Oleh: Jalal
Sabtu pagi lalu saya baru saja selesai mendengarkan wawancara Chris Hedges dengan Abby Martin di The Chris Hedges Report, episode yang secara eksplisit diberi judul Why the U.S. Military is ‘Earth’s Greatest Enemy‘. Wawancara itu membuat begitu penasaran sehingga begitu selesai mendengarkan, saya langsung mencari-cari: transkrip wawancara sejenis, ulasan film di media independen, laporan sains di jurnal-jurnal iklim, dan dokumen-dokumen kebijakan lama yang selama ini luput dari perhatian.
Jadi, tulisan ini adalah hasil dari pencarian sumber-sumber lainnya itu, bukan hasil dari menonton filmnya. Mencari akses dan menonton film itu adalah agenda penting setelah menuliskan esai ini. Dan yang sudah ditemukan, sejujurnya, mengejutkan saya sebagai seseorang yang sudah selama tiga dekade berkecimpung di isu keberlanjutan perusahaan. Saya turut mendorong dan membantu perusahaan untuk menurunkan dan mengungkapkan emisinya, tetapi bila dunia tak bisa memaksa militer Amerika Serikat untuk juga melakukan hal yang sama, agaknya kita semua tetap ada dalam bahaya yang luar biasa besar. Dan itulah mengapa Martin menyatakan bahwa militer Amerika Serikat adalah musuh terbesar bagi (keberlanjutan) Bumi.
Salah satu resensi yang saya baca membuka narasinya lewat penggambaran sebuah kapal serbu amfibi Angkatan Laut Amerika Serikat, di tengah latihan perang laut terbesar di dunia, seorang berpangkat mayor jenderal berdiri di depan kamera dan mengucapkan sesuatu yang jarang terdengar dari pejabat militer mana pun. Ia mengatakan bahwa mengembangkan energi alternatif memang baik, tetapi jangan sampai negara meninggalkan apa yang selama ini menjadi fondasi keamanan nasional: minyak. Kejujuran blak-blakan semacam ini adalah inti dari sebuah film dokumenter yang kini menjadi bahan perbincangan di kalangan jurnalis investigatif, ilmuwan iklim, dan, tak kalah pentingnya, para purnawirawan militer Amerika sendiri.
Mengungkap Emisi yang Disembunyikan
Film itu berjudul Earth’s Greatest Enemy, disutradarai oleh jurnalis independen Abby Martin bersama suaminya, Mike Prysner, yang adalah seorang veteran Angkatan Darat AS yang sejak kembali dari Irak mencurahkan hidupnya untuk mengungkap kejahatan perang negaranya sendiri. Dalam sejumlah wawancara promosi film ini—termasuk perbincangan panjangnya dengan Hedges, mantan kepala biro Timur Tengah dan Balkan untuk The New York Times yang kini dikenal lewat kritik tajamnya terhadap kompleks industri militer Amerika Serikat—Martin berulang kali menegaskan satu hal: krisis iklim dan militerisme bukan dua isu terpisah, melainkan satu persoalan yang sama. Ketika ditanya soal aturan yang mengatur polusi militer Amerika, Martin menjawab tegas bahwa itu adalah wilayah tanpa hukum sama sekali. Dan, jika melihat bagaimana militer AS berperilaku di Iran, Gaza, dan berbagai penjuru dunia lain tanpa pengawasan, orang bisa membayangkan sendiri apa yang mereka lakukan terhadap lingkungan tanpa ada yang mengawasi.
Proyek Martin dan Prysner ini bukanlah produk instan. Idenya lahir sekitar 2020, ketika mereka memiliki anak dan mulai mencemaskan masa depan serta bencana iklim yang mengancamnya. Pertanyaan sederhana tentang seperti apa dunia ketika anaknya dewasa nanti itulah yang akhirnya menyatukan dua kegelisahan yang selama ini mereka anggap terpisah. Sebagaimana yang disampaikan oleh Martin kepada Hedges, yang membuat film ini berbeda dari ratusan dokumenter iklim lainnya adalah target yang dibidiknya: bukan perusahaan energi fosil, bukan pula negara berkembang yang kerap disalahkan dalam forum-forum iklim internasional lantaran kecenderungan emisinya yang terus naik, melainkan institusi yang selama tiga dekade nyaris tak tersentuh oleh akuntansi karbon global.
Untuk memahami klaim ini, kita perlu mundur ke Kyoto, 1997. Ketika negara-negara dunia merundingkan protokol iklim multilateral pertama yang mengikat secara hukum, Pentagon melobi keras dan berhasil. Protokol Kyoto semula dimaksudkan untuk turut menghitung emisi militer, tetapi Amerika Serikat mendorong agar sektor itu dikecualikan. Dokumen-dokumen internal yang dideklasifikasi menunjukkan bagaimana pemerintahan Clinton menghadapi tekanan dari kalangan Republik yang menuduh Kyoto akan melemahkan kesiapan militer, sementara Pentagon sendiri relatif puas karena operasi militer multilateral serta transportasi udara dan laut militer internasional dikecualikan dari penghitungan. Delapan belas tahun berselang, di Paris, sejarah nyaris berulang. Militer-militer dunia absen dari perundingan COP21 dan tetap dikecualikan dari kewajiban Perjanjian Paris; emisi militer dan konflik baru pertama kali dibahas secara formal dalam forum COP pada 2022. Dalih yang diajukan selalu saja sama: keamanan nasional. Menurut mereka data penggunaan energi bisa mengancam keselamatan angkatan bersenjata jika dibuka ke publik.
Konsekuensinya, hingga hari ini, pelaporan emisi militer di bawah Persetujuan Paris (Paris Agreement) bersifat sukarela—negara boleh memilih sendiri apakah emisi militernya perlu dipotong, tanpa kewajiban mengikat. Prosedur IPCC hanya mewajibkan penghitungan emisi militer domestik dan mengizinkan negara menggabungkannya dengan kategori sipil, sementara emisi dari pangkalan luar negeri, operasi multilateral, dan bahan bakar bunker untuk transportasi internasional sama sekali tidak wajib dilaporkan. Inilah celah struktural yang berulang kali disebut Martin sebagai elephant in the room dalam wacana iklim global. ‘Gajah’ ini terlalu besar untuk diabaikan, sekaligus terlampau berbahaya secara politik untuk disebut namanya. Dan, sudah bisa diduga, AS tak melaporkannya sama sekali.
Jurnalisme Investigatif yang Berani
Di sinilah Earth’s Greatest Enemy mengambil peran sebagai jurnalisme investigatif dalam bentuk audiovisual. Martin menelusuri asal-usul klaim popular bahwa militer AS adalah pencemar institusional terbesar di dunia, dan menemukan bahwa angka itu selama ini hanya dihitung dari jumlah minyak yang dibeli militer di atas kertas, yaitu sekitar 270.000 barel per hari, setara dengan 55 juta metrik ton karbon dioksida per tahun, yang lebih besar dari emisi 150 negara. Tetapi angka resmi itu hanyalah puncak gunung es. Dalam wawancara dengan ilmuwan Stuart Parkinson, Martin menunjukkan bagaimana 55 juta ton itu akan membengkak bila memerhitungkan emisi siklus hidup peralatan militer serta alutsista yang dibeli sekutu NATO. Angka ini diprojeksikan mencapai 295 juta metrik ton pada 2028, lebih besar dari emisi gabungan lebih dari separuh negara di dunia. Padahal, projeksi itu pun belum menghitung emisi dari penggunaan senjata dalam perang, atau dari membangun kembali kota-kota yang diratakan bom buatan Amerika.
Kekuatan film ini, menurut beberapa resensi yang saya baca, terletak pada keputusannya untuk tidak berhenti di angka. Ia menyusuri lebih dari 800 pangkalan militer AS di setidaknya 80 negara, sebagian besar masih terus dibangun. Kamera Martin membawa penonton dari Camp Lejeune di North Carolina, tempat ratusan bayi diracuni polusi militer, hingga perairan Okinawa, tempat aktivis lokal memohon agar Amerika meninggalkan lautan mereka. Menariknya, sebagaimana disinggung dalam beberapa ulasan tentang film ini, adegan pembuka justru bukan statistik, melainkan seorang veteran tunawisma yang tinggal di perkemahan bernama Veterans Row di Brentwood, California, yang masih hafal setiap baris iklan perekrutan Angkatan Darat lama. Ini adalah sebuah metafora getir tentang bagaimana institusi ini memerlakukan mereka yang pernah mengabdi kepadanya. Sepanjang perjalanan lima tahun itu, Martin dan Prysner juga mewawancarai aktivis di berbagai lokasi, mengonfrontasi Nancy Pelosi di COP26 Glasgow, mendaki Gletser Matanuska di Alaska yang mencair, dan menumpang helikopter dalam latihan militer di Rim of the Pacific.
Sejumlah purnawirawan yang diwawancarai mengaku pernah diperintahkan membuang limbah plastik ke laut lepas dari geladak kapal perang. Bahkan cakupan ceritanya meluas hingga estimasi konservatif bahwa untuk setiap satu korban jiwa dalam perang Amerika di Irak dan Afghanistan, lebih dari 250.000 peluru telah dilepaskan. Ini adalah sebuah statistik yang menautkan kekerasan senjata secara langsung dengan jejak material dan lingkungannya. Namun, barangkali momen paling menyingkap bukan wawancara dengan jenderal atau ilmuwan, melainkan kegagalan para politisi menjawab satu pertanyaan sederhana. Martin berulang kali bertanya kepada pemimpin yang mengklaim diri sebagai penggerak solusi iklim: apakah mereka setuju emisi militer dikecualikan dari penghitungan atau tidak? Nyaris semua gagal menjawab langsung. Hanya Alexandria Ocasio-Cortez yang menjawabnya secara jujur, meski hanya syarat minimumnya.
Keniscayaan untuk Bertanya
Pertanyaan itulah yang, bagi saya, mestinya menjadi alasan utama untuk menonton film ini. Bukan lantaran filmnya melancarkan tuduhan dengan keras, tetapi karena ia memaksa penonton menghadapi kekosongan struktural yang selama ini dibiarkan begitu saja oleh jurnalisme arus utama maupun forum diplomasi iklim. Jika militer-militer dunia dihitung sebagai satu entitas, kontribusinya terhadap emisi gas rumah kaca global akan menjadikannya penghasil emisi terbesar keempat di dunia.
Sebagai seseorang yang menghabiskan sebagian besar waktu mendorong korporasi untuk transparan atas dan menurunkan jejak karbon mereka, saya menemukan ironi yang menyakitkan di sini. Kita membangun seluruh arsitektur pengungkapan ESG hingga standar asurans seperti ISSA 5000, dan kerangka pelaporan iklim yang kian ketat untuk sektor swasta, sementara satu institusi negara malah dibiarkan melapor secara sukarela, atau tidak melapor sama sekali. Ini bukan sekadar celah teknis dalam akuntansi karbon; ini adalah pertanyaan tentang siapa yang boleh disebut bertanggung jawab, dan siapa yang dikecualikan dari pertanggungjawaban itu atas dalih keamanan nasional.
Film Martin jelas bukan argumen akademis tentang metodologi penghitungan karbon semata. Ia adalah undangan untuk melihat kembali peta krisis iklim yang selama ini kita percayai sudah dipaparkan secara lengkap, tetapi memaksa kita menyadari ada satu wilayah gelap paling luas yang justru paling jarang disorot. Bukan lantaran emisinya kecil dan menjadi tidak penting, melainkan karena yang ada di baliknya terlalu berkuasa untuk dipertanyakan. Saya sendiri, setelah mendengarkan satu wawancara dan menelusuri belasan sumber lain, kini menempatkan Earth’s Greatest Enemy di urutan teratas daftar tontonan saya. Bagi siapa pun yang serius memikirkan masa depan Bumi, barangkali mencari cara menontonnya bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban untuk mengetahui apa yang selama ini sengaja tidak pernah dihitung.
–##–
Leave A Comment