Oleh: Suparno * & Iswan Kaputra **

Minggu, 16 Agustus 2026. Sehari sebelum bangsa ini merayakan ulang tahun kemerdekaannya ke-81. Senja baru saja turun di Dusun V Damar Hitam, Desa Mekar Makmur, Kecamatan Sei Lepan, Langkat, Sumatera Utara. Langit berwarna jingga, udara lembap khas perladangan, dan suara jangkrik mulai bersahutan. Di tengah suasana itu, dua sahabat, Hotdin Sihotang (59) dan Dongan Sehat Maratua Sihombing (32), warga Dusun IV Afdeling IV, Desa Alur Melati, Kec. Sawit Seberang, melangkah ringan dengan membawa perlengkapan memancing. Bagi mereka, sore itu adalah kesempatan melepas penat, mencari ikan, dan menikmati kebersamaan.

Namun, langkah santai itu berubah menjadi tragedi. Seekor gajah liar tiba-tiba muncul dari balik semak. Tanpa peringatan, hewan besar itu menyerang. Hotdin, yang berada paling dekat, tak sempat menghindar. Dongan hanya bisa berlari sejauh tiga kilometer, menembus gelap dan rasa panik, untuk mencari pertolongan warga. Saat masyarakat tiba di lokasi, Hotdin sudah tak bernyawa.

Dongan, saksi hidup tragedi, masih terguncang. “Saya berlari sejauh mungkin, hanya ingin menyelamatkan diri dan mencari bantuan. Tapi ketika kembali, sahabat saya sudah tiada,” katanya lirih.

Sementara itu, keluarga Hotdin hanya bisa pasrah. Kehilangan sosok ayah, suami, dan sahabat adalah luka yang tak mudah sembuh. Namun mereka berharap tragedi ini menjadi titik balik: agar pemerintah serius melindungi masyarakat sekaligus menjaga satwa.

Kematian Hotdin bukan sekadar kehilangan bagi keluarga, atau kematian bagi warga desa tetangga Mekar Makmur yang meninggal diserang gajah di desa mereka, tetapi juga luka mendalam bagi seluruh warga Dusun V Damar Hitam, Desa Mekar Makmur. Mereka sudah lama hidup berdampingan dengan ancaman gajah liar. Ladang rusak, jalan hancur, tanaman musnah, dan trauma yang tak kunjung sembuh. Tahun lalu, seorang warga desa mereka sendiri juga kehilangan nyawa akibat serangan serupa.

“Setiap kali keluar rumah, kami dihantui rasa takut. Anak-anak tak berani bermain jauh, para petani waswas ke ladang,” ungkap seorang warga dalam diskusi desa. Kehidupan sehari-hari yang seharusnya sederhana kini penuh kecemasan.

Dari Konflik ke Pencarian Solusi

Tragedi ini segera mengundang perhatian banyak pihak. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), serta sejumlah anggota Lembaga Swadaya Masyarakat turun ke lapangan. Mereka melakukan investigasi, mencoba memahami pergerakan gajah, dan mencari solusi agar konflik tak terus berulang.

Pada 19 Agustus 2026, sebuah diskusi digelar di rumah Kepala Dusun V. Hadir perwakilan BKSDA, TNGL, NGO, dan masyarakat. Suasana penuh emosi: duka bercampur harapan. Warga meminta agar dibangun pos pantau pergerakan gajah, dijaga oleh petugas kehutanan. Harapannya sederhana, agar manusia bisa beraktivitas dengan aman, dan satwa tetap terlindungi.

Kehadiran gajah liar memang menimbulkan kerugian besar. Namun, di balik itu tersimpan potensi ekowisata. Beberapa tahun terakhir, wisatawan asing mulai datang ke Damar Hitam untuk melihat gajah dan satwa liar lain, termasuk jejak Harimau Sumatera. Bagi mereka, ini adalah pengalaman langka.

Pertanyaannya: bisakah konflik ini diubah menjadi peluang? Bisakah masyarakat yang resah menemukan berkah melalui ekowisata yang terkelola baik?

Gambar 1. Data Kerusakan Hutan dan Dampaknya


Memahami Konflik Manusia dengan Gajah

Menelisik dari banyak sumber dan hasil riset, ada beberapa kondisi mengapa Gajah Sumatera saat ini menjadi lebih agresif. Pertama, jalur jelajah alami terputus. Gajah mengikuti rute yang sama selama ratusan tahun dijalani dari generasi ke generasi, ketika jalur itu berubah jadi kebun atau jalan, mereka tetap melintas, sehingga berbenturan dengan manusia.

Kedua adalah, kekurangan pakan & air. Hilangnya hutan membuat gajah mencari makanan di kebun sawit atau ladang warga. Yang berikutnya, gajah mengalami stres ekologis. Fragmentasi habitat meningkatkan risiko inbreeding (perkawinan sedarah), menurunkan kesehatan populasi, dan membuat perilaku gajah lebih tidak stabil.

Sementara untuk daerah Sumatera Utara dan Aceh, selama 25 tahun terakhir, kehilangan habitat gajah sebesar 69%. Ini artinya sejak 25 tahun yang lalu, habitat gajah kini hanya sisa 31% saja dari kondisi awal, populasi gajah hanya tinggal 900 – 1.350 ekor, jumlah ini sebagai alarm kepunahan. Kehilangan habitat gajah mengakibatkan tiga dampak utama: konflik mematikan dengan manusia, terancamnya populasi gajah hingga kepunahan, dan kerusakan ekosistem hutan. Saat hutan beralih fungsi, gajah kehilangan sumber makanan dan ruang jelajah, sehingga terpaksa masuk ke perkampungan dan perkebunan warga untuk bertahan hidup.

Kondisi ini diperparah dengan 22 kantong habitat di Aceh dan Sumut terisolasi, membuat gajah sering masuk ke desa. Tragedi Hotdin Sihotang di Dusun V, Damar Hitam, Desa Mekar Makmur merupakan bukti-bukti dari teori dan hasil riset yang telah disebutkan di atas. Mengingat pola konflik gajah dengan manusia ini telah terjadi 2 tahun berturut-turut di desa ini dan juga memakan korban tewas 2 orang. Pola konflik ini terus mengalami peningkatan setiap tahunnya juga diperparah dengan semakin meningkatnya alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit. Konflik ini bukan karena gajah “mengganggu,” tetapi karena manusia telah memasuki ruang hidup mereka.

Harapan ke Depan

Konflik manusia dan gajah bukan hal baru di Sumatera. Namun setiap nyawa yang hilang adalah alarm keras bahwa solusi tak bisa ditunda. Pos pantau, kamera trap, edukasi masyarakat, hingga pengembangan ekowisata adalah langkah yang bisa ditempuh.

Dusun V Damar Hitam kini menjadi simbol, betapa rapuhnya hubungan manusia dengan alam, betapa besar harga yang harus dibayar jika keseimbangan terganggu. Tragedi Hotdin Sihotang adalah pengingat bahwa harmoni harus diperjuangkan, bukan ditunggu.

* Suparno, Jurnalis Warga Desa (JWD) Damar Hitam dan pengelola Lembaga Permata Rimba Damar Hitam (LPRD), Sei Lepan, Langkat, Sumatera Utara.

** Iswan Kaputra, MSi iswank@hotmail.co.id adalah Environmental & Climate Change Specialish di BITRA Indonesia, Member of Indonesia Climate Change Aliance (ICCA) & Food Information and Action Network (FIAN) Indonesia.