Memahami Argumen Toby Svoboda tentang Pesimisme Ekologis

Oleh: Jalal

Ada saat-saat saya sulit menahan rasa pesimistis, dan saya kira saya bukan satu-satunya orang yang bekerja di bidang keberlanjutan yang merasakannya. Setiap tahun, Global Footprint Network mengumumkan Earth Overshoot Day—hari ketika permintaan manusia atas sumberdaya alam melampaui apa yang bisa dipulihkan bumi dalam setahun. Tahun ini jatuh pada 30 Juli, enam hari lebih lambat dari 2025. Itu terdengar seperti kabar baik, tapi bukan. Pergeseran itu hampir seluruhnya berasal dari koreksi data soal kapasitas laut menyerap karbon, bukan dari penurunan jejak ekologis manusia yang sesungguhnya. Bila diukur dengan data yang konsisten, tahun ini justru mencatat tingkat overshoot tertinggi sepanjang sejarah pencatatan—manusia memakai sumberdaya 73 persen lebih cepat daripada kemampuan bumi memulihkannya. Sementara itu, tinjauan Planetary Health Check yang dirilis Stockholm Resilience Centre dan Potsdam Institute menunjukkan tujuh dari sembilan batas planetari sudah terlampaui, dengan pengasaman laut baru saja bergabung dalam daftar itu. Dan di tengah semua ini, dunia tidak sedang menjadi lebih damai. Dari Ukraina hingga Gaza dan Iran, perang-perang baru terus membakar hutan, meracuni tanah dan air dengan logam berat serta zat kimia, serta menyumbang emisi gas rumah kaca dalam jumlah yang sebanding dengan emisi satu negara—sementara sumberdaya yang semestinya dipakai untuk rehabilitasi, restorasi, dan regenerasi ekologis justru dibakar habis untuk membangun kembali apa yang baru saja dihancurkan.

Ke dalam suasana batin semacam itulah buku Toby Svoboda, A Philosophical Case for Ecological Pessimism (Routledge, 2025), datang.  Bukan untuk menghibur, melainkan untuk memberi argumen yang rapi bagi perasaan yang selama ini kita anggap sebagai kelemahan moral atau kegagalan mental. Svoboda, filsuf di Colgate University dan penulis buku sebelumnya yang membela misantropi, kali ini membangun kasus yang lebih spesifik: bahwa keyakinan akan terjadinya bencana ekologis di masa depan bukan sekadar boleh dipegang, melainkan merupakan sikap yang masuk akal, bahkan yang paling jujur, mengingat bukti-bukti yang tersedia bagi kita.

Tak Apa Kalau Kita Pesimis

Svoboda membedakan dengan cermat antara pesimisme sebagai keyakinan yang berasal dari pengetahuan dan pesimisme sebagai perasaan. Pesimisme ekologis, dalam definisinya, adalah sikap kognitif: harapan bahwa masa depan akan diwarnai bencana ekologis, di mana kegagalan mencegahnya menimbulkan kerugian besar bagi manusia maupun alam bukan-manusia. Ia bukan patologi kecemasan, melainkan kesimpulan yang bisa dinilai benar atau salah, masuk akal atau tidak—sebagaimana keyakinan lainnya. Ini penting, karena ia memisahkan pesimisme dari sikap fatalistik yang menganggap kondisi dunia sekarang adalah yang terburuk dari segala yang mungkin. Svoboda “hanya” mengklaim bahwa masa depan kemungkinan besar akan buruk, bukan seburuk-buruknya.

Bab pertama menyajikan lanskap risiko yang sudah kita kenal—mulai dari perubahan iklim, pengasaman laut, hingga kepunahan massal—namun Svoboda menambahkan satu unsur yang jarang dibahas dalam wacana lingkungan: perang nuklir. Ia berargumen bahwa ancaman musim dingin nuklir (nuclear winter), dengan asap kebakaran yang menghalangi sinar matahari dan menjatuhkan suhu global, sepenuhnya layak dianggap sebagai risiko ekologis, bukan sekadar isu keamanan. Argumen ini tidak terasa berlebihan ketika kita membaca laporan-laporan terbaru tentang bagaimana perang di Ukraina telah melepaskan sulfur heksafluorida—gas rumah kaca puluhan ribu kali lebih kuat dari CO2—dari peralatan listrik yang dibom, atau bagaimana kilang-kilang minyak yang terbakar akibat serangan drone terus mencemari udara berbulan-bulan.

Bab dua kemudian mengurai lebih jauh konsep pesimisme itu sendiri, dan di sinilah Svoboda paling berhati-hati secara filosofis. Ia menolak anggapan bahwa pesimisme ekologis identik dengan alarmisme atau sikap emosional semata. Baginya, pesimisme yang ia bela adalah pesimisme moral—ia berakar pada keyakinan bahwa manusia akan gagal mencegah bencana yang sebenarnya bisa dicegah, dengan sasaran berupa penderitaan makhluk hidup dan ketidakadilan terhadap manusia. Svoboda juga mengantisipasi keberatan-keberatan yang mungkin muncul di bab empat: bahwa masa depan terlalu tidak pasti untuk membenarkan ekspektasi semacam itu, bahwa pesimisme berisiko melumpuhkan motivasi untuk bertindak, atau bahwa yang disebut bencana ekologis sebenarnya hanya bencana bagi spesies tertentu, termasuk manusia, bukan bagi Bumi itu sendiri. Ia menjawab satu per satu keberatan itu dengan argumen yang runtut, meski, seperti banyak filsuf analitik lain, kadang argumennya lebih meyakinkan di atas kertas ketimbang ketika dihadapkan pada kompleksitas politik dan ekonomi dunia nyata yang sesungguhnya menentukan apakah suatu bencana bisa dicegah atau tidak.

Bagian paling berani dari buku ini barangkali ada di bab tiga, tempat Svoboda menyebut sejumlah tindakan sebagai kejahatan sejati (evil), bukan sekadar keliru secara moral. Ia menyasar apa yang disebutnya obstruksionisme iklim—segala upaya terkoordinasi untuk menghalangi, memerlambat, atau merusak kemajuan penanganan krisis iklim, mulai dari menyangkal fakta perubahan iklim hingga berbohong soal biaya energi terbarukan. Argumennya sederhana namun tajam: para pelaku obstruksionisme ini, tidak seperti korban-korban yang mereka sesatkan, adalah orang-orang terdidik yang sadar betul akan risiko yang mereka sembunyikan. Ini bukan kekeliruan yang bisa dimaafkan, melainkan pilihan yang disengaja dengan taruhan berupa penderitaan skala global.

Namun bab yang paling mengejutkan, dan menurut saya paling meyakinkan, adalah bab tujuh, tempat Svoboda balik menyerang optimisme ekologis. Ia tidak hanya mengatakan optimisme itu tidak masuk akal secara statistik (dengan analogi melempar dadu berulang-ulang: peluang satu bencana spesifik mungkin kecil, tapi peluang sebuah bencana terjadi di antara sekian banyak kemungkinan selama berabad-abad mendatang jauh lebih besar), tetapi juga menyebutnya sebagai bentuk ketidakjujuran. Bukan kebohongan yang disengaja, melainkan semacam penolakan diri untuk melihat bukti yang sudah jelas ada di depan mata—seperti keluarga yang menolak mengakui perilaku merusak diri salah seorang anggotanya. Svoboda mengutip Schopenhauer, yang menyebut optimisme sebagai sumber penderitaan, karena ia menjanjikan kepuasan yang pada akhirnya hanya mengantar pada kekecewaan yang lebih menyakitkan ketimbang jika sejak awal kita bersiap menghadapi kenyataan yang lebih suram.

Titik lemah buku ini agaknya terletak pada ambisinya sendiri untuk menyeimbangkan ketegasan filosofis dengan nada yang tidak sepenuhnya putus asa. Svoboda menghabiskan dua bab terakhir untuk menunjukkan bahwa pesimisme tidak harus berujung pada sikap diam dan menyerah. Ia meminjam gagasan meliorisme dari para pragmatis Amerika seperti Charles Sanders Peirce dan William James: dunia tidak akan sempurna, tapi bisa diperbaiki, dan memerbaikinya tetap punya nilai moral serta praktis meskipun bencana besar pada akhirnya tak terelakkan. Ia juga menghidupkan kembali tradisi kuno filsafat sebagai cara hidup (philosophy as a way of life), meminjam dari kaum Epikurean dan Stoa, lengkap dengan latihan spiritual untuk menumbuhkan kebajikan lingkungan meski di tengah keyakinan bahwa masa depan akan buruk. Bagian ini ditulis dengan hati-hati dan penuh rujukan skolastik yang meyakinkan secara akademis, tetapi terasa agak terpisah dari kegentingan yang dibangun di bab-bab sebelumnya, seolah argumen filosofis untuk berhenti berharap tiba-tiba harus diikuti resep hidup yang tenang. Svoboda sendiri sadar akan risiko ini, dan ia berhati-hati membedakan meliorisme dari optimisme: memerbaiki keadaan bukan berarti percaya bencana besar bisa dihindari, melainkan sekadar meyakini bahwa penderitaan dan ketidakadilan yang menyertainya bisa dikurangi.

Merefleksikan Pesimisme

Perbandingan yang sulit saya hindari saat membaca dua bab penutup Svoboda ini adalah dengan Jem Bendell—profesor keberlanjutan bisnis pertama di dunia, yang belakangan lebih dikenal lewat makalah Deep Adaptation: A Map for Navigating Climate Tragedy (2018) dan buku Breaking Together: A Freedom-loving Response to Collapse (2023), dan yang kini memilih hidup terutama sebagai petani regeneratif di Ubud, Bali. Jika Svoboda sampai pada pesimisme lewat jalan analitis yang runtut, Bendell tiba di posisi yang secara substansi serupa lewat jalur yang lebih personal: makalahnya yang diunduh lebih dari satu juta kali itu menyimpulkan bahwa gerakan keberlanjutan arus utama telah gagal, dan bahwa keruntuhan sosial dalam beberapa dekade mendatang bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan sesuatu yang mesti mulai dipersiapkan orang secara emosional dan praktis. Dalam Breaking Together, ia menegaskan bahwa keruntuhan bukan peristiwa tunggal di masa depan, melainkan proses yang menurutnya sudah berjalan—dan karena sifatnya yang tak sepenuhnya bisa dipulihkan ke keadaan semula, ia menganggap istilah kolaps layak dipakai—meski ia kemudian mengoreksi diri bahwa keliru bila proses itu disebut tak terelakkan; yang lebih tepat, katanya, adalah bahwa proses itu sudah dimulai dan sebagian konsekuensinya sudah tidak dapat dibatalkan lagi.

Yang membuat posisi Bendell relevan untuk dibaca berdampingan dengan Svoboda adalah caranya menerjemahkan pesimisme filosofis menjadi praktik hidup sehari-hari. Wilayah ini coba dijangkau namun terasa agak berjarak dalam dua bab penutup buku Svoboda. Kerangka 5R yang ia kembangkan—resiliensi, relinkuisi (melepaskan apa yang tak lagi bisa dipertahankan), restorasi, rekonsiliasi, dan rekonstruksi nilai serta cara hidup baru—bukan sekadar latihan spiritual di atas kertas seperti yang ditawarkan Svoboda lewat rujukan Stoa dan Epikurean, melainkan tuntunan yang ia jalani sendiri ketika memilih mundur dari podium akademik keberlanjutan korporat dan menggarap tanah di Bali. Dalam pengertian itu, Bendell menjadi semacam bukti hidup atas argumen inti Svoboda: bahwa pesimisme yang jujur soal masa depan ekologis tidak mesti berujung pada keputusasaan, melainkan bisa menjelma perubahan cara hidup yang lebih rendah hati dan lebih dekat dengan alam, meski tentu saja tidak semua orang memiliki keleluasaan finansial dan sosial untuk mengambil pilihan seradikal itu.

Keberlanjutan Perusahaan?

Bagi saya, yang selama tiga dekade banyak mendampingi perusahaan menyusun dan mengeksekusi strategi keberlanjutan, buku ini menantang sesuatu yang sering saya anggap sudah baku dalam pekerjaan sehari-hari: keyakinan bahwa optimisme adalah prasyarat bagi tindakan. Svoboda menunjukkan sebaliknya—bahwa kejujuran tentang kemungkinan kegagalan justru bisa menjadi dasar tindakan yang lebih matang, karena ia tidak menaruh harapan pada janji yang sulit ditepati.

Argumen tersebut sangat relevan ketika kita menyaksikan betapa banyak strategi net-zero perusahaan yang lebih menyerupai narasi penenang ketimbang peta jalan yang realistis, atau ketika negara-negara terus menunda transisi energi sambil berharap teknologi masa depan akan menyelamatkan mereka dari keputusan sulit hari ini. Di sektor-sektor yang paling dekat dengan Bumi itu sendiri—pertambangan, kehutanan, energi—saya kerap melihat bagaimana narasi optimisme di perusahaan berfungsi persis seperti yang digambarkan Svoboda: bukan kebohongan yang disengaja, melainkan penolakan yang nyaman untuk sepenuhnya menghadapi skala kerusakan yang sudah terjadi, sambil terus menjanjikan pemulihan di masa depan yang selalu tertunda.

Svoboda tidak menawarkan penghiburan yang murahan, dan itulah kekuatan sekaligus tantangan buku ini. Ia meminta kita untuk berhenti menuntut harapan sebagai syarat bertindak, dan mulai bertindak justru karena kita jujur tentang kemungkinan kegagalan. Ini adalah argumen yang sulit didebat secara filosofis, meski psikologis sulit diterima—terutama bagi mereka yang bekerja di garis depan advokasi lingkungan dan bergantung pada harapan sebagai bahan bakar sehari-hari.

Buku ini bukan bacaan akhir pekan yang menghibur, dan memang tidak dimaksudkan demikian. Tetapi ia layak dibaca justru karena menolak menyederhanakan pilihan kita menjadi optimisme naif di satu sisi atau keputusasaan total di sisi lain. Svoboda menunjukkan jalan ketiga: mengakui bahwa masa depan kemungkinan besar buruk, tanpa berhenti bekerja untuk membuatnya sedikit kurang buruk. Sebagai orang yang sudah membacanya, saya mengajak setiap aktivis keberlanjutan untuk memahami alasan-alasan di balik pesimisme yang ditawarkannya.  Alasan-alasan itu, sejujurnya, semakin sulit dibantah setiap kali Earth Overshoot Day diumumkan datang lebih cepat, setiap kali batas planet baru dinyatakan telah terlampaui, dan setiap kali dunia memilih menggunakan sumberdaya untuk berperang alih-alih menggunakannya untuk pemulihan Bumi. Namun kita tak boleh berhenti di situ. Sebagaimana yang Svoboda sendiri tegaskan, pesimisme yang jujur tidak meniadakan kewajiban kita untuk terus mengupayakan yang terbaik yang masih mungkin dicapai—betapa pun kecil kemungkinannya.

–##–