Oleh: Rini, Finarti, Fuyatri, La Ode Arifudin *

Istilah pendekar biasanya ditujukan untuk orang yang memiliki keahlian seni bela diri dan menggunakan keahliannya tersebut untuk membela kebenaran, membela yang lemah dan tertindas, atau menegakkan keadilan dengan menentang kekuatan penindas. Kata pendekar juga biasanya digunakan untuk mendeskripsikan seseorang yang tangguh dan berani. Dalam dunia konservasi dibutuhkan sosok yang memiliki sifat tersebut untuk memperjuangkan kelestarian, khususnya di Wakatobi. Maka, muncullah gagasan Pendekar Lingkungan di Taman Nasional Wakatobi (TNW). Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa TNW merupakan surga keanekaragaman hayati, yang terbentang dari laut, pesisir, hingga daratan, yang membentuk satu-kesatuan bentang alam (landscape). Namun, ibarat pisau bermata dua, kekayaan alam yang memesona ini menjadi tantangan yang cukup berat untuk dijaga kelestariannya. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, oleh karena itu maka merangkul dan melibatkan berbagai pihak dalam upaya efektivitas pengelolaan menjadi suatu hal yang penting.

Gagasan Ular Tangga Pendekar Lingkungan ini sendiri berawal dari semangat untuk merangkul semua orang dalam upaya pelestarian kawasan TNW terutama kelompok anak-anak yang kerap kali terabaikan dalam bentuk permainan yang menyenangkan dan menghibur. Melalui kolaborasi antara Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan Balai Taman Nasional Wakatobi (BTNW), kelompok ini kemudian dilibatkan dalam kampanye konservasi menjaga alam Wakatobi.

Pendekar Lingkungan sendiri dapat diartikan sebagai upaya untuk menarik minat generasi muda dalam mengenal alam dan mengajaknya untuk lebih peduli terhadap kondisi alam Taman Nasional Wakatobi. Metode ini disesuaikan dengan karakteristik pelajar sekolah dasar yang memiliki kecenderungan untuk bereksplorasi, bermain, berlomba, dan memiliki rasa penasaran yang tinggi. Dengan adanya gelar “Pendekar Lingkungan” maka akan mendorong kepercayaan diri dan minat mereka untuk mengenal alam sedari dini, sehingga pada akhirnya ajakan-ajakan dalam menjaga dan melindungi alam Wakatobi lebih mudah untuk ditanamkan dalam diri dan perilaku hidup sehari-hari.

Game Ular Tangga Pendekar Lingkungan ini pertama kali dicetuskan dan diterapkan pada bulan September 2020 di Desa Kulati untuk kalangan anak-anak SDN Kulati, yang kemudian lebih lanjut dipopulerkan pada pelajar sekolah dasar di Pulau Kaledupa dan Pulau Tomia pada tahun 2022. Permainan ular tangga ini dirancang untuk memberikan pengetahuan kepada para “Pendekar Lingkungan” mengenai kegiatan yang mendukung konservasi ataupun kegiatan yang dapat berdampak pada kerusakan alam melalui permainan yang dapat menarik minat anak-anak.

Lelah dan menyenangkan, dua hal tersebut yang dapat tergambarkan dari peserta dimana mereka sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini. Dengan adanya kegiatan ini menjadi sebuah pelajaran penting yang dapat dipetik yaitu pelajar Sekolah Dasar sangat memerlukan bantuan kita untuk mengenali lebih jauh seputar alam dan lingkungan, dengan pemberian julukan “Pendekar Lingkungan” tentu dapat menarik antusias mereka, dan pada akhirnya dapat merubah perilaku hidup mereka dalam kehidupan sehari-hari dan bukan tidak mungkin kedepannya akan menjadi pionir konservasi yang dapat menjaga alamnya tetap lestari dan berkelanjutan.

Menjadi Pendekar Lingkungan tidaklah sulit diterapkan apabila dibarengi dengan komitmen tinggi dalam melihat bahwa generasi muda sesungguhnya merupakan agen perubahan dalam melindungi dan memanfaatkan sumberdaya di kawasan Taman Nasional Wakatobi di masa depan secara berkelanjutan. Sudah seharusnya kita tidak memandang sebelah mata mereka dan membuka ruang belajar bagi generasi muda Wakatobi tentang arti penting menjaga dan memanfaatkan alam dengan baik.

–##–

* Artikel ini ditulis bersama oleh: Rini (Penyuluh Kehutanan BTNW); Finarti (PEH BTNW); Fuyatri (PEH BTNW) dan La Ode Arifudin (Wakatobi Program Koordinator YKAN).