Oleh: Asikin Chalifah *

Seringkali kita mendengar akronim “pengacara” yang disampaikan oleh seseorang ketika ditanya tentang pekerjaannya. Kependekan huruf dan suku kata (akronim) ini bukan dimaknai sebagai profesi penasehat hukum, akan tetapi merupakan kependekan dari “pengangguran banyak acara”, suatu guyonan yang terkait dengan orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan akan tetapi memperlihatkan kesibukan kesana kemari.

“Pengangguran” dalam tulisan ini dimaksudkan sebagai suatu kegiatan melakukan usaha tani tanaman anggur. Bisnis budi daya tanaman anggur belakangan memang mulai banyak digandrungi oleh masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Tidak terkecuali yang dilakukan oleh sebagaian besar masyarakat di Dusun Plumbungan, Desa Sumbermulya, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Pada awalnya di Desa Sumbermulya ini, hanya satu orang yang memiliki dan sekaligus sebagai praktisi tanaman anggur. Kemudian tahun 2017 usaha tanaman anggur mulai berkembang di Desa Sumbermulya atas inisiasi dari 5 (lima) orang anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat.

Hingga kini, sudah sekitar 150-200 kepala keluarga di Desa Sumbermulya yang mengusahakan tanaman unggur. Berbagai jenis anggur dari luar negeri saat ini banyak menghiasi beberapa rumah di Desa Sumbermulya. Dengan potensi yang dimiliki pada akhirnya Desa Sumbermulya didorong menjadi desa wisata yang berbasis pada pengusahaan tanaman anggur.

Meskipun belum rutin, mulai terlihat wisatawan yang berkunjung ke Desa Sumbermulya untuk melihat-lihat sekaligus menikmati langsung beragam buah anggur. Kunjungan-kunjungan wisatawan ini menjadikan produksi buah anggur sudah ludes di tempat, belum perlu dipasarkan di pasar buah tradisional maupun ritel.

Tidak hanya dalam budi daya tanaman anggur, masyarakat juga mulai melakukan diversifikasi usaha dengan melakukan penjualan bibit tanaman anggur hasil dari sambung pucuk (grafting) serta olahan buah anggur menjadi dodol serta daun tanaman anggur yang dibuat menjadi kripik.

Tidak jarang masyarakat baik dari daerah maupun di luar daerah Yogyakarta yang tertarik mengikuti kegiatan pelatihan atau magang untuk memulai mengusahakan tanaman anggur di masing-masing daerahnya. Oleh karena itu, perlu dikakukan pendampingan/pengawalan oleh tenaga teknis pada masyarakat Desa Sumbermulya yang mengusahakan tanaman anggur agar dapat membudidayakan dan melakukan penanganan lepas panen dengan baik dan benar.

Selain itu, masyarakat juga perlu di dorong untuk melakukan penjaminan keamanan dan mutu tanaman anggurnya untuk mendapatkan registrasi/izin edar sesuai tuntutan konsumen.

Keberadaan KWT sebagai organisasi berhimpunnya perempuan-perempuan di Desa Sumbermulya perlu ditingkatkan kapasitasnya menjadi Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S). Dengan menjadi P4S diharapkan mendapatkan fasilitasi dari pemerintah dalam hal peningkatan kemampuan SDM (alih teknologi/keterampilan), sarana/prasarana pelatihan/permagangan dan akses pasar baik domestik maupun global.

Tidak sedikit P4S terutama yang pengurusnya dari alumni magang di Jepang merajut kemitraan usaha dan ekspor hasil usaha taninya. Potensi “pengangguran” di Desa Sumbermulya sangat memungkinkan untuk semua itu.

–##–

* Asikin Chalifah adalah Pembina Rumah Literasi (RULIT) WASKITA, Kedungtukang, Brebes.