Oleh: Rully Raki

Sekelompok anak muda di kota Ende yang berasal dari Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat St Ursula bekerjasama dengan AMC (Anak Muda Claretian) Paroki St. Marinus Puurere, dan SMA Katolik Syuradikara melakukan gerakan penghijauan di daerah Pekuburan Aebambu-Kabupaten Ende-NTT, pada hari Sabtu 23 Oktober 2021 pagi pukul 09.00 Wita.

Penghijuan itu dibuat di sekitar wilayah Aebambu. Wilayah ini merupakan daerah pekuburan paroki St Marinus Puurere dan St. Yoseph Onekore, Ende. Kegiatan itu diawali dengan doa bersama lalu dilanjutkan dengan penanaman pohon secara simbolik oleh Pastor dari Paroki Puurere, Dosen Pendamping STPM St. Ursula serta Perwakilan mahasiswa dan anak muda dari AMC.

Setelah itu, para mahasiswa, bersama pihak AMC dan diikuti kemudian oleh anak-anak SMAK Syuradikra melanjutkan dengan penanaman pohon sekitaar 200 bibit pohon di sekitar wilayah yang luasnya kurang lebih 2 Ha.

Dari sudut akademis, gerakan ini dibuat sebagai salah bentuk konkret atau praktik dari mata kuliah Gerakan Sosial dan Pembangunan. Ide tentang gerakan sosial dalam bentuk ini berangkat dari keresahan dan kepekaan akan peristiwa meluapnya air hujan yang sering terjadi di Kota Ende. Hal ini terjadi akibat hilangnya daerah resapan karena semenisasi yang sudah terjadi selama 10 tahun terakhir.

Menurut Echa Nusa sebagai ketua panitia Mahasiswa STPM St. Ursula yang terlibat dalam kegiatan ini, bahwa kegiatan ini menunjukan kegiatan yang penting karena orang-orang muda bisa membantu mengurangi resiko bencana alam, memperindah lingkungan dan menunjukkan kecintaan anak muda terhadap alam dan lingkungan.

Gerakan ini juga bisa memupus kecenderungan anak-anak muda sekarang yang kegiatannya hanya kuliah lalu terus pulang ke kost tanpa membuat hal yang berguna. Hal ini didukung oleh Mira Rima, sebagai salah satu mahasiswi yang mengatakan kegiatan ini akan memberikan manfaat membuat komplek pekuburan menjadi lebih teduh nantinya.

Lebih jauh, Ekawati, sebagai koordinator lapangan pihak AMC, mengatakan bahwa gerakan ini berawal dari agenda lanjutan Workshop menganai Linkungan Hidup dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ende beberapa waktu yang lalu. Aplikasi dari hasil workshop itu baru bisa dieksekusi pada kegiatan penghijuan ini.

Untuk itu, ia berterimakasih pada teman-teman dari STPM St. Ursula dan adik-adik SMAK Syuradikara untuk keterlibatnya. Ekawati melanjutkan kalau anak-anak muda perlu diberikan ruang untuk berkreasi. Masalah yang selama ini dialami ialah kurangnya wadah untuk itu. Kegiatan ini dapat menunjukan anak-anak muda kepedulian dan kontribusi bagi lingkungan hidup.

Sementara Pater Paul Djeraman, CMF sebagai Pastor pendamping AMC mengatakan gerakan penghijauan itu merupakan salah satu aksi perwujudan dari mimpi “Ende Peduli Lingkungan”. Gerakan ini menarik karena gagasan dan eksekusi dilapangan dibuat oleh anak-anak muda sendiri.

“Kegiatan ini bisa menepis anggapan bahwa bahwa anak-anak muda tidak peduli pada lingkungan dan masa depan  bumi. Kuncinya cuman satu: Terus memberi ruang kpd anak-anak muda ini untuk berkreasi, melahirkan ide-ide bernas dan percayakan kepada mereka untuk mengeksekusi die-ide berlian itu,” tandas beliau.

Semantara pendamping bertugas untuk mendukung, mendampingi dan memastikan bahwa program berjalan dengan baik. Mengutip kata-kata Paus Fransiskus: They are the Now of God. Anak muda adalah masa kini Allah, tambah Pastor Katolik yang berasal dari Manggarai itu.

Secara tidak langsung gerakan ini bisa membantu menahan air dan menambah menghasilkan oksigen, kesejukan dan suasana hijau yang mungkin akan terjadi di waktu yang akan datang bisa membantu memberikan wajah yang lebih segar bagi wilayah istirahat terakhir (pekuburan) orang-orang yang dimakamkan di sana.

Pekuburan pun perlu dihijaukan sehingga yang meninggal bisa beristirahat dalam keteduhan alam. Untuk mengawal keberhasilan program ini, para mahasiswa STPM dan AMC telah membuat pembagian kelompok untuk mengecek perkembangan bibit pohon yang telah ditanam. Ini dibuat dengan tujuan agar kegiatan yang telah dibuat tidak mubazir.

Mungkin ini merupakan gerakan yang kecil dan sedarhana. Namun yang kecil dan sederhana ini bisa menjadi contoh dan pemantik bahwa anak-anak muda sehingga mejadi individu-individu yang peka dan tanggap atas situasi sosial kemasyarakatan dan menjadi agen perubahan ke arah yang lebih baik. Besar harapan bahwa ke depan muncul banyak kegiatan serupa.

–##–