Catatan soal Rubber Soul Edisi Super Deluxe 2026
Oleh: Jalal
Orang menyiapkan diri untuk ‘hari besar’ dengan cara yang berbeda-beda. Selama seminggu terakhir, saya melakukannya dengan cara yang oleh sebagian kawan disebut ekstrem: tidak mendengarkan apa pun selain Rubber Soul. Saya bergantian memutar remaster 2009 dan edisi Amerika Serikat 2014, berulang-ulang, seperti pelari yang membiasakan kaki pada tanjakan sebelum hari perlombaan. Tujuannya sederhana. Saya ingin telinga saya punya garis dasar yang jelas dan jujur. Dengan begitu, ketika edisi super deluxe 2026 menyala di pengeras suara pada menit-menit pertama 2 Oktober, saya bisa menangkap perbedaannya bukan dengan ingatan yang mungkin memudar, bukan pula sekadar dengan harapan.
Saya juga perlu mengaku bahwa tulisan ini bukan tentang kenikmatan seorang penulis resensi yang berjarak dan berusaha objektif. Bagi saya itu mustahil. Saya menyukai The Beatles sejak kecil, dan Rubber Soul selalu berada di jajaran atas album mereka, menurut telinga dan hati saya sejak bangku SMP. Maka, ketika beberapa bulan lalu diumumkan bahwa album ini akan digarap ulang oleh Giles Martin dengan teknologi MAL buatan perusahaan Peter Jackson, saya menunggu seperti bocah menunggu hari raya. Teknologi itu, bagi yang belum akrab, bisa memisahkan suara-suara yang dulu terkunci dalam satu jalur rekaman. Yang dulu menyatu kini bisa disusun ulang dengan leluasa.
Kita gampang lupa betapa ganjilnya album ini pada zamannya. Dalam empat minggu di Abbey Road pada Oktober dan November 1965, The Beatles menggarap “Nowhere Man”, “Norwegian Wood”, dan “Drive My Car” dengan bunyi, instrumen, dan teknik rekaman yang serba baru. Kritikus musik terkemuka Stephen Thomas Erlewine menangkap kekhasannya dengan tepat. Sitar dalam “Norwegian Wood” jelas dimainkan seorang gitaris rock, yang membengkokkan nada di instrumen asing untuk menghias lagu folk yang ditulis Lennon dengan bayang-bayang Dylan di kepalanya. Album ini penuh persilangan semacam itu: bas fuzz, gitar bernada lonceng, piano ala klavikord. Giles Martin sendiri, kepada SPIN, menggambarkannya sebagai saat empat orang itu melepas “jaket Beatlemania”. Dengan nada bergurau ia menambahkan bahwa Brian Epstein dan ayahnya tidak mengekang mereka, dan justru itu yang membuat album ini mungkin lahir. Ia menyebutnya album yang lumayan pahit, dan saya sangat menyukai tafsir itu. Rubber Soul memang bukan album orang yang sedang bergembira, melainkan album orang yang sedang berpikir.
Lalu soal bunyi. Selama enam dekade, pendengar Beatles tidak pernah punya stereo yang terdengar wajar untuk album ini. Itulah yang membuat remix Martin pantas ditimbang dengan serius, walau sebelumnya ada versi 2009 dan 2014 itu. Majalah Glide menilai kerjanya bersama insinyur Sam Okell menghasilkan kehadiran, pemisahan, dan kedalaman suara yang tak lagi mencerminkan usia rekamannya, dan jauh lebih unggul daripada rilisan 2009 (dan, bagi saya, juga unggul jauh di atas versi 2014). Seorang penulis di Vinylcut mengaku tak pernah menikmati remix Beatles sebelumnya sebanyak yang ini. Bagi saya, setelah seminggu “pemanasan”, CD 1 mendatangkan kenikmatan auditori yang luar biasa. Rasanya seperti jendela yang akhirnya dibuka dan udara di luar betul-betul terasa segar, bukan pameran teknologi.
Namun jantung kotak ini, bagi saya, ada di CD 2. Ada 24 rekaman sesi awal, 20 di antaranya belum pernah dirilis, ditambah tiga demo rumahan yang belum pernah terdengar, termasuk sketsa lagu Lennon berjudul “Little Girl”. Peresensi di Vinylcut mencatat bahwa pada masa itu band biasanya berlatih matang sebelum tombol rekam ditekan, dan take yang gagal langsung ditimpa. Karena itu arsip Abbey Road tidak kaya akan take awal. Tetapi Martin, tulisnya, menemukan cukup banyak karya dalam proses untuk membuat disk ini koheren dan memikat. Saya setuju sepenuhnya.
Keistimewaan disk ini bukan sekadar “yang belum pernah terdengar”. Ia mengubah posisi kita sebagai pendengar. Kita biasa menghafal lagu-lagu ini sampai ke tarikan napasnya, juga petikan gitarnya, sampai-sampai tak sanggup lagi membayangkan versi lain. Di CD 2 kita mendengar saat lagu-lagu itu sendiri belum tahu akan menjadi apa. “Norwegian Wood” hadir dalam tiga versi, “I’m Looking Through You” juga dalam tiga. Menurut catatan sejarah, take pertama lagu terakhir itu direkam pada 24 Oktober dan lebih lambat daripada versi yang akhirnya dirilis. Mendengar mereka ragu-ragu pada lagu yang hasil akhirnya kita anggap sebagai karya akbar adalah pelajaran tentang kerendahan hati. Kesempurnaan ternyata lahir dari kemauan menolak berhenti setelah percobaan pertama, kelima, bahkan lebih jauh lagi. Jadi, bukan hasil dari bakat semata.
Ada pula “Michelle” dalam latihan gitar dan demo McCartney untuk “We Can Work It Out”. Ada pula “Beatle Talk”, rekaman celoteh di sela overdub vokal “Think for Yourself”. Glide mencatat bahwa tawa dan cekikik keempatnya mengisi puluhan trek itu, namun rasa fokusnya tetap terasa. Persis begitu. Kita mendengar empat orang bekerja keras sambil menikmatinya, dan itu langka, dan mungkin bermanfaat untuk kita semua bila sedang ‘sok serius’. Martin mengatakan kepada SPIN bahwa edisi-edisi super deluxe ini memang dimaksudkan untuk menceritakan bagaimana album dibuat. Di CD 2, ia benar-benar berhasil.
CD 3 dan CD 4 mudah disalahpahami sebagai pelengkap belaka. Padahal versi mono seharusnya mengingatkan kita bahwa mono adalah format yang sesungguhnya diutamakan The Beatles pada 1965, sedangkan stereo kala itu nyaris cuma sambilan. Martin, dalam salah satu wawancara yang saya tonton, memberi contoh yang gamblang. Dalam “Norwegian Wood”, Lennon menyanyi dan memetik gitar langsung ke dua mikrofon yang dilebur ke satu trek. Dalam stereo lama, hasilnya adalah Lennon di satu telinga dan band di telinga lain. Dalam mono, keseimbangannya utuh. Adapun CD 4 menghadirkan edisi Capitol Amerika yang dibuka “I’ve Just Seen a Face” dan menyisipkan “It’s Only Love”. Versi ini mungkin tak berbobot sebagaimana album versi Inggris, tetapi menurut saya tak kalah menyentuh. Glide mencatat bahwa dominasi gitar akustiknya menebarkan nuansa folk yang kuat. Mendengarnya seperti membuka album foto dari kota yang sama, tapi dengan urutan yang berbeda.
Tentu tidak semua orang bertepuk tangan. Erlewine, yang menulis dengan hormat, memberi karya ini tiga bintang saja. Far Out menilai bahwa sebagian mix terasa agak datar, setidaknya pada rilisan digitalnya, lantaran vokal terasa didorong ke depan dengan mengorbankan instrumen, dan mengingatkan bahwa edisi lengkap vinilnya dibanderol £199,99 yang cuma bakal dibeli minoritas penggemar yang kantungnya agak tebal. Di forum penggemar yang saya baca pun ada yang merasa terganggu oleh detail kecil pada penutup “Girl”. Keberatan-keberatan semacam itu tentu saja sah, dan saya tidak ingin menepisnya. Tetapi bagi saya justru di sini letak ‘kebijaksanaan’ dari kotak berisi empat CD ini: mix baru di CD 1 hanyalah satu dari empat cara mendengar. Bila ia tak cocok di telinga kita, ada master mono, edisi Amerika, dan semua take di CD 2 yang menunggu ditemukan telinga yang jeli. Buat saya, jarang ada edisi ulang yang begitu murah hati terhadap perbedaan selera di antara penggemar. Tak perlu berdebat mana yang paling cocok di telinga dan hati semua orang, tinggal putar yang versi yang paling sesuai untuk selera masing-masing.
Dalam beberapa minggu ke depan, saya hampir pasti tidak akan mendengarkan musik lain. Bukan karena kehabisan pilihan, melainkan karena album ini kini punya lebih banyak ruang untuk dimasuki. Salah satu lagunya berkisah tentang seseorang yang tampak sama tetapi sudah berubah (bisa menebak lagu mana yang saya maksud?). Itu agaknya deskripsi yang cocok untuk album ini, juga untuk para pendengarnya. Sampulnya masih menggunakan jepretan Robert Freeman dengan wajah-wajah yang dibuat melar. Lagu-lagunya juga masih yang itu-itu juga. Namun kita, dan telinga kita, tak lagi sama setelah mendengar mereka belajar menjadi dewasa, take demi take. Setelah enam puluh satu tahun, Rubber Soul masih saja bisa mengejutkan dan memanggil senyum para penggemar. Itu adalah hadiah yang luar biasa langka. Dan untuk itu saya tak bisa berterima kasih lebih banyak lagi pada Martin dan Jackson.
–##–
Jakarta, 3 Oktober 2026 11:30
Leave A Comment