boccaletti menegaskan bahwa menjadi republik bukan sekadar menjadi negara tanpa raja. Dari sinilah kita belajar bahwa kebebasan, dalam tradisi Romawi, bersifat kewargaan, bukan tindakan: sehingga budak yang dimanjakan oleh tuan yang baik hati, tetap tak akan merdeka.
Bab Kedua memberangkatkan kapal Nordic Orion menembus Lintasan Barat Laut yang mencair pada 2013, dan dari sana Boccaletti tiba pada kesimpulan yang tak mengenakkan: konservasi samudra pada akhirnya adalah masalah keamanan, yakni kemampuan melakukan aksi. Ketika es surut, benua Arktika berubah dari cagar alam menjadi arena persaingan, dan hanya angkatan laut lah yang sanggup meronda ruang tiga dimensi itu. Kawasan konservasi laut sering mengecewakan bukan karena kurang niat, melainkan lantaran memang kekurangan biaya patroli yang jauh melampaui dana konservasi.
Bab Ketiga membawa kita pulang ke Budrio, kota masa kecil Boccaletti. Luapan hebat Sungai Idice pada pertengahan Oktober 2024 merendam pusat kota di wilayah Emilia-Romagna, Italia ini dan memaksa evakuasi massal. Tanggul-tanggul pembatas yang didesain berdasarkan kalkulasi curah hujan abad lalu terbukti tidak lagi memadai saat daerah tersebut dihantam curah hujan ekstrem melebihi 160 mm dalam waktu singkat.
Beberapa hari kemudian, kota Valencia kehilangan 224 nyawa warganya akibat banjir bandang. Raja Felipe VI dilempari lumpur Minggu, 3 November 2024, saat melakukan kunjungan resmi ke Paiporta, salah satu wilayah terparah yang terdampak bencana. “Institusi kita,” tulis Boccaletti, “didesain untuk dunia yang mandek.” Boccaletti pun lalu jujur soal kemunafikan perundingan iklim: “Negara kaya melihatnya sebagai urusan polusi, sedangkan sebagian besar dunia melihatnya sebagai perjuangan lama untuk berkembang dan merdeka. Buruh pabrik mobil di Turin yang tersisih oleh kendaraan listrik tak boleh protes,” tulisnya. Menurut Boccaletti, legitimasi – mengutip Habermas – lahir dari prosedur, bukan dari norma yang ditetapkan terlebih dulu.
Bab Keempat menelanjangi kata ‘alam’ itu sendiri. Selama memimpin strategi lembaga konservasi terbesar dunia, Boccaletti tak menemukan definisi memuaskan tentang apa yang sedang mereka lindungi. Para donor tak mau membiayai sesuatu yang ‘kurang buruk’; mereka ingin menyelamatkan “sesuatu” dan yang mereka bayangkan adalah alam menurut versi kepala mereka sendiri.
Boccaletti lalu menelusuri akar Romantisisme dan Pastoralisme Amerika yang berasal dari perpaduan unik antara tradisi sastra Eropa (terutama Inggris dan Jerman) dengan realitas geografis, sosial, dan politik Benua Amerika yang baru merdeka.
Kemerdekaan Amerika Serikat pada tahun 1776 melahirkan identitas nasional yang sangat menjunjung tinggi kebebasan individu. Penyair seperti Walt Whitman merayakan ego individu, tubuh manusia, dan keberagaman demokrasi Amerika yang ia anggap tumbuh secara organik layaknya rumput di alam bebas. Sementara sentimen pastoral memandang kota sebagai pusat pembusukan moral dan kematian, sedangkan pedesaan/alam adalah simbol kemurnian, kebebasan, dan kejelasan moral. Boccaletti lalu membayangkan penyerapan karbon di hutan Tiongkok dari angkasa lalu bertanya: “Apakah koordinasi sebesar itu, hanya mungkin dilakukan, jika manusia diperlakukan sebagai benda?”
Bagian kedua buku ini yang bersifat membangun.
Boccaletti memulai bagian kedua dengan Bab Kelima yang berkisah tentang seorang ahli hidrogeologi yang memamerkan rencana pipa sepanjang seribu kilometer – sejauh Milan ke Paris – di Borana, Ethiopia. Rencana ini tidak pernah terwujud. Padahal, orang Borana selama berabad-abad telah mengelola sumur dan ternak melalui sistem Gadaa, sistem pemerintahan adat kuno suku Oromo (di mana Borana menjadi salah satu klan utama) yang membagi masyarakat ke dalam kelas-kelas generasi. Sistem ini diakui secara global oleh UNESCO sebagai warisan budaya takbenda karena nilai-nilai demokrasinya. Gadaa juga merupakan majelis tetua yang oleh pengamat Eropa abad kesembilan belas disebut hampir seperti “Republik Murni”, sampai Kaisar dan Rezim Derg menghapusnya.
Selanjutnya Boccaletti berbagi sejarah besar kehadiran air di antara Kota New York dan Pegunungan Catskills; bagaimana New York sebagai sebuah kota metropolitan raksasa mengubah lembah-lembah pegunungan yang asri menjadi sumber kehidupan utamanya. Dalam cerita ini, inovasi yang diangkat Boccaletti bukan soal jasa ekosistem, melainkan perjanjian yang membuat warga di hulu, turut menikmati manfaat di hilir. Cerita ini menggariskan pentingnya memetakan fungsi lingkungan di daerah aliran sungai.
Bab Keenam membahas soal kelembagaan melalui kisah kebakaran di Las Conchas, New Mexico pada tahun 2011 yang merupakan potret nyata dari paradoks pengelolaan hutan modern. Peristiwa ini menjadi contoh klasik bagaimana niat baik manusia yang menekan api selama puluhan tahun justru mengubah hutan menjadi sebuah “sumbu” bom waktu yang siap meledak. Dan setelah kebakaran selesai, ketika hujan lebat mengguyur bekas lahan yang hangus, tidak ada lagi vegetasi atau akar pohon yang menahan tanah. Akibatnya, terjadi banjir bandang yang membawa jutaan ton abu, arang, sedimen beracun, dan puing-puing hitam legam langsung masuk ke aliran Sungai Rio Grande. Keran air di dua kota besar di wilayah aliran sungai tersebut yaitu Albuquerque dan Santa Fe pun menghitam selama empat puluh hari.
Guna mengatasi krisis kepercayaan dan kegagalan sistemik ini, Boccaletti menawarkan sebuah restrukturisasi radikal: Pertama, menjadikan Kesehatan Masyarakat sebagai Teladan: Pengelolaan lingkungan harus meniru sistem kesehatan masyarakat modern, di mana sains menjadi pengetahuan bersama (shared knowledge), memiliki transparansi, serta didukung oleh hukum dan kepercayaan publik yang kuat. Kedua, membentuk Badan Publik Terkorporatisasi: Pembentukan lembaga publik yang terkorporatisasi dimaksudkan agar memiliki efisiensi operasional yang tinggi, namun tetap tunduk penuh pada kedaulatan rakyat (popular sovereignty) dan tanggung jawab sipil, bukan pada kepentingan profit korporasi murni atau sekadar biokrasi yang kaku.
Bab Ketujuh rasanya menjadi bab yang paling heterodoks (menyimpang dari kepercayaan resmi) bagi kaum pecinta lingkungan. Tiongkok kali ini yang dijadikan cermin: negeri yang sudah mendeklarasikan peradaban ekologis dan menguasai industri panel surya serta baterai, namun pada saat yang sama juga membangun pembangkit batubara tercepat dan penghasil emisi terbesar di dunia. Boccaletti menyatakan, tujuan hijau yang ditetapkan negara tanpa suara warga dan institusi yang mengimbanginya, belum berhasil menjadikan Tiongkok sebagai Republik Lingkungan.
Dari Sun Yat-sen, yang pernah diasingkan di London lalu membayangkan Sungai Yangtze sebagai jantung pembangunan Tiongkok, hingga Amartya Sen, Boccaletti menyatakan bahwa pertumbuhan bukan ukuran pemakaian sumberdaya, melainkan ukuran penentuan nasib sendiri; yang dipersoalkan adalah mutu pembangunannya. Ia lalu membedah kemacetan pendanaan iklim hingga Baku 2024, dan betapa pasar karbon kesulitan menghargai hutan yang sudah lestari.
Bab Kedelapan ditutup dengan gagasan Jean Monnet mengenai Otoritas Internasional untuk Ruhr (International Authority for the Ruhr / IAR) yang merupakan salah satu titik balik terpenting pasca-Perang Dunia II yang melahirkan fondasi bagi berdirinya Uni Eropa modern. Menurut Boccaletti, “Uni Eropa semestinya berani menjadi Republik Lingkungan Federal.” Hal ini mencerminkan kritik sekaligus gagasan kontemporer (yang sering kali juga disuarakan oleh para pemikir hijau, filsuf politik, atau aktivis lingkungan di Eropa) mengenai arah integrasi masa depan Uni Eropa.
Epilog buku ini meminjam kebijakan Hannah Arendt yang menyatakan bahwa: “Sains bukan arena perdebatan demokratis” dan Manifesto Ventotene (yang ditulis oleh Altiero Spinelli dan Ernesto Rossi saat diasingkan di pulau Ventotene pada tahun 1941).
Menurut Hannah Arendt, sains bekerja berdasarkan kebenaran faktual dan metode ilmiah, bukan berdasarkan jumlah suara terbanyak atau opini publik. Sementara dalam sistem demokrasi, kebijakan ditentukan lewat konsensus, negosiasi, dan kompromi. Sebaliknya, sains tidak bisa “didemokratisasikan” dalam arti bahwa sebuah fakta ilmiah (seperti perubahan iklim atau efektivitas medis) tidak menjadi benar atau salah hanya karena mayoritas orang menyetujui atau menolaknya.
Mencampuradukkan keduanya hanya akan melahirkan pembenaran atas sains palsu (pseudoscience) demi kepentingan politik. Sementara Manifesto Ventotene menyerukan persatuan Eropa yang bebas dari totalitarianisme dan nasionalisme ekstrem pasca-Perang Dunia II.
Boccaletti juga mengarisbawahi dalam epilognya bahwa media sosial bukan institusi politik, bahwa riuh rendahnya percakapan, algoritma, dan polarisasi di media sosial tidak sama dengan proses institusional politik yang sah.
Dengan mengaitkannya pada konteks modern, epilog tersebut tampaknya ingin mengingatkan kita kembali pada esensi kebebasan manusia, pengorganisasian institusi yang sehat, dan perlindungan ruang publik dari distorsi modern—baik itu distorsi pasar global, penyelewengan sains, maupun jebakan dunia digital.
Jika ingin ‘membaca’ seluruh isi buku ini secara ringkas, saya telah meminta 2 mesin AI untuk membuat tabel ringkasan setiap bab, dengan hasil sebagai berikut:
| Bagian | Kisah dan kasus kunci | Argumen inti | Implikasi |
| Pendahuluan: A Rendezvous of Victory | Dongeng tikus dan gunung dari Gramsci; insinyur Bendungan Tiga Ngarai; Kyoto (1997) hingga Kopenhagen (2009); CO2 naik dari 364 ke 422 ppm | Diagnosis ilmiah presisi tetapi tidak menggerakkan aksi, karena krisis lingkungan adalah sintesis politik, bukan ilmiah. Pendekatan teknokratis dan moralistik gagal. Penulis mengusulkan Republik Lingkungan, yakni kebebasan sebagai tindakan non-dominasi dengan suara, institusi, dan tujuan | Perdebatan bergeser dari “apa yang benar” ke “pilihan mana yang paling sah”. Pertanyaan pokoknya: siapa “kita”? |
| Bab 1: To Be Free | Barbados menjadi republik (30 November 2021); sejarah perbudakan dan perkebunan gula; Mia Mottley | Republik bukan sekadar negara tanpa raja. Kebebasan (libertas) adalah lawan dominasi. Tanah, laut, dan badai tak terpisah dari penentuan nasib sendiri | Kemerdekaan politik dan hubungan dengan lingkungan bersifat konstitutif. Republik selalu berakar pada tempat |
| Bab 2: Ruling the Waves | Kapal Nordic Orion melintasi Lintasan Barat Laut (2013); UNCLOS; Arktik yang mencair; sejarah republik maritim dan angkatan laut | Suara atas ruang bersama global tak dapat direduksi menjadi aturan berbasis sains. Konservasi laut pada dasarnya adalah masalah keamanan dan penegakan | Lingkungan tak lepas dari kuasa koersif dan geopolitik. Kawasan konservasi laut gagal bila biaya patroli melampaui pendanaannya |
| Bab 3: Fruits of the Cyclone | Banjir Budrio (2024) dan Valencia (224 jiwa); dewan reklamasi (bonifica); sejarah meteorologi; kegagalan Kopenhagen; buruh otomotif Turin | Institusi disetel untuk iklim yang stasioner. Negara kaya melihat iklim sebagai polusi, dunia lainnya melihatnya sebagai perjuangan berkembang. Keberatan atas transisi bukan kebodohan | Legitimasi lahir dari prosedur (Habermas). Kita perlu institusi yang sanggup merundingkan pilihan nyata beserta korbannya |
| Bab 4: The Nature of Nature | Pengalaman penulis di The Nature Conservancy; akar Romantik dan pastoral Amerika; Aldo Leopold; reforestasi Tiongkok yang terlihat dari angkasa | “Alam” tak pernah terdefinisi jelas, dan “melestarikan alam” tak cukup sebagai tujuan Republik. Sejarah alam dan sejarah manusia kini menyatu. Otoritarianisme menawarkan koordinasi dengan memperlakukan manusia sebagai benda | Tujuan republik harus menemukan keseimbangan antara sintesis Bumi dan keberagaman politik manusia |
| Bab 5: Emergent Voices | Kartun Steinberg; sistem Gadaa suku Borana (Ethiopia); Asante dan hutan Ghana; ius terrendi; pakta air New York dan Catskills; protes petani Eropa 2024 | Suara harus membawa tempat yang jelas. Teknologi adalah gejala, tata pemerintahan yang menentukan. Perwakilan perlu memetakan fungsi lingkungan seperti daerah aliran sungai | Bangun pakta hulu-hilir yang membagi manfaat, dan hormati keinginan bebas dari dominasi, termasuk pada petani yang menolak |
| Bab 6: Republican Institutions | Kebakaran Las Conchas (2011) dan dana air New Mexico; Henry George dan renta tanah; analogi kesehatan masyarakat; uji kausal kawasan lindung TNC; belanja COVID dibanding konservasi | Lanskap dikelola lewat badan publik terkorporatisasi dan negara sebagai investor, operator, dan perunding. Ilmu lingkungan belum punya epistemologi bersama, teori kausal, dan kepercayaan | Bangun pengetahuan bersama, bukti kausal, dan kepercayaan seperti pada kesehatan publik. Kepemilikan lahan penting sebagai landasan institusi |
| Bab 7: Purpose as Development | Tiongkok sebagai Peradaban Ekologis yang tetap otoriter; Sun Yat-sen; sejarah gerakan lingkungan; mitos perang air; COP29 Baku dan pasar karbon; Amartya Sen | Pertumbuhan bukan ukuran pemakaian sumberdaya, melainkan ukuran penentuan nasib sendiri. Yang dipersoalkan adalah mutu pembangunan. Tujuan hijau tanpa suara dan institusi belum menjadi Republik Lingkungan | Tujuan republik adalah pembangunan sebagai kebebasan. Kata “lingkungan” menerangkan caranya, bukan tujuannya |
| Bab 8: We, the People | Jean Monnet dan Otoritas Ruhr; konstitusi Eropa yang gagal (2004); banjir dan kekeringan Eropa; regulasi bebas deforestasi | Eropa, yang merupakan “kita” dalam perspektif penulis, dapat menjadi republik lingkungan federal. Pasar sebesar itu tak boleh menjadi dominasi baru atas produsen miskin | Dukung penentuan nasib sendiri pihak lain. Batas yang sah lahir dari kesepakatan warga, bukan dari batas planet yang absolut |
| Epilog: A New Axial Age | Manifesto Ventotene (1941); Hannah Arendt; media sosial dan suara warga | Sains bukan arena perdebatan demokratis. Lingkungan sebagai isu moral dan manajerial akan kalah oleh perang dan ekonomi. Politiknya harus direbut kembali | Reformasi politik adalah prioritas. Buku ini menawarkan metode, bukan daftar aksi |
Benang merah buku ini jelas: krisis lingkungan menuntut jawaban tentang bagaimana cara kita mengatur diri sendiri, bukan hanya bagaimana kita mencari dan menyajikan fakta secara lebih baik. Jawabannya adalah dengan membangun suara warga setempat, institusi yang sanggup bertindak dan bertanggung jawab, yang memiliki tujuan bersama yaitu mewujudkan kebebasan dan pembangunan yang berkualitas.
Mengurus Rumah Sendiri, Indonesia
Saya membaca buku ini dengan penuh rasa syukur, karena buku ini menolak dua kemalasan sekaligus: dengan menyalahkan para pendusta, dan memuja teknokrat. Kirkus Reviews menyebut buku ini sebagai perpaduan penuh harapan antara sains dan filsafat politik, dan saya sepenuhnya setuju dengan penggambaran seperti itu.
Prosanya bersahaja sehingga mudah diikuti, kisah-kisahnya menarik dan jelas dipilih dengan baik, dan keberaniannya membela pembangunan di hadapan kaumnya sendiri sungguh langka.
Bagi kita, gema argumennya terlalu nyaring untuk diabaikan. Kebakaran hutan dan lahan yang masih berlangsung hingga detik ini, banjir bandang Sumatra pada akhir 2025 yang merenggut lebih dari seribu jiwa di tiga provinsi, dan sebuah kajian ekologi politik menemukan korelasi kuat antara area deforestasi, konsesi korporasi dan konsentrasi korban tertinggi. Itulah Budrio atau analogi dalam skala yang lebih pedih: sungai meluap, tetapi yang membuatnya berbahaya adalah keruntuhan tata kelola.
Sementara itu, RUU Masyarakat Adat sudah dibahas lebih dari enam belas tahun tanpa pengesahan. Padahal sekitar 26,2 juta hektare wilayah adat berada di dalam kawasan hutan negara. DPR kini menargetkan pengesahannya sebelum akhir 2026. Suara yang belum diberi rumah konstitusional, kata Boccaletti di buku ini, sulit diharapkan untuk bisa menjaga rumah.
Walaupun saya sangat mengapresiasi segala capaiannya, tentu ada ruang bagi perbaikan. Kirkus menulis definisi Republik dalam buku ini memiliki beberapa tepi yang tampak terlampau idealistis, dan saya sependapat. Contohnya lebih banyak tepi yang bertumpu pada Eropa, Amerika, dan Karibia; padahal kelembagaan hidup di Nusantara seperti subak, sasi, dan hutan adat layak menjadi kisah-kisah terpilih.
Buku ini juga belum cukup menjawab bagaimana lembaga berbasis kepemilikan lahan mencegah pemilik besar menenggelamkan yang tak bertanah. Atau bagaimana korporasi, aktor penentu di banyak daerah aliran sungai, ditempatkan dalam kontrak kewargaan. Ia menerima bahwa warga merdeka boleh keliru, tetapi belum sepenuhnya menjawab apa yang terjadi bila kekeliruan itu tak dapat dipulihkan padahal waktu memulihkannya kian sempit; dan penolakannya atas batas planet yang absolut menyisakan ketegangan itu.
Dan setelah mengkritik metrik teknokratis, buku ini sendiri justru menyerukan epidemiologi lingkungan; sementara pada saat yang sama, kita masih menunggu ukuran dampak yang berangkat dari suara pemangku kepentingan.
Di buku ini Boccaletti sengaja tak memberi daftar aksi; ia menyebut seruan semacam itu menyebalkan. Izinkan saya melanggar ‘pantangan’ itu sebentar. Saran saya: Bacalah buku ini, lalu bawa ke ruang rapat di desa, kelas, atau kantor perusahaan. Ajukan pertanyaan yang buku ini ajukan ke pembaca: “Siapa sesungguhnya ‘kita’, suara siapa yang belum terdengar, institusi mana yang sanggup untuk beraksi dan mengeksekusi?”
“Republik Lingkungan” adalah negara yang benar-benar menjadikan hukum alam sebagai pemandu kehidupan. Ia tak akan dibangun oleh satu orang bijak, melainkan oleh banyak warga yang bersedia berbicara, mendengar, dan bertindak di tempatnya masing-masing, dengan kapasitas terbaik yang dimiliki masing-masing. Bumi, satu-satunya rumah kita bersama, sedang berubah; dan marilah kita memutuskan bersama seperti apa ia akan kita huni.
–##–
Leave A Comment