Oleh: Jalal

Pagi ini, sebelum menulis kalimat pertama esai ini, saya mendengarkan sebuah rekaman orkestra yang baru dirilis hari ini juga: Life Is a Dream, album debut Sir Anthony Hopkins. Aktor yang selama enam dekade dikenang sebagai Hannibal Lecter dan Raja Lear itu, di usia delapan puluh delapan, baru saja menyerahkan kepada dunia sesuatu yang telah ia mulai sejak masih muda di Liverpool tahun 1963: sebuah komposisi bernama “Bracken Road,” yang ia tulis jauh sebelum siapa pun tahu siapa dirinya kelak. “Beberapa dari karya ini telah hidup bersama saya selama puluhan tahun,” katanya, “dan saya masih terus kembali padanya.” Bukan nostalgia, melainkan detail perbaikan. Dan ia menyebutnya sebagai kerja.

Bagi saya kesadaran tentang bagaimana Hopkins bekerja sangatlah mengganggu, dalam artian yang baik. Faktanya, seorang laki-laki mendekati usia sembilan puluh baru saja membuat debut di luar wilayah yang selama ini diketahui publik. Bukan upaya kembali, bukan pula retrospektif, tapi debut, sebagaimana penyanyi muda merilis singel pertamanya.

Dan ini membuat saya langsung teringat peristiwa beberapa hari lalu: saya berbincang dengan Erie Sudewo, salah satu tokoh filantropi paling dihormati di negeri ini, tentang sesuatu yang ia sebut wisdom capital alias modal kebijaksanaan. Ia berargumen kepada saya bahwa Indonesia saat ini duduk di atas kekayaan yang tak pernah masuk dalam neraca pembangunan mana pun: jutaan warga senior yang membawa enam, tujuh, delapan dekade pengalaman hidup, dan yang oleh masyarakat kita—masyarakat yang tergesa-gesa, yang mengukur nilai seseorang dari kecepatan dan kebaruan—terlalu sering diperlakukan seolah telah lewat masa gunanya.

Kasus Hopkins bukanlah pengecualian aneh. Ia bagian dari pola yang, begitu kita mulai mencarinya, ternyata terpampang di mana-mana.

Ambil David Attenborough. Delapan Mei lalu, penyiar dan naturalis Inggris itu genap berusia seratus tahun. Pencapaian ini, secara statistik, hanya diraih kurang dari 0,03 persen manusia. BBC merayakannya dengan sepekan penuh program baru, bukan program kenangan tentang karier yang telah usai, melainkan karya-karya segar: sebuah seri lima episode tentang keanekaragaman hayati di kebun-kebun belakang rumah Inggris, dan A Gorilla Story, film Netflix yang tayang April lalu tentang keluarga gorila keturunan salah satu bayi gorila pertama yang pernah ia temui di Rwanda, setengah abad silam. Setahun sebelumnya, pada usia sembilan puluh sembilan, ia merilis Ocean, yang oleh salah satu sutradaranya disebut sebagai “kisah terpenting yang pernah ia sampaikan.” Bukan kisah terakhir, melainkan kisah terpenting, kategori yang berbeda dan jauh lebih berat untuk disandang siapa pun di usia berapa pun.

Atau Sylvia Earle, ahli kelautan Amerika yang dijuluki “Her Deepness” oleh The New York Times. Baru genap sembilan puluh tahun Agustus lalu, ia masih menyelam—musim panas ini ia difoto keluar dari laboratorium bawah laut Aquarius di Florida Keys, setelah lebih dari tujuh ribu jam total di bawah permukaan sepanjang hidupnya. Ia masih memimpin gerakan Hope Spots yang kini melindungi lebih dari lima puluh tujuh juta kilometer persegi laut di seluruh dunia, dan tak segan mengkritik keras kebijakan yang menurutnya keliru. Ada baris dalam salah satu wawancaranya belakangan ini yang menurut saya sangat layak digarisbawahi. Ketika ia ditanya mengapa masih menyelam di usia sembilan puluh, jawabannya bukan tentang kebugaran atau keteguhan hati, melainkan tentang urgensi. Laut, katanya, telah kehilangan separuh kehidupan liarnya sepanjang masa hidupnya sendiri, dan itu bukan alasan untuk berhenti bicara, melainkan alasan untuk bicara lebih keras.

Di Indonesia, pola yang sama begitu jelas hingga nyaris tak memerlukan penjelasan lagi. Emil Salim, arsitek kebijakan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan Indonesia, merayakan ulang tahun ke-96 pada bulan Juni sambil meluncurkan buku yang merekam perjalanan panjang pengabdiannya. Mereka yang hadir bersaksi: pemikirannya tetap jernih, analisisnya tak kehilangan ketajaman. Romo Franz Magnis-Suseno, filsuf kelahiran Jerman yang telah enam puluh lima tahun menjadikan Indonesia rumahnya, genap sembilan puluh tahun bulan Mei lalu, dan hari-harinya masih diisi tulisan-tulisan tentang demokrasi dan etika kebangsaan—termasuk, tak lama sebelumnya, kesaksian ahli di ruang sidang yang menuntutnya menjernihkan soal-soal filsafat moral dan relasi kuasa di hadapan publik yang mendengarkan. Dan Nafsiah Mboi, mantan Menteri Kesehatan yang kini di usia delapan puluh empat masih menjabat Utusan Pemimpin untuk Asia Pacific Leaders Malaria Alliance—posisi yang menuntutnya benar-benar terus berkeliling kawasan, bukan duduk di kursi kehormatan belaka.

Yang menyatukan keenam nama ini bukan sekadar umur panjang. Banyak orang panjang umur tanpa meninggalkan jejak apa pun bagi orang lain. Yang menyatukan mereka adalah bahwa kebijaksanaan yang mereka kumpulkan—pengetahuan tentang laut, tentang etika publik, tentang kesehatan masyarakat, tentang bagaimana menceritakan alam sehingga jutaan orang mau peduli—terus-menerus dikonversi menjadi kerja yang berguna bagi orang lain, hari ini, bukan sekadar dikenang sebagai warisan masa lalu. Inilah yang dimaksud Erie Sudewo dengan modal: sesuatu yang produktif, yang menghasilkan nilai bila dipakai, dan yang menyusut nilainya bila hanya dibiarkan menganggur di ‘gudang’.

Indonesia menghadapi persoalan yang, secara struktural, membutuhkan tepat jenis kebijaksanaan ini: transisi energi yang adil, tata kelola sumberdaya alam yang tak lagi mengorbankan generasi mendatang, demokrasi yang rapuh oleh polarisasi, kesehatan masyarakat yang timpang antarwilayah. Semua itu adalah persoalan jangka panjang yang menuntut kesabaran melihat pola lintas dekade. Dan justru kapasitas ini paling melimpah pada mereka yang telah hidup melewati beberapa dekade itu sendiri, dan paling langka melekat pada siapa pun yang belum. Memerlakukan warga senior semata sebagai penerima layanan, bukan sebagai sumberdaya aktif bagi persoalan bangsa, adalah membiarkan modal terbesar kita menganggur justru ketika paling dibutuhkan.

Tapi mungkin ada satu hal yang sering luput ketika kita hendak berbicara wisdom capital: kita cenderung membingkainya sebagai warisan satu arah, dari yang tua ke yang muda—guru ke murid, kakek ke cucu. Itu memang penting, dan harus terus terjadi. Namun ada urgensi yang sama besarnya, dan jauh lebih jarang dibicarakan, yakni bagaimana mereka yang telah memasuki masa senior saling menopang satu sama lain, di dalam generasinya sendiri. Saya membayangkan Emil Salim membutuhkan Franz Magnis-Suseno membutuhkan Nafsiah Mboi membutuhkan sesama seniornya. Bukan sebagai sekadar simbol, melainkan sebagai kolega yang saling menjaga kewarasan, kesehatan, semangat, dan koneksi dengan dunia yang terus berubah lebih cepat dari yang bisa diikuti sendirian oleh siapa pun. Kesepian di usia lanjut adalah krisis kesehatan masyarakat yang nyata, dan solidaritas sesama senior—bukan hanya ketergantungan pada anak-cucu—adalah salah satu penawar palingnya yang paling manusiawi. Sir Anthony Hopkins, yang bulan lalu merayakan lima puluh tahun sejak berhenti minum alkohol, tahu betul bahwa sebagian penyintasan panjangnya ditopang oleh sesama yang lebih dulu menapaki jalan yang sama.

Yang saya tuliskan ini bukan seruan sentimental untuk “menghormati orang tua,” yang di banyak budaya, termasuk budaya kita sendiri, agaknya sudah menjadi basa-basi yang justru menyembunyikan pengabaian struktural di baliknya. Menghormati secara verbal jauh lebih murah, dan jauh lebih mudah, daripada benar-benar melibatkan. Membangun forum lintas-senior yang serius—tempat mantan menteri kesehatan bertukar catatan dengan mantan aktivis lingkungan, tempat filsuf dan ilmuwan sosial saling menguji gagasan, tempat pengalaman krisis satu dekade menjadi pelajaran bagi yang menghadapi krisis dekade berikutnya—menuntut kelembagaan, bukan sekadar sentimen. Erie Sudewo, dalam perbincangan kami, menyebut ini sebagai kebutuhan mendesak: platform yang memungkinkan wisdom capital saling terhubung sebelum ia hilang begitu saja, terkubur bersama pemiliknya, tanpa sempat diwariskan kepada siapa pun.

Maka pelajaran dari Hopkins yang baru debut di usia delapan puluh delapan, dari Attenborough yang genap seabad masih bercerita, dari Earle yang masih menyelam, dari Emil Salim, Magnis-Suseno, dan Nafsiah Mboi yang masih menulis dan berbicara dan bekerja, bukan sekadar ‘usia hanyalah angka”. Klise itu menyederhanakan sesuatu yang jauh lebih serius. Pelajarannya adalah bahwa kebijaksanaan, seperti modal jenis apa pun, hanya bertumbuh bila terus dipakai, dibagikan, dan dijaga bersama oleh mereka yang memilikinya, baik ke bawah kepada generasi yang akan mewarisi persoalan-persoalan ini, maupun ke samping, kepada generasi yang tengah menempuh jalan yang sama dan tak seharusnya menempuhnya sendirian.

Bangsa yang membiarkan modal itu menganggur, sembari sibuk mencari solusi baru untuk persoalan lama, sedang mengabaikan sumberdaya yang sudah ada di tangannya sendiri—dan tinggal menunggu, dengan sabar, untuk dipanggil bekerja mengabdikan dirinya sekali lagi.

–##–

Jakarta, 21 Agustus 2026 09:30