Oleh: Najamuddin Khairur Rijal *

Krisis iklim yang tengah menjadi ancaman masyarakat dunia saat ini tidak lagi cukup dijawab dengan kepedulian. Ia menuntut kerja. Bukan kerja dalam arti simbolik. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara kita bekerja, merancang kebijakan, mengelola kota, mendidik anak, menanam pangan, mengatur industri, dan membayangkan masa depan.

Iklim harus berhenti diperlakukan sebagai urusan tambahan. Ia harus menjadi dasar baru dalam tata kerja bangsa. Kerja untuk iklim harus keluar dari kalender peringatan dan masuk ke denyut kebijakan, profesi, dan kehidupan sehari-hari.

Selama ini, kita terlalu lama menempatkan iklim sebagai latar belakang. Kadang dikeluhkan. Kadang dilupakan. Ketika panas menyengat, kita menyalahkan matahari. Ketika banjir datang, kita menyalahkan hujan. Ketika panen terganggu, kita menyebut musim sedang sulit dibaca. Seolah-olah semua itu hanya peristiwa alam biasa.

Padahal iklim telah menjadi aktor. Ia mampu mengubah harga pangan, mengganggu kesehatan, memengaruhi produktivitas buruh, menekan anggaran negara, menentukan masa depan nelayan, petani, pekerja informal, pelaku usaha kecil, dan anak-anak sekolah. Iklim telah masuk ke dapur, ruang kelas, pasar, pabrik, kantor, dan meja rapat pemerintah.

Masalahnya, imajinasi pembangunan kita masih sering bekerja dengan logika lama. Alam dianggap gudang bahan baku. Sungai dianggap saluran pembuangan. Hutan dianggap ruang kosong yang menunggu izin. Laut dianggap halaman belakang ekonomi. Kota dibangun seolah-olah panas, banjir, polusi, dan krisis air hanyalah gangguan teknis.

Kita sekarang hidup dalam keadaan zaman ketika tindakan manusia telah mengubah sistem bumi. Batas antara sosial dan ekologis kian runtuh. Masalah iklim bukan lagi hanya masalah atmosfer. Ia adalah masalah ekonomi politik, keadilan, kebudayaan, dan masalah cara hidup. Karena itu, bekerja untuk iklim berarti lebih dari sekadar tindakan simbolik. Kita membutuhkan etika baru yang lebih institusional, lebih struktural, dan lebih membumi.

Seorang guru bekerja untuk iklim ketika ia membantu murid memahami bahwa bumi bukan warisan pasif, melainkan rumah bersama yang rapuh. Seorang arsitek bekerja untuk iklim ketika ia merancang bangunan yang hemat energi dan ramah panas. Seorang walikota bekerja untuk iklim ketika ia tidak lagi melihat taman kota sebagai hiasan, tetapi sebagai infrastruktur kehidupan.

Seorang ekonom bekerja untuk iklim ketika ia menghitung biaya ekologis dari pertumbuhan. Seorang jurnalis bekerja untuk iklim ketika ia tidak memberitakan bencana sebagai kejadian mendadak, tetapi sebagai gejala dari tata kelola yang panjang. Dengan begitu, iklim adalah orientasi baru dalam semua profesi. Sebab, hampir semua pekerjaan modern memiliki jejak iklim.

Iklim sebagai Cermin

Iklim adalah cermin yang memperlihatkan bagaimana manusia bekerja. Ia menunjukkan apakah pekerjaan kita merawat kehidupan atau justru mempercepat kerusakan. Ia memaksa kita bertanya: untuk apa kita bekerja? Untuk siapa pembangunan dijalankan? Masa depan macam apa yang sedang kita produksi?

Ke depan, setiap kebijakan publik seharusnya memiliki pertanyaan iklim. Apakah proyek ini membuat warga lebih tahan terhadap banjir, panas, kekeringan, dan krisis pangan? Apakah investasi ini membuka pekerjaan yang layak sekaligus rendah karbon? Apakah tata ruang ini memberi ruang bagi air, pohon, udara bersih, dan mobilitas publik? Apakah anggaran daerah memperlakukan adaptasi iklim sebagai kebutuhan dasar, bukan aksesori teknokratik?

Sebagai negara kepulauan, kita hidup dengan garis pantai panjang, kota-kota pesisir, hutan tropis, keanekaragaman hayati, dan jutaan warga yang bergantung pada alam. Bagi Indonesia, krisis iklim tentu bukan isu jauh. Ia basah di musim hujan, kering di musim kemarau. Ia mahal di pasar, terasa di tubuh pekerja yang kepanasan, dan sunyi di desa yang gagal panen.

Karena itu, bekerja untuk iklim adalah agenda kerakyatan. Yang paling rentan terhadap krisis iklim sering kali bukan penyebab terbesarnya. Petani kecil, nelayan tradisional, buruh harian, warga pesisir, anak-anak, dan lansia menanggung risiko paling nyata. Kita tidak sedang menyelamatkan bumi secara abstrak, tapi sedang menyelamatkan syarat-syarat hidup bersama.

Maka, saatnya menggeser bahasa dari “peduli iklim” menuju “bekerja untuk iklim”. Peduli bisa berhenti pada perasaan. Bekerja menuntut disiplin. Peduli bisa muncul saat bencana. Bekerja berlangsung sebelum bencana. Peduli sering bersifat simbolik. Bekerja harus masuk ke anggaran, kurikulum, desain kota, standar industri, riset kampus, tata ruang, dan kebiasaan sehari-hari.

Krisis iklim tidak menunggu kita siap, tidak menunggu konsensus politik. Ia bergerak melalui panas, air, angin, gagal panen, penyakit, dan kerentanan sosial. Karena itu, tidak cukup dengan kecemasan, pernyataan, dan juga seremoni.  Kita harus bekerja.

Saatnya bekerja untuk iklim. Karena, kita tidak akan baik-baik saja tanpa bumi yang tetap layak dihuni. Bekerja untuk iklim, adalah cara paling waras untuk tetap bekerja bagi manusia.

–##–

* Najamuddin Khairur Rijal adalah Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Muhammadiyah Malang