Sebanyak 931 juta ton makanan dibuang, saat ratusan juta penduduk dunia kelaparan setiap tahun.
Data yang menyedihkan ini terungkap dari laporan terbaru yang diproduksi oleh Program Lingkungan PBB (UNEP) dan organisasi mitra, WRAP, berjudul Food Waste Index Report 2021.
Laporan yang diluncurkan tanggal 4 Maret ini menyatakan, total 17% makanan di seluruh dunia dibuang-buang begitu saja oleh konsumen, produsen dan pedagang. “Lebih dari 931 juta ton makanan yang dijual pada 2019 berakhir di tempat sampah,” tulis laporan ini.
Laporan tersebut memperkirakan hampir 570 juta ton sampah makanan ini berasal dari rumah tangga. Sisanya berasal dari industri makanan dan peritel. Sehingga jika di rata-rata, setiap penduduk dunia membuang-buang 74 kg makanan setiap tahun.
Angka ini menurut laporan UNEP hampir sama baik di negara berpenghasilan menengah ke bawah hingga di negara berpenghasilan tinggi. Sehingga semua negara memiliki ruang untuk beraksi mengurangi jumlah makanan yang terbuang ini.
Laporan UNEP juga mencatat, makanan juga hilang saat proses produksi dan distribusi, di ladang pertanian dan rantai pasokan, sehingga secara keseluruhan, sepertiga makanan yang diproduksi di bumi terbuang tidak pernah dikonsumsi.
Padahal, banyak bahan makanan yang diproduksi dengan merusak alam, merusak hutan dan lingkungan sekitar. Di Indonesia misalnya, program food estate dikhawatirkan akan memicu alih guna hutan alam menjadi lahan pertanian dengan luas total mencapai 2,1 juta hektar.
Semakin banyak hutan alami yang dikonversi, risiko bencana, seperti banjir dan karhutla yang saat ini banyak terjadi di Indonesia, serta hilangnya keanekaragaman hayati serta kepunahan spesies akan terus meningkat. Belum lagi masalah limbah dan polusi dari makanan yang dibuang sembarangan.
“Jika kita ingin serius menangani perubahan iklim, kerusakan alam dan keanekaragaman hayati, serta polusi dan limbah, pebisnis, pemerintah, dan warga di seluruh dunia harus berpartisipasi untuk mengurangi limbah makanan,” kata Inger Andersen, Direktur Eksekutif UNEP.
Mengurangi limbah makanan juga berperan penting dalam aksi perubahan iklim. Laporan UNEP menunjukkan, 8-10% emisi gas rumah kaca global berasal dari makanan yang tidak dikonsumsi.
“Mengurangi limbah makanan akan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca, mencegah kerusakan alam akibat konversi lahan dan polusi, meningkatkan ketersediaan makanan, mengurangi kelaparan, serta menghemat uang saat terjadi resesi,” ujar Inger Andersen. Data UNEP menggarisbawahi, pada 2019, sekitar 690 juta orang terdampak kelaparan dan 3 miliar lainnya tidak mampu membeli makanan sehat. Sebuah ironi.
Pandemi COVID-19 berpotensi memperburuk angka-angka ini. Sehingga laporan penelitian UNEP ini menyeru kepada setiap orang untuk tidak menyia-nyiakan, serta membuang-buang makanan di rumah, di restoran, di toko, di mana saja.
UNEP juga mendorong upaya penanggulangan limbah makanan dimasukkan dalam Nationally Determined Contributions (NDC), sebagai wujud komitmen negara-negara dunia dalam Persetujuan Paris.
Pengurangan limbah makanan per kapita/penduduk hingga separuhnya juga menjadi target Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 12.3. Aksi ini bisa diterapkan di level rumah tangga, industri dan peritel, termasuk mengurangi makanan yang terbuang saat produksi dan distribusi. Sudah selayaknya kita mendukung aksi mulia ini.
Redaksi Hijauku.com
Leave A Comment