Oleh: Jalal

“Waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu. Waktu terbaik kedua adalah sekarang.” – Pepatah Tiongkok

Perempuan berusia 60 tahun itu berdiri di tepi hamparan yang beberapa dekade lalu tak lebih dari lautan pasir yang gersang. Ia menatap kamera dan berkata, “Mr. Sakolsky, jika Anda melihat video ini, saya ingin mengundang Anda ke Tiongkok untuk melihat hutan yang tumbuh dari 5.000 dolar yang Anda sumbangkan.”

Klip itu diunggah ke media sosial Tiongkok pada 16 Mei 2026. Dalam hitungan beberapa jam saja, ia menjadi viral. Dan dalam waktu kurang dari 48 jam, sebuah panggilan telepon menjembatani dua benua yang saat ini lebih sering dilihat sebagai arena persaingan geopolitik daripada ruang persahabatan manusia. Di ujung telepon itu, suara Ronald Sakolsky, 69 tahun, guru sejarah yang kini sudah pensiun di Amerika Serikat, terdengar penuh keheranan dan keharuan: “It’s amazing! It’s amazing to me! I can’t believe we are talking.”

Ini adalah kisah tentang USD5.000, 50.000 pohon, dan bukti bahwa kebaikan tidak mengenal batas kewarganegaraan. Kisah ini menjadi viral di seluruh dunia, dan saya termasuk di antara jutaan orang yang sungguh terharu, dan merasa sangat terinspirasi, oleh apa yang dicapai oleh dua orang di kedua ujung telepon tersebut.

Pengantin yang Mewarisi Padang Pasir

Ketika Yin Yuzhen yang berusia 19 tahun menikah dan pindah dari Provinsi Shaanxi ke desa baru asal suaminya pada tahun 1985, ia disambut oleh kenyataan yang tak terbayangkan sebelumnya: sebuah lubang setengah terkubur pasir. Rumahnya adalah gua yang digali di lereng bukit pasir. Ia harus membungkuk untuk masuk, dan lantainya dilapisi rumput serta kayu kering. Di mana-mana hanya pasir dan kesunyian.

Maowusu atau Mu Us adalah padang pasir keempat terbesar di Tiongkok, hamparan seluas 42.200 kilometer persegi di Inner Mongolia yang selama berabad-abad terus menggerogoti tanah pertanian dan memaksa generasi demi generasi mengungsi. Badai pasir bisa berlangsung lebih dari sebulan. Pasir menutupi segalanya dan menggelapkan kehidupan.

Yin bisa saja menyerah seperti yang dilakukan banyak orang sebelumnya. Tapi ia justru mengambil sekop. “Lebih baik aku menanam pohon hingga kelelahan daripada membiarkan pasir menguburku hidup-hidup,” begitu kata Yin. Ia membawa sekitar 50 bibit dari rumah ibunya di musim semi pertama. Angin menghancurkan semuanya, kecuali 2 bibit saja. Ia lalu menjual ternak keluarga untuk membeli 600 bibit. Dari 600 itu, hanya 12 yang bertahan. Namun 12 bibit yang hidup itu kemudian menjadi fondasi dari sesuatu yang luar biasa.

Yin belajar dari kegagalan demi kegagalan dengan metodologi seorang ilmuwan otodidak. Ia menyimpulkan bahwa semak belukar harus ditanam terlebih dahulu sebelum bibit pohon, agar bisa melindunginya dari angin. Ia dan suaminya, Bai Wanxiang, mengambil pekerjaan serabutan—membangun rumah, mengerjakan ladang orang lain—bukan untuk mendapatkan upah berupa uang, melainkan untuk langsung ditukar dengan bibit pohon. Setelah mendapatkan bibit-bibit pohon dari hasil kerjanya, ia mengikat semua bibit dengan tali rami dan memikulnya di punggung, lalu berangkat ke atas bukit-bukit pasir.

Antara 1985 dan 1999, Yin dan suaminya sudah menanam bibit di lahan seluas hampir 2.667 hektare. Tidak ada mesin berat. Tidak ada bantuan dari negara. Hanya dua pasang tangan, keringat yang bercucuran, dan keyakinan yang oleh siapa pun di luar sana mungkin akan disebut nekat kalau bukan malah dibilang gila.

Seorang Guru yang Menyaksikan Keajaiban

Pada 1999 hingga 2000, Ronald Sakolsky mengajar bahasa Inggris di Luoyang, Provinsi Henan, sebagai bagian dari program pertukaran guru. Luoyang, kota di tepi Sungai Luo dengan sejarah 4.000 tahun dan kuil Buddha termasyhur Longmen, adalah dunia yang jauh berbeda dari gurun Inner Mongolia.

Suatu malam, Sakolsky menyaksikan kisah Yin dalam sebuah segmen televisi. Ia langsung tergerak oleh semangat perempuan itu yang tak mau tunduk. Sakolsky menulis surat ke berbagai institusi di Amerika Serikat. Ia tak mendapatkan balasan menggembirakan dari manapun, sampai akhirnya sebuah lembaga di Boston, Massachusetts, setuju untuk menyumbangkan USD5.000 bagi upaya penghijauan yang dilakukan oleh Yin.

Bagi Sakolsky, itu jumlah yang cukup berarti. Bagi Yin, jumlah itu kolosal. “Saya tidak pernah melihat begitu banyak uang sebelumnya. Ia memberi saya jumlah itu, dan saya membeli begitu banyak bibit berkualitas baik dengannya… Saya selalu memikirkannya. Saya ingin memberitahunya bahwa saya berhasil. Saya tidak menyia-nyiakan uangnya.” Begitu kata Yin di sebuah wawancara baru-baru ini.

Pada saat itu, USD5.000 bisa membeli apartemen seluas 400 meter persegi, atau pakaian mewah seumur hidup. Tapi Yin benar-benar hanya memilih bibit pohon. Dari semua uang itu, ia hanya menyisakan satu dolar sebagai kenang-kenangan hingga sekarang.

Pada tahun 2000, lantaran jasanya diapresiasi oleh Pemerintah Tiongkok, Sakolsky melakukan perjalanan ke Maowusu untuk dipertemukan dengan Yin secara langsung. Apa yang ia saksikan melampaui imajinasinya. Di tengah hamparan pasir yang masih mendominasi cakrawala, Yin sedang menanam pohon hanya dengan sekop dan pikulan tradisional, mengikat bibit setipis jari dengan tali rami. “Ketika Sakolsky datang, ia terus mengulang kata ‘mustahil’,” kenang Yin. Tapi kerja Yin dan donasi yang diupayakan Sakolsky membuat yang ‘mustahil’ itu menjadi mungkin. Di sini saya teringat kata-kata yang kerap diatribusikan kepada Nelson Mandela: “It always seems impossible until it’s done.”

Sakolsky menatap hamparan bukit pasir yang ditaburi bibit-bibit muda itu dan berkata dengan sungguh-sungguh kepada Yin: “You are incredible.” Itu adalah kalimat terakhir yang didengar Yin, hingga percakapan telepon mereka terjadi beberapa hari lalu.

Setelah masa tugasnya di Tiongkok berakhir, Sakolsky langsung kembali ke Amerika Serikat. Keduanya kehilangan kontak. Selama bertahun-tahun, Yin tetap di Maowusu, menanam pohon setiap hari. Sakolsky telah pensiun sebagai guru, kembali ke Pennsylvania, dan mungkin sesekali mengenang perjalanannya ke Tiongkok dua dekade lampau, tanpa tahu apa yang telah tumbuh dari benih kebaikannya.

Netizen sebagai Jembatan Antarbangsa

Inilah paradoks zaman kita: di saat diplomasi antara Washington dan Beijing sering dibungkus kecurigaan, dihantui perang tarif, dan dipenuhi retorika perang dingin baru—ternyata di jaringan internet rakyat bisa dan biasa mengerjakan sesuatu yang jauh lebih bermakna daripada basa-basi diplomatik yang baru saja kita semua saksikan.

Video Yin yang memohon ‘dunia’ untuk menemukan Sakolsky itu menyebar luas di media sosial, mengungkap kisah persahabatan lintas-batas yang telah terjalin sejak 1999. Para netizen, termasuk mantan murid dan kolega Sakolsky, merespons. Hasilnya: reuni singkat melalui telepon itu.

“That would be so awesome! I can’t wait,” kata Sakolsky dalam percakapan telepon dengan Bai Fan, mantan wakil kepala sekolah Luoyang No. 2 Foreign Language School, setelah mendengar bahwa pohon-pohon yang ia danai telah tumbuh menjadi hutan, dan mengundang Sakolsky untuk menyaksikannya secara langsung. Melihat transformasi itu lewat video, Sakolsky lagi-lagi hanya bisa berkata: “Amazing.”

Video percakapan mereka kini juga viral dan bisa disaksikan di banyak kanal. Di kolom komentar atas video call mereka, seorang pengguna Xiaohongshu menulis komentar yang mendapatkan banyak perhatian dari seluruh dunia: “Orang Tiongkok mengingat setiap hutang budi. Kau beri aku setetes air, aku kembalikan samudra.”

Kerja yang Terus Menginspirasi

Lebih dari 50.000 pohon dewasa dan kokoh kini membentuk hutan yang subur dari sumbangan Sakolsky, menstabilkan bentang alam Maowusu yang dulunya gersang. Selama 39 tahun, Yin terus bertahan dalam upaya penghijauan dan pengendalian desertifikasi, dan berhasil menghapus 4.666 hektare padang pasir dan menciptakan hamparan hijau bagi masyarakat setempat.

Data resmi menunjukkan bahwa 560.000 hektare padang pasir di Uxin Banner, Ordos, kini telah dipulihkan dengan vegetasi, dengan tingkat pengendalian desertifikasi mencapai 85 persen dan tutupan hutan meningkat hingga 32,92 persen. Kancil, rubah, dan burung-burung yang tidak terlihat selama puluhan tahun kini kembali menghuni kawasan itu. Kondisi itu diantaranya diilhami oleh upaya Yin yang didukung Sakolsky.

Kisah tersebut juga menginspirasi banyak orang lain. Relawan Amerika bernama Yin Yifan, terinspirasi oleh komitmen Yin Yuzhen, telah bergabung dalam penanaman pohon di Maowusu sejak 2015 dan menanam lebih dari 2.000 pohon. Seorang pendidik Tionghoa-Amerika berusia 76 tahun, Lyu Shaofang, baru-baru ini datang dari California ke Inner Mongolia untuk menanam bibit-bibit pohon di sana.

Kerja keras Yin mengantarkannya menjadi pekerja teladan nasional juga pahlawan nasional pengendalian gurun. Pada 2017, ia berbagi pengalamannya di Konvensi PBB untuk Memerangi Desertifikasi. Ia juga pernah dinominasikan untuk Nobel Peace Prize pada 2005.

Pelajaran bagi Dunia dan Indonesia

Bagi saya, kisah ini bukan sekadar tentang pohon. Ini tentang apa yang bisa terjadi ketika seorang manusia, tanpa sumberdaya memadai, tanpa teknologi canggih, tanpa dukungan institusional, memutuskan bahwa ia akan mengubah dunianya. Dan tentang apa yang mungkin terjadi ketika seorang manusia yang berasal dari belahan dunia lain melihat tekad itu dan memilih untuk peduli.

Di Indonesia, di mana degradasi hutan dan lahan dari Sumatera hingga Papua, dan abrasi pesisir terus mengancam keberlanjutan ekosistem, kisah Yin Yuzhen seharusnya bergema kuat. Negeri ini sesungguhnya memiliki ribuan ‘Yin Yuzhen’, para perempuan dan lelaki di desa-desa tepi hutan, di tepian sungai yang mengering, di pesisir yang terkikis, yang hanya membutuhkan apa yang pernah diberikan Sakolsky: kepercayaan penuh, dan modal yang cukup untuk memulai. Itu cukup untuk mengubah gurun menjadi sabuk hijau tempat satwa liar berlindung, juga kehidupan seluruh warga desa bergantung.

Tidak ada algoritma Kecerdasan Buatan yang merancang hutan ini. Tidak ada konferensi COP berjilid-jilid yang memandatkannya. Tidak ada pula hiruk-pikuk rapat kebijakan dan strategi di hotel mewah. Hanya seorang perempuan belia yang tidak punya apa-apa selain kemauan, dan seorang guru asing yang tergerak oleh sebuah siaran televisi, membuktikan bahwa jembatan antara dua dunia yang saling curiga bisa dibangun—dengan sekop, bibit, dan sedikit kepercayaan kepada sesama manusia.

–##–